[OPINI] Surat Edaran Penyesuaian UKT: Apakah Sudah Cukup?

Sumber Gambar : http://redaksibdg.wordpress.com/
 
 
Oleh : Lala*
Kuliah daring yang mulai diterapkan oleh Universitas Diponegoro (Undip) di tengah merebaknya Covid-19 ini memang membuat saya menjadi ketar-ketir. Pasalnya, selain menjadi gemar ketiduran di saat pembelajaran, terpikirkan bagaimana nasib Uang Kuliah Tunggal (UKT) teman-teman saya kelak. Saya yang beruntung menjadi penerima Bidikmisi tidak bisa hanya berdiam diri melihat teman-teman saya yang kebingungan bagaimana membayar UKT di tengah pandemi ini. Bukan berarti saya yang menerima Bidikmisi ini bisa santai dan tenang. Ayah saya kehilangan pekerjaan karena adanya pandemi ini dan akhirnya harus bekerja sebagai tukang kayu di dekat rumah yang sebenarnya juga tengah sepi orderan. Ibu tidak bekerja dan masih punya tanggungan tiga anak yang sedang kuliah dan sekolah. Akankah permasalahan UKT ini hanya menjadi omongan antar mahasiswa saja?
Saat grup Whatsapp kelas membahas bagaimana cara melobi dosen agar deadline tugas diperpanjang, tiba-tiba salah satu dari anggota grup mengirim sebuah file yang ternyata berisi surat edaran nomor 31/UN7.P/SE/2020 tentang penyesuaian UKT dikarenakan adanya Covid-19 bagi mahasiswa lama. Membaca judulnya saja sudah mulai semringah, apakah ini jawaban atas pertanyaan saya selama ini? Tapi kok hanya satu semester? Memang bisa memprediksi kalau Covid-19 selesai di semester ganjil 2020/2021? Bukan berarti jika Covid-19 selesai di tahun ini, ekonomi masyarakat akan cepat bangkit. Semua butuh proses dan penyesuain tersendiri. Pertanyaan makin menumpuk di benak saya. Alih-alih mendapat kabar gembira, saya malah mendapat kabar penyesuain UKT memiliki persyaratan yang sangat rumit dan memakan banyak biaya yang sangat membebani di  saat pandemi. Abi Praya, jurusan D3 Kearsipan 2018 yang mendapat UKT golongan 7 karena masuk lewat jalur Ujian Mandiri (UM), bercerita jika penyesuaian UKT yang hanya satu semester itu tidak sesuai, perekonomian keluarga pun tidak tahu kedepannya bagaimana. Sekarang ia bisa dikatakan cukup atau mampu, tapi bisa saja semester depan nanti perekonomiannya menurun dratis. Perekonomian keluarganya bisa dikatakan menengah ke bawah. Ayahnya seorang petani dan ibunya berprofesi sebagai guru les musik. Dengan adanya Covid-19, sangat terasa bagaimana kesusahan itu sampai-sampai harus rela menumpang

Lain hari, saya mendapat cerita yang senada dari seorang kawan bernama Titah Wahyu Intaran mahasiswi jurusan Bahasa dan Kebudayaan Jepang 2018 yang mengungkapkan kekecewaan kalau penyesuaian UKT hanya satu semester. Baginya, sekalipun pandemi sudah mereda, ekonomi tidak langsung balik seperti sebelumnya, ia juga harus hidup menghemat demi pengeluaran kuota yang cukup ekstra karena baru mendapat subsidi kuota di bulan Juni kemarin. 

Cerita-cerita tadi mungkin hanya segelintir dari mahasiswa yang merasa kecewa jika penyesuaian UKT berlaku satu semester saja. Sekali lagi saya mulai bertanya-tanya lagi apakah dari pihak Undip akan membuat regulasi baru menanggapi hal ini? Atau, ya, sudah nikmati saja jika harus bayar UKT meski masih ada Covid-19.

*Penulis merupakan mahasiswa Sastra Indonesia Undip
Editor : Qanish

2 thoughts on “[OPINI] Surat Edaran Penyesuaian UKT: Apakah Sudah Cukup?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top