[OPINI] Realita Cita-cita: Impian atau Paksaan?

 

Ilustrasi: Raihan

Oleh: Oliviana Senja

Mayoritas orang memiliki gambaran untuk menjadi apa di masa depan atau mungkin juga mereka sudah diarahkan untuk menjadi apa di masa depan. Gambaran atau arahan itulah yang kita sebut dengan cita-cita. Sejatinya, cita-cita adalah suatu hal atau gambaran yang
berasal dari angan seseorang yang memiliki tekad untuk merealisasikannya. Namun dalam realitanya banyak orang yang cita-citanya sudah ditetapkan atau bahkan asal menjiplak orang lain.
 
Banyak alasan yang melatarbelakangi kegagalan mereka menggapai mimpi yang mereka cita-citakan. Kegagalan tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor baik dari dalam maupun luar diri mereka. Namun faktor yang kerap kali menghambat seseorang dalam menggapai cita-citanya salah satunya adalah paksaan dari orang tua.
 
Cara mendidik yang biasanya dilakukan oleh orang tua dalam kasus seperti ini adalah authoritarian parenting atau cara mendidik orang tua yang terkesan otoriter. Dalam cara mendidik yang seperti ini, orang tua akan merasa yakin bahwa pilihan yang mereka ambil untuk anak-anaknya adalah selalu benar. Maka apabila anak menunjukkan ketidakpatuhannya, mereka tidak akan segan-segan untuk membuat anak-anaknya patuh kembali meskipun harus mengancam atau yang lebih parah melalui kekerasan.
 
Orang tua yang seperti itu sering kali berekspektasi tinggi terhadap anak-anaknya hingga mengabaikan keinginan anak-anaknya. Sering kali pula mereka mulai mendikte anak-anaknya untuk melakukan sesuatu bahkan menginginkan sesuatu. Seperti menyuruh anak-anaknya untuk pandai dalam mata pelajaran IPA dan matematika agar dapat masuk jurusan kedokteran atau menyuruh anaknya menjadi insinyur, pilot, atau menjadi aparatur
sipil.
 
Memiliki orang tua yang otoriter tentunya menjadi momok bagi sebagian orang. Sebagian anak mungkin saja akan memberontak dalam menghadapi didikan orang tua mereka yang terkesan mengatur agar dapat hidup sesuai prinsip dan cita-cita mereka. Namun sebagian yang lain akan pasrah pada keadaan dan menerima cara didikan orang tua mereka yang otoriter tersebut. Mereka yang cenderung pasrah akan menyerah terhadap kebebasan dan cita-cita mereka.
 
Maraknya kasus orangtua yang mendidik secara otoriter tentunya menyebabkan banyak anak yang menyerah akan cita-citanya demi “membahagiakan” orang tua. Hal tersebut tentunya juga berdampak bagi anak. Sikap otoriter yang banyak mengatur gerak-gerik dan
keinginan anak akan berakibat pada kondisi psikis anak. Hal  yang mungkin terjadi adalah mereka akan cenderung merasa dikekang dan tidak memiliki hak untuk berpendapat. Hal tersebut tentunya akan membuat
anak menjadi sosok yang tidak berpendirian dan mencari cara lain untuk melampiaskan emosinya ke tempat yang salah. Selain itu anak akan merasa tidak puas atas pencapaiannya yang merupakan hasil dikte orang tuanya. Mereka mungkin bekerja keras untuk memenuhinya, namun ia akan merasa hampa karena harus melepas sesuatu yang dia inginkan hingga akhirnya muak dan lelah karena harus terus berusaha memenuhi harapan orang tua di atas keinginanya sendiri.
 
Pada akhirnya, hal-hal seperti authoritarian parenting dan memaksakan kehendak baik dalam cita-cita maupun hal lainnya hanya akan mengakibatkan lebih banyak hal negatif. Anak mungkin dapat memenuhi cita-cita orang tua, namun bukan berarti itu juga cita-citanya. Orang tua mungkin akan bahagia bila anaknya dapat selalu patuh pada mereka, namun bukan berarti anak akan turut bahagia.
 
Editor: Restutama
 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back To Top