[RESENSI FILM] Semesta

sumber gambar: google.com

Informasi Film

Judul Film                   : Semesta

Produksi                      : Tanakhir Films

Sutradara                     : Chairun Nissa

Produser                      : Amanda Marahimin, Nicholas Saputra

Durasi                          : 90 Menit

Tanggal Rilis               : 30 Januari 2020

Berangkat atas kesadaran diri untuk lebih peduli lingkungan sekitar membuat saya lebih peka terhadap isu-isu lingkungan yang terjadi di Indonesia. Belakangan ini Indonesia dilanda banyak bencana alam yang mengakibatkan kerugian harta dan korban jiwa. Wilayah Indonesia dikelilingi banyak sekali sumber daya alam baik perairan maupun hutannya, kita tahu bahwa di wilayah tersebut juga ada masyarakat yang tinggal di dalamnya. Beranekaragam kebiasaan yang disebut kebudayaan yang sekarang menjadi alat pengontrol tingkah laku bermasyarakat, contohnya dari sekelompok Suku Baduy yang mendiami Tanah Sunda, Provinsi Banten. Mereka sangat menjunjung tinggi nilai agama, adat budaya, dan alam. Kita bisa lihat bahwa sampai sekarang di wilayah Suku Baduy tetap terjaga dan lestari alamnya, membuat keseimbangan hidup bermasyarakatnya. Seringkali manusia menganggap dan berpikir bahwasannya bencana alam adalah azab yang diturunkan oleh Tuhan kepada kita atau ujian dari Tuhan semata, sepertinya umat hanya mengingat dan berpatokan pada firman agama tentang kejadian Nabi Nuh, huftt… saya hanya bisa elus dada pada orang seperti itu. Apa iya itu adalah sebuah cerminan masyarakat kita yang saking religiusnya sampai dia lupa ini semua bukan semata-mata karena hal-hal tersebut, melainkan lebih pada kurangnya kepedulian atau keselarasan manusia pada alam itu sendiri. Sebuah cara pandang mengidentifikasi masalah yang kurang tepat karena ilmu agama tidak dibarengi oleh ilmu pengetahuan dan teknologi.

Pada akhirnya saya menonton film dokumenter yang berjudul Semesta. Film ini mengajarkan bahwa pentingnya keselarasan antar manusia pada alamnya. Alam itu sendiri adalah rumah kita sesungguhnya. Bayangkan setiap hari selama kita hidup kita selalu bergantungan pada alam,  contoh terkecil, kita tiap ingin makan itu harus ada bahan dari alam begitu juga bila ingin bebersih kita pun membutuhkan air sebagai pelarutnya. Itu semua baru contoh kecilnya, tapi apakah kita tahu bahwa dari hal yang terkecil tersebut akhirnya membuat dampak yang besar? Kita tidak pernah menyadari hal tersebut sehingga pemakaian dan pengelolaan alam menjadi lepas kendali, dan juga abainya penegakan hukum, yang seharusnya menjadi benteng pertahanan menjaga alam itu. Film Semesta mengajak penonton berkeliling ke sebagian daerah Indonesia untuk membuka mata, hati, dan pikiran kita supaya lebih peka terhadap pelestarian alam yang bersinergi antara agama dan adat budaya masyarakat setempat.

Cuplikan Film Semesta dimulai dari Pulau Bali yang dibuka dengan cerita oleh Tjokorda Raka Kerthyasa tentang ritual perayaan nyepi yang dilakukan umat beragama Hindu di Bali. Perayaan nyepi seolah-olah adalah sebagai hari untuk Bumi Bali rehat dari segala aktivitasnya dan alam menyiapkan segala kebaikannya untuk masyarakat Bali tersebut. Dari Tanah Bali kita beranjak ke daerah kedua yaitu Sungai Utik Kalimantan Barat. Daerah tersebut didiami oleh suku Dayak Iban, masyaraknya memiliki cara khasnya sendiri dengan tradisi adat untuk menjaga alam tersebut. Begitu pun juga di daerah NTT, mereka mempunyai caranya sendiri yaitu mengembangkan pengetahuan teknologi yaitu menciptakan pembangkit listrik mikrohidro. Teknologi ramah lingkungan tersebut adalah solusi pemerataan listrik bagi daerah sekitar yang belum mendapatkan aliran listrik. Dan sampailah di daerah Kapatcol, Papua, ada sekelompok Ibu-ibu yang membuat sasi di pesisir desa untuk menjamin pelestarian biota laut yang semakin terancam. Sasi merupakan adat khas Papua dan Maluku sebagai cara pengolahan sumber daya alam.

Kembali lagi ke wilayah Indonesia bagian Barat, tepatnya di Pameu, Aceh. Sekelompok masyarakat yang terbiasa dan  membiarkan segerombolan gajah liar merusak kebun warga yang sudah panen. Penonton diberikan wawasan baru bahwa praktik thayyib menjadi berkat bagi diri sendiri maupun alam sekitar. Film berakhir di Jakarta yaitu tentang cerita kebun urban dan mengajarkan untuk menjadi masyarakat urban yang tidak menutup diri merawat dan melestarikan alam sekitar.

Setelah kita menjelajahi ketujuh daerah tersebut yang mengajarkan bahwa dari langkah-langkah sederhana sangat bisa berdampak positif untuk menangkal kerusakan alam yang terjadi dengan menggabungkan unsur agama, adat budaya, serta teknologi terkini. Mari kita mulai dari diri sendiri untuk bisa peduli dan peka terhadap lingkungan alam yang semakin parah akibat perbuatan yang mementingkan diri sendiri semata.

 

Penulis: Bintang Simatupang

Editor: Restutama

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back To Top