Dewan Kesenian Semarang Adakan Diskusi “Realisme dalam Teater”

Sumber Gambar : Dewan Kesenian Semarang

Jumat, (19/03/21) Dewan Kesenian Semarang (DKS) mengadakan diskusi “Membaca Realisme dalam Teater”. Acara ini disiarkan pada Jumat, (19/03) secara daring melalui kanal Youtube Dewan Kesenian Semarang.

Bintang, seorang pemain drama DKS yang turut hadir dalam diskusi tersebut mengungkapkan bahwa realisme merupakan suatu yang menarik untuk dibahas karena dari para pemain maupun penikmat drama masih banyak yang salah paham mengenai drama realisme.

“Ini yang berbahaya kalau kita menganggap realis sebagai sebuah sistem, (padahal) yang realis itu sekuel peristiwanya, bahkan di (aliran drama) surealis dan absurd itu juga diisukan realis,” terangnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh Alfiyanto, salah seorang peserta diskusi tersebut. “Teater realis itu tentang bagaimana kehidupan di dunia ini ditampilkan dalam panggung tapi ada penyesuaian kebutuhan-kebutuhan dengan panggung,” kata Alfiyanto.

Khotibul Umam, dosen FIB Undip yang turut hadir sebagai pemantik materi menambahkan bahwa di dalam drama, persoalan realis atau bukan, hal tersebut tidak menjadi masalah. “Tapi yang membuat saya tidak nyaman itu pertunjukan teater dengan bahasa Indonesia,” katanya.

Umam menjelaskan, sebab tidak mungkin menjumpai nada bicara tersebut di dalam kenyataan. ”Itu kayaknya di dunia nyata nggak ada deh. Oleh karena itu, saya cenderung lebih suka baik nonton maupun main, jika pertunjukan drama yang realis itu memakai bahasa daerah, bahasa etnik atau bahasa Jawa, kalau saya sebagai orang Semarang,” katanya.

Ia juga menerangkan, bahasa Indonesia itu tidak memiliki logat. “Logat dan dialek itu dimiliki oleh etnik,” katanya.

Diskusi tersebut tak terbatas pada pembahasan mengenai persoalan dan perkembangan realisme teater Indonesia, namun juga menjadi ajang pertukaran pengalaman antara narasumber dan para peserta diskusi.

“Di sini kita sebenarnya sharing proses, pengalaman empiris teman-teman ya, karena kalau kita ngomongin (teori) dramaturgi dll, itu sudah pernah, dan di google banyak. (Jadi) tidak usah ke sini,” kata Bintang.

 

Reporter: Faalih, Rizky                                    

Penulis: Faalih

Editor: Airell

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top