Virtual Mimbar International Women’s Day Semarang

Gambar : Instagram IWD Semarang

Dalam rangka Kampanye International Women’s Day (IWD) 2021, IWD Semarang mengadakan Virtual Mimbar pada Selasa (9/3). Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, yang biasanya melakukan aksi secara langsung di Simpang Lima, kali ini, dikarenakan pandemi, peringatan International Women’s Day tahun ini diadakan secara daring atau virtual melalui Zoom.

Mengutip dari artikel yang ditulis oleh Rosy Dewi Arianti Saptoyo dengan judul “International Woman’s Day 2021 Kepemimpinan dan Kesetaraan Generasi”, Hari Perempuan Internasional berawal pada 1908, ketika 15.000 wanita berbaris melalui New York City menuntut jam kerja yang lebih pendek, gaji yang lebih baik dan hak untuk memilih. Ide untuk membuat hari internasional datang dari seorang wanita bernama Clara Zetkin.

Seperti namanya, Virtual Mimbar ini berisikan penampilan-penampilan seperti, puisi, musik, dan orasi. Penampilan yang ditunjukan berupa penampilan secara langsung via zoom pada saat itu juga dan penampilan berupa video berdurasi 5-7 menit yang sebelum acara sudah dihimpun terlebih dahulu oleh panitia. Virtual Mimbar ini terbuka untuk siapa saja.

Acara ini diikuti oleh berbagai elemen masyarakat dan organisasi di Semarang, kurang lebih 25 lembaga dan kolektif ikut bergabung, seperti BEM FH Undip, KP2AKS BEM KM Unnes, LRC-KJHAM, dan kolektif tanpa nama. Secara berurutan dan bergantian masing-masing dari perwakilan organisasi dan kolektif ini menampilkan penampilan dan orasinya, yang berupa kritikan, tuntutan ataupun harapan tentang isu-isu seputar perempuan.

Peringatan International women Day tahun ini mengusung tema ‘Bangun Ruang Aman, Wujudkan Inklusivitas’.

” …isu kekerasan, diskriminasi masih sangat tinggi terutama dimasa pandemi. Dari laporan LRCKJH di Jawa Tengah 2020 saja tercatat ada 151 kasus dengan jumlah korban 156 orang. Ini tiap tahunnya meningkat, dari 2018 (ada) 74, 2019 (ada) 4, dan 2020 menjadi 156. Jadi, ini bukan masalah kecil, ya, apa yang dilaporkan itu masih tidak kesemuanya, masih banyak yang belum melaporkan karena mungkin masih ada stigma yang mengakar kuat di masyarakat kita bahwa menjadi korban itu adalah aib. Jadi, inilah yang perlu kita suarakan… ” ungkap Nurul, selaku host acara.

Tidak hanya terfokus pada perempuan, IWD Semarang juga mengajak laki-laki dan gender lainnya untuk ikut ambil bagian.

“…dengan tema ini, diharapkan semua kawan-kawan tidak hanya perempuan dan laki-laki tapi juga gender lainnya, semua masuk dalam pergerakan ini. Jadi benar-benar inklusif, tidak semata-mata hanya isu perempuan saja, tapi semuanya kita angkat dalam IWD tahun ini.” katanya.

“…isu kekerasan, intimidasi, dan opresi itu memang butuh kerjasama dari kita semua. Untuk itu kita perlu bersuara, membangun ruang aman, dan membuat dunia menjadi lebih baik.” lanjutnya.

Kemudian acara ini ditutup dengan penyampaian 14 tuntutan sebagai berikut:

 

  1. Sahkan RUU PKS & RUU PRT, tolak RUU Ketahanan Keluarga dan penghapusan pasal-pasal karet pada UU ITE.
  2. Perlindungan bagi kelompok minoritas gender dan seksualitas.
  3. Menuntut adanya pemenuhan hak sipil dan ekosob bagi komunitas bagi komunitas minoritas dan rentan (komunitas difabel, pengguna NAPZA, dan orang ODHIV).
  4. Berikan ruang aman bebas pelecehan, diskriminasi, dan intimidasi untuk pekerja seks.
  5. Penciptaan kampus sebagai ruang aman dari segala bentuk diskriminasi, intimidasi gender, serta bebas pelecehan dan kekerasan seksual.
  6. Tolak Omnibuslaw dan UU Minerba.
  7. Hentikan kriminalisasi terhadap buruh perempuan.
  8. Lawan seksisme dan rasisme.
  9. Buka ruang demokrasi seluas-luasnya.
  10. Hentikan oprasi militer di Nduga, dan Intan Jaya, serta tarik militer organik dan non organik di Papua.
  11. Tolak pemekaran provinsi Papua Tengah, tolak OTSUS Papua jilid II, dan berikan hak menentukan nasib sendiri sebagai solusi demokratis bagi rakyat Papua. Menuntut adanya sistem bernegara yang berkeadilan gender dan berlandaskan Hak Asasi Manusia.
  12. Lawan praktik oligarki perenggut ruang hidup dan pengeksploitasi alam.
  13. Hentikan perluasan industri ekstraktif.
  14. Tolak privatisasi dan komersialisasi vaksin Covid-19, utamakan untuk kelas perempuan rentan.

 

Reporter: Cikal, Najwa (magang)

Penulis: Najwa

Editor: Ban

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top