[Ulasan Film] No Time To Die

Sumber gambar: cnbcindonesia.com

Judul                                   : No Time to Die

Tahun                                 : 2021

Durasi                                 : 2 Jam 43 menit

Sutradara                           : Cary Fukunaga

Penulis scenario               : Neal Purvis, Robert Wade

Perusahaan produksi      : Metro-Goldwyn-Mayer, Eon Productions

Produser                             : Michael G. Wilson, Barbara Broccoli

Jagoan super berkedok agen mata-mata Inggris telah kembali! Kali ini James Bond hadir di film terbarunya, No Time to Die yang rilis di Indonesia pada 30 September 2021 lalu. Penantian yang cukup panjang sebab film ini sempat ditunda perilisannya karena pandemi. Penantian ini terbayar dengan sajian aksi dan tangis yang menjadi jualan utama film ini.

Secara plot cerita, film ini dibagi menjadi tiga bagian. Sepertiga awal film menjadi ajang perkenalan tokoh villain sekaligus menguak masa lalu Madeleine (Léa Seydoux). Layaknya film Bond lainnya, adegan sebelum sekuen judul memberi permasalahan yang nantinya akan coba diselesaikan pada bagian selanjutnnya. Jika dicermati, bagian pertama film ini menggunakan formula yang mirip dengan Inglorious Basterds (2009). Hanya saja kali ini latar tempatnya di Norwegia dan sedang turun salju.

Bagian kedua mempertemukan Bond dengan orang-orang lamanya. Dengan pacing yang cukup pelan pada awal-awal, koneksi antar tokoh coba dibangun dan terbukti berhasil. Bond dan Madeline bukan lagi pasangan seperti di Spectre (2015) yang mana mereka bercakak dengan musuh, lalu horny, lalu berhubungan seks, lalu tiba-tiba didaulat menjadi pasangan asmara. Tim penulis naskah tidak mengambil jalan pintas tersebut. Jalinan kasih Bond dan Madeleine dihiasi kecurigaan dan untuk menyatukannya lagi mereka harus menyesal terlebih dahulu.

Relasi profesional antara Bond dan M (Ralph Fiennes) merupakan yang terbaik di antara film-film Bond era Daniel Craig. Bahkan lebih baik ketimbang dengan M sebelum ini yang diperankan Judi Dench yang cenderung kepada hubungan maternal. M di sini mengalami pusingnya ketika berhadapan dengan birokrasi. Perang antar negara taruhannya. Memang sewajarnya pimpinan badan intelijen Inggris menemui situasi yang tak mengenakkan apalagi agen terbaiknya suka show off macam James Bond.

Pada suatu adegan bahkan ia cekcok dengan Bond yang tidak setuju akan keputusannya. Adegan dialog di ruang kerja M menggambarkan ini dengan cukup baik. Bond dengan kata-kata sarkasnya, dan sumpah serapah M karena egonya tergores. Hingga di lain adegan mereka bersepakat bahwa mereka menghadapi permasalahan yang sama. Tentu setelah ngobrol tentang peradaban, tanah air, endesbreendesbre….

Cary Fukunaga, sang sutradara juga menyajikan shotshot eksotis panorama alam berbagai belahan bumi yang menjadi menu wajib bagi film-film James Bond. Ia juga menampilkan suasana hutan pelosok Norwegia yang berkabut. Seingat saya, baru pertama kali pendekatan semacam itu dipilih. Jadi tidak melulu lanskap pantai yang terik atau pegunungan bersalju.

Camera work yang ciamik juga membuat penonton terbuai dengan bahasa gambar yang coba disampaikan. Ada adegan sabotase di sebuah gedung dengan nuansa remang-remang di mana beberapa pasukan menuruni dan menjebol kaca dengan menggunakan laser canggih. Setelah mereka berhasil masuk kamera berputar dari atas ke bawah.

Soal action, sayangnya tidak ada yang spesial dari No Time to Die kecuali ketika Bond menghindar dari terjangan mobil dengan memanfaatkan pijakan di pembatas jembatan. Yang saya tidak habis pikir, adegan tersebut justru sudah ditampilkan di trailer. Adegan kelahi pada sepertiga terakhir film terasa kurang greget selain hanya mengandalkan ledakan-ledakan granat. Walau memang, durasi 2 jam 43 menit tidak terasa lama karena rangkaian aksi yang cukup padat dan intens.

Nampaknya energi kreatif tim produksi dihabiskan untuk pengembangan tokoh James Bond yang punya fisik tangkas namun jauh di lubuk hatinya ia sungguh rapuh. Dan itu cukup berhasil. Konsekuensinya, ada aspek lain yang tidak digarap dengan maksimal, salah satunya penokohan villain utama.

Permasalahan ini memang dialami hampir di semua film-film James Bond era Daniel Craig. Kali ini, penonton kurang diberi kesempatan untuk bisa memahami tokoh Lyutsifer Savin (Rami Malek) secara mendalam. Dari pemilihan nama saja sudah membuat saya mengernyitkan dahi (Lucifer jadi Lyutsifer?). Namun yang jelas, saya tidak mendapat kengerian dari tokoh tersebut kecuali sang sutradara menganggap wajah cacat dengan topeng Noh saja sudah cukup.

Tokoh Blofeld (Crishtoph Waltz), hadir lagi di sini. Adegan ia mendekat dari lorong dengan lampu yang menyorotinya ketika hendak bertemu Bond dan Madeleine di sel penjara cukup efektif. Sedikit membayar kegagalan di sekuel sebelumnya.

Pada akhirnya, No Time to Die merupakan ajang perpisahan dengan Daniel Craig sekaligus mencoba mengajukan kemungkinan-kemungkinan baru film-film James Bond di masa depan. Bahkan kali ini titel agen 007 disandang oleh Nomi (Lashana Lynch) yang seorang perempuan, berkulit hitam pula. Meskipun pada akhirnya Nomi sendiri yang meminta izin kepada M untuk mengembalikan 007 kepada Bond. Paling tidak, hal ini mengindikasikan bahwa pemilihan aktor untuk Bond tidak harus sesuai pakem-pakem tertentu.

Bahkan rasa-rasanya sejak dulu memang begitu. Ian Fleming sebagai pencipta sempat mencak-mencak ketika Sean Connery terpilih memerankan Bond untuk Dr. No (1962). Postur kekar Sean Connery yang berdarah Skotlandia dianggap tidak cocok. Kesannya seperti pekerja kasar. Begitu juga dengan Daniel Craig yang berambut pirang dan paras yang kurang tampan, apalagi dibandingkan dengan Pierce Brosnan.

Penulis: Aan

Editor: Aa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top