Mencari Titik Temu dalam Konflik Rusia-Ukraina

Ilustrasi: Najwa

Sejak Januari lalu, headlines media diramaikan dengan berita meningkatnya (kembali) ketegangan hubungan antara Rusia dengan Ukraina. Dikabarkan Rusia telah menempatan 100.000 pasukannya di sepanjang perbatasan dengan Ukraina. Hal ini menimbulkan kekhawatiran bagi Ukraina akan adanya invasi dari Rusia. Untuk memahami krisis Ukraina-Rusia, maka kita perlu mengetahui latar belakang dan sejarah kedua negara setidaknya 20 tahun terakhir.

Rusia dan Ukraina pernah bersatu dalam satu wadah negara yang besar yaitu Uni Soviet (1917-1991). Setelah runtuhnya Uni Soviet pada 1991, Ukraina meraih kemerdekaannya dan menyatakan berpisah dari Uni Soviet. Pada waktu itu, Ukraina menyimpan beberapa persenjataan nuklir sisa Uni Soviet yang pada 1995 persenjataan nuklir itu dikembalikan kepada Rusia sebagai jaminan bahwa Rusia mengakui kedaulatan Ukraina atas wilayahnya. Ukraina sendiri memang memiliki potensi konflik dalam masyarakatnya. Ukraina secara sosial budaya terbagi menjadi dua, Ukraina Barat yang memiliki karakteristik sosial budaya Ukraina, masyarakat di daerah ini menggunakan bahasa Ukraina sebagai bahasa sehari-hari dan memiliki budaya yang condong pada Eropa Tengah. Sedangkan masyarakat Ukraina di timur cenderung memiliki budaya yang condong pada Rusia, menggunakan Bahasa Rusia dan memiliki ikatan emosional dengan tanah Rusia.

Secara Geografis, Ukraina memiliki wilayah yang menjorok ke arah timur sekaligus barat. Ukraina memiliki posisi yang strategis antara dua kekuatan politik dan militer yaitu Rusia dan NATO (North Antlantic Treaty Organization) atau Uni Eropa. Oleh karena itu, Uni Eropa dan Rusia saling berebut pengaruh di Ukraina ini. Pada 2012, Uni Eropa menawarkan perjanjian dagang kepada Ukraina, perjanjian dagang ini menjanjikan berbagai kemudahan perdagangan bagi Ukraina dengan harapan Ukraina akan semakin bergantung secara ekonomi kepada Uni Eropa. Pemerintah Ukraina menunda penandatanganan perjanjian ini hingga masa pemerintahan Presiden Viktor Yanukovych. Ia sendiri kemudian dikecam atas penundaannya dalam menanda tangani perjanjian itu. Rusia sendiri juga berusaha menjamin agar Ukraina tetap berada di bawah pengaruhnya dengan menawarkan akses gas alam dengan harga murah.

Pada 2013, terjadi demonstrasi besar-besaran di Ukraina. Para demonstran menuntut agar pemerintah menanda tangani perjanjian perdagangan bebas dengan Uni Eropa dan menuntut agar Presiden Yanukovych mengundurkan diri. Demonstrasi besar-besaran ini dikenal dengan nama Euromaidan.  Karena huru-hara dan kondisi negara yang semakin memburuk, Presiden Yanukovych kemudian melarikan diri ke Rusia. Di tengah kekosongan kekuasaan, Parlemen Ukraina setuju untuk mengadakan pemilihan presiden. Presiden yang terpilih, Petro Poroshenko kemudian menjadikan Ukraina semakin condong ke barat. Rusia sendiri tidak mengakui pemerintahan Ukraina yang sekarang karena berpendapat bahwa kekuasaan mereka berasal dari kudeta politik yang tidak sah.

Pemerintah Ukraina yang baru dibentuk ini dengan segera mengeluarkan undang-undang yang merugikan masyarakat di Ukraina Timur yang mayoritas beretnis Rusia, salah satunya adalah hanya menggunakan bahasa Ukraina sebagai bahasa resmi dalam adminitrasi dan pendidikan. Hal ini memicu gejolak di wilayah timur salah satunya di Semenanjung Krimea. Masyarakat Krimea mengadakan referendum yang memberi pilihan apakah Krimea akan tetap bersama Ukraina atau bergabung dengan Rusia, Hasil dari referendum menyatakan bahwa 97% masyarakat setuju agar Krimea bergabung dengan Rusia. Krimea kemudian dianeksasi oleh Rusia. Sementara itu di wilayah Luhanks dan Donbass, muncul gerakan separatis yang menyatakan berpisah dengan Ukraina. Pemerintah Ukraina pun menjalankan operasi militer guna menghentikan gerakan ini. Rusia sendiri secara terselubung mendukung gerakan separatis ini semisal dengan memberikan senjata rudal pertahanan udara yang akhirnya memakan korban pesawat Malaysian Airlines MH-17. Hingga saat ini pertempuran di Donbass masih terjadi walaupun beberapa kali diadakan gencatan senjata yang juga seringkali dilanggar oleh kedua belah pihak.

Sebenarnya negara-negara Eropa masih memiliki hubungan ekonomi yang erat dengan Rusia. Rusia adalah pemasok utama gas alam bagi Uni Eropa. Rusia juga memiliki jalur pipa gas alam yang melewati Ukraina ke Eropa barat. konflik di Ukraina Timur terkadang menyebabkan terganggunya pasokan gas alam ini yang merugikan Uni Eropa dan Rusia, jadi walaupun Rusia dan Uni Eropa saling bertentangan dalam isu Ukraina tapi sebenarnya kedua belah pihak masih memiliki kepentingan bersama.

Presiden Ukraina saat ini, Volodymyr Zelensky menyatakan niatnya bahwa Ukraina ingin bergabung dengan NATO, hal inilah yang menjadi kekhawatiran utama bagi Putin (presiden saat ini) dan Rusia. Dengan masuknya Ukraina ke NATO, maka pasukan negara-negara NATO dapat menempatkan pasukannya di wilayah Ukraina, hanya 500 km dari Moskow (ibu kota Rusia), yang tentu saja ini adalah ancaman keamanan yang nyata bagi Rusia. Rusia akan mencegah ekspansi NATO ke timur dengan segala cara bahkan jika harus menyerang Ukraina.

Amerika Serikat menuduh bahwa Rusia akan menginvasi Ukraina, tuduhan ini dilontarkan sejak akhir tahun lalu saat militer Rusia mengerahkan pasukannya secara besar-besaran ke perbatasan Ukraina dan ke Belarus, sebaliknya Rusia menuduh Amerika Serikat bahwa mereka menebar histeria ketakutan kepada masyarakat dunia karena melebih-lebihkan keadaan yang ada. Rusia juga mengecam bantuan persenjataan militer yang diberikan Amerika pada Ukraina. Armada Angkatan laut AS dan Inggris sendiri sudah ditempatkan di Laut Hitam di selatan Ukraina sebagai bentuk kewaspadaan dan bentuk perhatian atas apa yang terjadi di Ukraina Timur.

Beberapa analis politik dan militer mengatakan bahwa ada 5 tempat di dunia ini yang berpotensi memicu perang dunia ketiga, salah satunya adalah Semenanjung Krimea. Sejak aneksasi Rusia atas Krimea, segala macam manuver geopolitik di kawasan ini dapat memperkeruh suasana dan sudah sepatutnya pihak-pihak yang memiliki kepentingan untuk menahan diri dari kebijakan yang gegabah demi mencegah meningkatnya tensi dan memperluas konflik.

Rusia ingin agar NATO tidak memasukan Ukraina sebagai anggotanya, sedangkan Ukraina ingin bergabung kedalam NATO walaupun NATO sendiri secara hati-hati mempertimbangkan keanggotaan Ukraina yang sudah diajukan sejak beberapa tahun yang lalu karena konflik teritorialnya dengan Rusia. Negara-negara Barat sebenarnya merasa frustrasi atas Ukraina yang tak mampu memenuhi harapan barat atas reformasi terutama di bidang hukum dan supremasi sipil, walaupun di Ukraina telah terjadi dua kali revolusi yang terlihat demokratis tetapi sebenarnya tidak ada perubahan signifikan dalam pemerintahannya. Oligarki saling berebut kekuasaan dan kesempatan korupsi masih terbuka lebar. Setelah peristiwa Euromaidan sendiri negara-negara barat hanya bisa mendorong Ukraina untuk melakukan sedikit reformasi dan belum berhasil melakukan perubahan yang signifikan dan nyata yang mengakibatkan lemahnya ekonomi dan rentan untuk jatuh ke pengaruh Rusia secara total. Ukraina akan terus bergantung kepada bantuan-bantuan ekonomi dari Barat.

Dalam mencari titik temu bagi penyelesaian Konflik antara Rusia dan Ukraina maka ada beberapa hal yang harus dipahami. Pertama, kedua belah pihak yang saling berkonfrontasi harus memiliki kesamaan pandangan dalam memahami sumber konflik dan memiliki kesamaan solusi atas konflik yang berlangsung.  Pihak NATO dan Ukraina harus menerima secara de facto bahwa Krimea sudah dianeksasi oleh Rusia. Ukraina dan negara-negara barat harus melangkah pada de jure atas aneksasi dan melegitimasinya. Itu karena tidak mungkin bagi Rusia untuk mengembalikan Krimea pada Ukraina.

Kedua, melakukan perbaikan hubungan diplomatik, kedua belah pihak harus memulai menurunkan tingkat permusuhan. Pada 1991 ketika perang dingin telah usai pasca runtuhnya Uni Soviet masyarakat dunia pada umumnya mengharapkan hubungan yang harmonis antara Timur dan Barat. Kerjasama-kerjasama di antara Rusia dan Amerika sepertinya juga mengamini harapan yang ada, namun sekarang muncul kembali asumsi bahwa keduanya kembali menjadi musuh. NATO menyatakan jika Rusia menyerang Ukraina maka mereka akan mengintervensi dan melawan Rusia. Rusia sendiri menurut saya tidak akan memulai perang terlebih dahulu, Rusia sudah menyatakan bahwa “garis batas”nya adalah bergabungnya Ukraina ke NATO. Jika NATO menerima keanggotaan Ukraina, maka Rusia akan menyatakan perang. Negara-negara barat sendiri telah mempersiapkan sanksi-sanksi ekonomi kepada Rusia, sementara itu Rusia akan mengancam akan memutuskan pasokan gas alam ke Eropa barat.

Kurang lebih seperti itulah langkah-langkah yang dapat saya perkirakan bagi kedua belah pihak dalam menyelesaikan sengketa kepentingan. Namun jika kita melihat kondisi di lapangan, dua hal di atas tadi masih jauh dari kenyataan.

Penulis: Muhamad Farhan Prabulaksono (Magang)
Editor: Rilanda

***

Referensi:

Bebler, A. (2015). Crimea and the Russian-Ukrainian Conflict. ROMANIAN JOURNAL OF EUROPEAN AFFAIRS , 35.

D’Anieri, T. K. (2022, February 7). Causes and Potential Solutions to the Ukraine and Russia Conflict. Retrieved from E-International Relations: https://www.e-ir.info/2020/06/27/causes-and-potential-solutions-to-the-ukraine-and-russia-conflict/

EuroMaidan rallies in Ukraine – Nov. 21-23 coverage. (2022, February 7). Retrieved from Kyiv Post: https://www.kyivpost.com/article/content/euromaidan/euromaidan-rallies-in-ukraine-nov-21-23-coverage-332423.html

Hardy, J. (2022, February 7). 5 Places Where World War Three Could Break Out. Retrieved from The National Interest: https://nationalinterest.org/feature/5-places-where-world-war-three-could-break-out-11487

Klotz, M. (2017). Russia and the Ukrainian Crisis: A Multiperspective Analysis of Russian. Croatian International Relations Review, 262.

Timeline: Ukraine’s turbulent history since independence in 1991. (2022, February 7). Retrieved from Al Jazeera: https://www.aljazeera.com/news/2022/2/2/timeline-ukraines-turbulent-history-since-independence-in-1991

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back To Top