Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru FIB 2022: Bosan, Lucu, tapi Bermanfaat

Sumber Gambar: Dok. Hayamwuruk/Meilina

Selasa (16/8/22), Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro (FIB Undip) menggelar rangkaian Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) angkatan 2022 secara luring di Gedung Serba Guna (GSG) FIB. Acara berlangsung selama dua hari, yakni Senin-Selasa, 15-16 Agustus 2022.

PKKMB menjadi agenda tahunan yang masuk ke dalam rangkaian Orientasi Diponegoro Muda (ODM). Tujuannya untuk mengenalkan lingkungan dan fasilitas kampus kepada mahasiswa baru (maba).

“Karena kehidupan mahasiswa baru adalah transisi dari siswa menjadi mahasiswa, sehingga dengan adanya pengenalan kehidupan kampus bagi mahasiswa baru, mereka akan memperoleh bekal yang cukup terkait dengan kondisi yang akan dihadapi di FIB,” ungkap Alamsyah, Wakil Dekan I FIB Undip, kepada Hayamwuruk (16/8/22).

Tahun ini, FIB Undip menerima 981 maba. S1 sebanyak 971, S2 tujuh orang, dan S3 tiga orang. “Secara kuantitatif tentu mengalami kenaikan. Dulu rata-rata sekitar 800-900, ini adalah kenaikan yang patut kita syukuri,” ujar Alamsyah.

Shiva Ayesha, ketua acara PKKMB FIB mengatakan, hari pertama materi difokuskan pada pengenalan program studi. Sedangkan hari kedua merupakan penjelasan mengenai Rancangan Pembelajaran Semester (RPS) dan fasilitas kampus.

“Yang hari pertama itu materi yang diberikan oleh para dosen itu mengenai beberapa materi yang ada di dalam perkuliahan di dalam beberapa jurusan juga. Kalo untuk hari kedua atau hari ini, materi yang dipaparkan itu tentang RPS atau fasilitas dan media sosial yang digunakan, yang menunjang kegiatan pembelajaran nantinya itu,” jelas Shiva.

Ia juga menerangkan, kegiatan ini dilakukan dengan menerapkan protokol kesehatan (prokes) berupa body checking dan menanyakan status vaksin pada setiap peserta. Bagi peserta yang belum melakukan vaksin booster diwajibkan untuk menunjukkan surat swab antigen.

“Kalau ketika di dalam gedung sendiri itu kita menerapkan adanya pembatasan atau pemberian jarak kepada beberapa mahasiswa dalam tempat duduk,” terang Shiva.

Di sisi lain, Teges, maba prodi Sastra Inggris mengeluhkan rundown acara. “Sebenernya bermanfaat, sih, materinya yang memang dibutuhkan mahasiswa. Tapi mungkin penyampaiannya aja atau mungkin rundown acaranya yang dibuat lebih tertata lagi soalnya dilihat dari jamnya terlalu rapat,” keluhnya.

Hal ini, menurut Shiva, akibat adanya keterlambatan oleh narahubung juga pemateri. “Dari narahubung ke dosen untuk memberi materi itu sedikit ada keterlambatan atau ketika kegiatan berlangsung karena keterlambatan dosen yang datang itu jadi memakan waktu lebih banyak ketika pemaparan materi,” terang Shiva.

Sedangkan menurut Nathaniel Pramudya Anindito, maba prodi Sastra Inggris, meskipun pemaparan materi terasa membosankan, materi dan pembicara tertentu kadang membuatnya tertarik.

“Kalau menurut saya, sih, ngebosenin, tapi ga selamanya itu ngebosenin. Kayak, walaupun ngebosenin juga saya tetap nyimak. Kadang juga yang ngomong, tuh, lucu, jadi kadang saya ketawa gitu,” terang Nathaniel.

Materi mengenai Indonesian International Student Mobility Awards (IISMA) juga pemaparan mengenai fasilitas di Undip menarik perhatiannya. “Sama katanya ada project baru di sini (FIB) namanya art gallery gitu. Itu juga menarik soalnya saya suka art gallery,” katanya.

Reporter: Raihan, Yulita, Mei
Penulis: Mei
Editor: Rilanda

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back To Top