Keluhan Massa Aksi Geram Jateng Soal Harga BBM Naik: ‘BBM Tidak Dinaikkan Saja Sudah Berdampak, Apalagi Ini’

Sumber Gambar: Dok. Hayamwuruk/Juno

Sejumlah massa dari elemen mahasiswa dan buruh yang tergabung dalam Gerakan Rakyat Menggugat Jawa Tengah (Geram Jateng) berunjuk rasa tolak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah, Kamis, (8/9/22).

Mereka juga menuntut pemerintah berantas mafia migas dan tambang, menunda pengesahan Rancangan Kitab Undang-undang Hukum Pidana (RKUHP) dengan meninjau kembali pasal-pasal cacat, dan menuntaskan kasus-kasus pelanggaran hak asasi manusia (HAM).

Raihan Imaduddin, mahasiswa Sejarah Universitas Diponegoro (Undip) asal Pamulang, Tangerang Selatan, keluhkan dampak signifikan naiknya harga BBM.

“Kenaikan BBM sangat terasa, misalnya 30% kenaikan harga pertalite. Aku sebagai pengguna motor [merasa] kenaikan ini terlalu jauh. Biasanya 1.000 atau 500 rupiah, tapi ini langsung 3.000,” ucapnya.

Hal ini menurutnya juga berdampak pada lonjakan harga bahan pokok. “Harga telur naik juga serta banyak harga makanan di Tembalang naik juga bukan hanya cukup tapi sangat memberatkan,” tambahnya.

Markonah, buruh pabrik garmen sekaligus penjual gorengan yang tergabung dalam Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia Jawa Tengah (KASBI Jateng) juga mengeluhkan hal sama.

Gandum wes mundak, nggo gorengan gandum mundak. Opo-opo mundak, rego gorengan jek tetep 1000,” keluhnya. (Bikin gorengan, harga gandum naik. Semuanya naik, tapi harga gorengan masih Rp1.000).

Sebagai tulang punggung keluarga dan ibu dari tiga anak, Markonah terpaksa mencari penghasilan lain karena gaji yang diterimanya dari bekerja delapan jam per hari sebagai buruh pabrik garmen tak mencukupi. Itupun hasil penjualannya tetap tak menjanjikan baginya.

Dodol gorengan jek kurang, jam 3 sudah melek. Tidure jam 11/jam 12 baru tidur,” ucapnya. (Jualan gorengan masih kurang.  Jam 3 (dini hari) sudah bangun. Tidurnya jam 11 atau jam 12 [malam]).

Hal tersebut turut menyulitkan Markonah untuk mendaftarkan anaknya ke perguruan tinggi.

Anakku 3 bayangno, yang satu lulus SMA. Ameh kuliah ora kuat duite, ati karep bondo cupet,” ujarnya. (Anakku 3. Yang satu lulus SMA ingin kuliah tapi tidak kuat bayarnya. Hati ingin tapi biaya tidak ada.)

Sehingga bagi Markonah, naik atau tidaknya harga BBM tak jauh berbeda, keduanya tetap menyulitkan. “Ora usah BBM dinaikke wes dampak, kok. Opo meneh iki di[naikke], tambah ngeri,” katanya. (BBM tidak dinaikkan saja sudah berdampak, apalagi ini dinaikkan. Tambah ngeri).

Terkait upah, menurut Koordinator KASBI Jateng Mulyono di awal 2022 Jateng hanya menaikkan upah 0,78%. “Itu kalo di daerah Jepara dan Grobogan, kenaikannya hanya Rp4.000/bulan. Lha, ini, kan, sangat memprihatinkan bagi kita,” terangnya.

Sedangkan, lanjutnya, perbedaan harga bahan pokok tidak terlalu beda antara kota dan desa. Ditambah, Jateng tengah memberlakukan upah murah yang diperparah dengan aturan-aturan ketenagakerjaan yang menurutnya inkonsisten serta banyaknya pelanggaran oleh sejumlah perusahaan.

“Contohnya upah di bawah UMK. Terus perpanjangan waktu [bekerja]. Karena tidak memenuhi target [produksi], yang sebenarnya itu dihitung lembur. Dia (buruh) tidak diberikan [upah lembur],” tuturnya.

“Lalu ada pengaruh [kenaikan] BBM juga,” tambahnya.

Oleh karenanya, dia berharap agar pemerintah mendengar aspirasi rakyat dalam menentukan kebijakan. “Saya harap pemerintah lebih terbuka dan memberikan transparansi yang jelas terkait kondisi ekonomi Indonesia saat ini sebagai dasar dalam memutuskan kebijakan,” ujarnya.

Mulyono menegaskan akan adanya konsolidasi lanjutan apabila pemerintah tidak memberikan respons positif atas tuntutan mereka. Adapun poin tuntutan akan lebih ditegaskan dengan massa yang lebih banyak.

Reporter: Indri, Ningrum, Rilanda
Penulis: Indri
Editor: Rilanda

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back To Top