
Di tengah hiruk-pikuk dunia, puisi hadir sebagai bisikan lembut yang mengingatkan kita pada makna. Hari Puisi menjadi panggung bagi suara-suara yang ingin didengar, dan tahun ini, gema itu tak hanya terdengar dari lembaran kertas, tapi mengalun lewat alunan musikalisasi puisi, bergema lewat monolog, dan menghidup di atas panggung teater—sebuah perayaan kata yang tak lagi diam, melainkan bergerak, berbicara, dan menginspirasi.
Acara kali ini bertajuk “Satu Abad Pram X Hari Puisi” yang diadakan di Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Diponegoro (Undip) pada Senin (28/4/2025). Acara ini merupakan kolaborasi antara Bidang Minat Bakat dan Aspirasi Budaya (Mikatbud) Keluarga Mahasiswa Sastra Indonesia (KMSI) FIB dari Program kerja divisi Pojok Sastra dengan Teater Emper Kampus (EMKA), Wadah Musik Sastra (WMS), dan KMSI.
Diva, selaku sekretaris acara mengatakan bahwa puisi yang kemarin dinyatakan sebagai pemenang dalam lomba cipta puisi akan ditampilkan pula di acara “Satu Abad Pram X Hari Puisi” ini.
“Hari puisi ini kami menampilkan kolaborasi sama EMKA, WMS, dan KMSI, juga penampilan-penampilan puisi. Lalu, pengumuman lomba puisi karena kemarin kami sempat ada lomba cipta puisi. Hari ini pengumumannya dan karya yang menang langsung ditampilkan malam ini,” jelas Diva.
Acara yang berlangsung bertepatan dengan Hari Puisi Nasional ini adalah sebuah peringatan tahunan yang diadakan untuk merayakan kekayaan karya sastra puisi, sekaligus menjadi wadah ekspresi bagi para penyair, mahasiswa, maupun pecinta atau penikmat puisi.
Salah satu pertunjukan yang paling menyita perhatian penonton adalah monolog. Intan membawakan monolog berjudul “Perempuan Obrak Abrik yang mengguncang batin penonton. Judul ini ternyata menyimpan kedalaman makna yang tajam.
Nisrina, mahasiswa Sastra Indonesia, menuturkan bahwa penampilan monolog “Perempuan Obrak Abrik” berhasil membuat hatinya tergugah.
“Dari pembawaan dialognya kita dapat merasakan bahwa perempuan di luar sana masih belum bisa menyuarakan bahwa dirinya sedang dan sudah ditindas, di satu sisi ada bagian berteriak yang menandakan kita harus menyuarakan. Secara pribadi aku nikmatin banget acara ini dan membuat aku tergugah,” ujar Nisrina.
Dalam monolog berdurasi sekitar sepuluh menit itu, Intan membawakan kisah seorang perempuan yang tubuh dan jiwanya terombang-ambing dalam sistem patriarki—dihancurkan, diretas, diacak-acak—namun tetap berdiri, tetap bernapas, dan tetap bersuara walau akhirnya mati di tangan sendiri.
Ia berganti suara, gestur, bahkan irama nafas, membawa penonton dari kemarahan ke luka, dari ironi ke harapan. Kadang ia berteriak, kadang hanya berbisik. Diakhiri dengan efek suara tangisan bayi, monolog ini berakhir dengan tepuk tangan riuh penonton.

Penampilan lain yang menjadi puncak dari acara ini adalah dari teater EMKA yang membawakan teater dengan judul “Tiga Gundah Utara.” Pementasan ini tampil tajam, simbolik, dan berani. Menyoroti wajah buram kehidupan sosial dengan menyentil sisi gelap kekuasaan, aparat, dan sistem birokrasi yang menindas.
Meski menyentuh isu-isu sensitif, “Tiga Gundah Utara” tidak terkesan menggurui atau provokatif secara membabi buta. Ia menyampaikan kritik dengan estetika dan empati, memperlihatkan bahwa teater bisa menjadi ruang dialog yang cerdas antara seniman, masyarakat, dan kekuasaan.
Kurnain selaku penampil musikalisasi puisi dan panitia, mengatakan bahwa tidak hanya di Hari Puisi saja kita dapat mengenang puisi, karena menurutnya percuma jika hanya merayakan tanpa mengamalkan.
“Pesanku untuk generasi muda itu, pastinya harus lebih peka terhadap karya-karya seni zaman dahulu berupa puisi dan lainnya. Tidak harus di hari puisi untuk mengenang puisi atau karya, tapi di hari-hari biasa kita dapat mengamalkan juga,” tutur Kurnain.
Melalui puisi, musik, monolog, dan teater, puisi menemukan wajah barunya—lebih hidup, lebih dekat, dan lebih menggugah. Acara peringatan Hari Puisi tahun ini bukan hanya ajang pertunjukan, tetapi ruang perjumpaan: antara kata dan rasa, antara seniman dan penikmat, antara suara dan makna.
Di setiap detik pertunjukan, kita diajak untuk kembali mendengarkan—bukan hanya telinga, tapi dengan hati. Sebab sejatinya, puisi bukan hanya untuk dibaca, melainkan untuk dirasakan, dihayati, dan terus dihidupkan dalam kehidupan sehari-hari.
Semoga gema kata-kata ini tak berhenti di panggung, tapi terus mengalir dalam keseharian kita sebagai pengingat bahwa keindahan selalu bisa ditemukan, bahkan dalam hal yang paling sederhana: sebuah kata.
Reporter: Joi, Woro
Penulis: Joi
Editor: Alena