Seabad Pram: Mengenang Warisan Pram melalui Diskusi dan Workshop

Dok. Hayamwuruk/Erinna

Dalam rangka memperingati 100 tahun kelahiran Pramoedya Ananta Toer, Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Diponegoro (UNDIP) bekerja sama dengan Dewan Kesenian Semarang (Dekase) menyelenggarakan acara bertajuk Seabad Pram Sejagat Kalam pada Kamis (24/04/2025) di gedung Art Center UNDIP.

Empat narasumber dihadirkan dalam acara ini, yaitu Dr. Martin Suryajaya (Dirjen Kebudayaan dan dosen Pascasarjana IKJ), Dr. Sukarjo Waluyo, S.S., M.Hum., Laura Andri R.M., S.S., M.A., dan Herpin Nopiandi Khurosan, S.S., M.A. Diskusi dibagi dalam dua sesi, yakni diskusi utama bertema “Membaca Tetralogi sebagai Metafiksi” oleh Dr. Martin Suryajaya, dan workshop kritik sastra dengan pendekatan religiusitas, feminisme, dan humanisme terhadap karya-karya Pram.

Salah satu poin penting disampaikan oleh Dr. Martin Suryajaya yang menawarkan pembacaan baru atas Tetralogi Buru sebagai bentuk metafiksi. Ia menyayangkan pembacaan atas karya Pram yang selama ini cenderung stagnan.

“Pram sering kali dibaca secara sama berulang-ulang, padahal di balik karya itu ada banyak aspek penafsiran lain yang selama ini belum disentuh,” ujarnya.

Melalui pendekatan humanisme, Herpin Nopiandi menyebut bahwa karya-karya Pram menawarkan nilai-nilai emansipatoris sebagai kemampuan yang dapat diandalkan untuk memperbaiki kehidupan. Ia juga menekankan pentingnya pendekatan teori dalam kritik sastra.

“Ada hal-hal yang tidak bisa dibaca secara sepintas. Harus dengan close reading dan pendekatan tertentu agar sampai pada makna tersembunyi di balik narasi,” jelasnya.

Salah satu peserta, Adit, juga menyoroti tentang perempuan dalam karya Pram yang telah dijelaskan oleh Laura Andri.

“Itu membuka pandangan terhadap Pram, yang kita kira disebut sebagai feminis, memperjuangkan hak-hak perempuan, menggambarkan hak-hak perempuan. Namun, setelah penjelasan tadi, tidak bisa kita sebut feminis, ya. Kita bisa sebut saja sebagai empati kepada perempuan, tapi masih menggunakan sudut pandang patriarki dalam novelnya,” ujarnya.

Laura Andri, selaku dosen sekaligus penanggung jawab acara menyampaikan harapannya agar karya-karya Pram terus hidup. Ia juga menekankan bahwa tulisan adalah senjata untuk mengubah pola masyarakat dan menjadi jalan untuk dikenal.

“Kami berharap di waktu kemudian, karya-karya Pram tidak pernah usai, tidak pernah lenyap, tapi masih bisa dinikmati dan kritik-kritik sosialnya masih bisa bermanfaat,” pungkasnya.

Reporter: Afis, Erinna, Lia, Syipolo, Titin

Penulis: Titin

Editor: Marricy

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top