
Teater Emper Kampus (Emka) gelar pementasan Laboratorium Naskah (Labnas) bertajuk Mamprah di Gedung Serbaguna (GSG) Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Diponegoro (Undip) pada Sabtu (10/05/2025). Pementasan yang dihadiri oleh mahasiswa maupun masyarakat umum ini digelar untuk memperkenalkan wajah-wajah baru anggota Emka setiap tahunnya.
Mamprah sendiri diambil dari bahasa Betawi ngamprah yang berarti berantakan; tercerai-berai; tak karuan. Kata tersebut digunakan sebagai tajuk pementasan karena menggambarkan isi cerita tentang rumah tangga tokoh utama Rani dan Andre yang carut-marut.
Pada Labnas tahun ini, Teater Emka membawakan tema feminisme yang membicarakan tentang stereotip perempuan dalam masyarakat. Mengangkat latar tempat di pinggiran Betawi, Mamprah ditampilkan dengan suasana Betawi yang kental.
Loveo Rose, asisten sutradara sekaligus penulis naskah, menyampaikan bahwa urgensinya mengangkat tema tersebut adalah untuk memunculkan kesadaran publik tentang problematika perempuan dalam rumah tangga.
“Bahas feminisme itu enggak ada habisnya, karena masalah perempuan dari tahun ke tahun, dari zaman ke zaman itu selalu sama, dan kita lebih kayak nge-refresh ingatan penonton aja. Sebenarnya apa sih feminisme dalam pernikahan itu? Apa saja yang mendiskriminasi perempuan dalam pernikahan? Kita ingin memunculkan kesadaran itu,” ucapnya.
Loveo mengatakan persiapan pementasan dilakukan selama kurang lebih lima bulan jika dihitung dari masa pra-produksi. Sementara persiapan produksi memakan waktu tiga bulan.
“Desember itu penulisan naskah, pencarian isu, dan wawancara ke hal-hal yang bersangkutan sudah dimulai. Kalau misalnya pra-produksi itu sekitar Desember, berarti sekitar lima bulanan (persiapannya -red), tapi untuk produksinya itu tiga bulan,” ujarnya.
Indira selaku sutradara menyampaikan kendala yang dialami selama persiapan pementasan cukup banyak, termasuk naskah yang mengalami revisi beberapa kali, tetapi semuanya terbayarkan dengan penampilan memuaskan.
Selain itu, Isha sebagai aktor yang memerankan tokoh Rani, mengaku mengalami kesulitan dalam membedah dan memerankan karakter Rani.
“Kendalanya adalah stay in character, gitu. Untuk membuat si karakter ini masih stay on itu dengan kita selalu membedah karakter itu dulu, jadi tantangannya itu di pembedahan karakter,” ungkap Isha.
Meski dihadapkan dengan beberapa tantangan selama proses produksinya, Teater Emka sukses membawakan pementasan Labnas 2025 yang dibuktikan dari antusias penonton selama pertunjukan hingga sesi diskusi.
Lisha, mahasiswi Sastra Indonesia angkatan 2023 yang datang sebagai penonton dan mengikuti sesi diskusi hingga akhir mengaku sudah sering menonton pementasan Teater Emka. Ia menyampaikan harapannya agar Emka terus berkarya.
“Sering (menonton -red), dulu. Harapan ke depannya untuk Emka sih tetap lanjut ya dengan pementasan-pementasannya ini. Memang dari Emka itu pentasnya biasanya bagus-bagus,” ujarnya.
Penulis: Lia
Editor: Marricy