Mengapa Laki-laki Juga Perlu Menjadi Feminis?

Ilustrasi/Afis

Banyak laki-laki yang resisten terhadap gerakan feminisme. Hal tersebut ditunjukkan dari berbagai argumen mereka terhadap feminisme di berbagai platform sosial media. Gerakan tersebut kerap kali diterjemahkan sebagai gerakan yang melawan laki-laki, dan memposisikannya sebagai musuh atau penjahat utama. 

Padahal, perihal mendasar yang hendak feminisme runtuhkan adalah sistem patriarki yang menjadikan laki-laki sebagai tokoh sentral dalam peradaban, di mana para perempuan dinomorduakan kehadirannya, dan dikerdilkan fungsi, tugas, serta haknya sebagai manusia. Lebih dari itu, patriarki juga menciptakan standar maskulinitas yang tak jarang mencekik para laki-laki.

Sistem patriarki yang menonjolkan laki-laki pada suatu masyarakat tidak semata-mata menjadikan mereka pelaku utama. Gerda Lerner dalam The Creation of Patriarchy (1987) menjelaskan adanya akar historis yang panjang dalam penciptaan sistem patriarki pada suatu masyarakat, dan proses tersebut tidak hanya melibatkan laki-laki, tetapi juga perempuan sebagai bagian dari pranata sosial.

Patriarki merupakan sebuah sistem nilai yang menempatkan laki-laki sebagai pusat otoritas yang mengatur perilaku berdasarkan norma gender yang kaku. Korban dari sistem patriarki tidak hanya perempuan melainkan juga laki-laki itu sendiri, sebagai contoh, kehadiran pernyataan yang belakangan menjadi tren di media sosial: laki-laki tidak bercerita. Stigma tersebut tergolong sebagai toxic masculinity, sebuah standarisasi maskulinitas yang memiliki kecenderungan negatif. Pernyataan tersebut merepresentasikan represifitas sistem patriarki terhadap ekspresi emosional laki-laki.

Terdapat pula sebuah ungkapan populer yakni “boys don’t cry” yang menciptakan sebuah tekanan dan tuntutan bagi laki-laki untuk selalu tampil kuat, tegar, dan tidak boleh memperlihatkan kelemahannya. Akibatnya, banyak laki-laki yang mengalami kesulitan dalam mengelola stress, membicarakan trauma, terbuka terhadap perasaannya, bahkan membuat kebanyakan laki-laki enggan mencari bantuan ketika menghadapi masalah emosional. Stigma membelenggu laki-laki untuk dapat berekspresi sebagaimana umumnya manusia. Maka dalam hal ini, feminisme ditujukan bukan hanya terkait pembebasan perempuan tetapi juga pembebasan laki-laki dari standar maskulinitas yang merusak.

Toxic masculinity juga berdampak pada peningkatan risiko depresi hingga bunuh diri pada laki-laki. Berdasarkan pada laporan tahun 2023, di Indonesia sendiri dari total semua kasus bunuh diri yang tercatat, sekitar 5.095 dari 6.544 kasus atau sekitar 78% dilakukan oleh laki-laki. Menurut laporan data institusi kepolisian pada periode Januari–Agustus tahun 2024 tercatat adanya laporan bahwa sebanyak 714 laki-laki melakukan bunuh diri, persentasenya sekitar 76,94% dari keseluruhan kasus bunuh diri yang ada dalam periode tersebut. Banyak analisis yang menunjukkan bahwa kasus bunuh diri di Indonesia didominasi oleh laki-laki muda dengan berbagai faktor pemicu, rata-rata disebabkan oleh faktor depresi. Di samping itu, ada pula faktor ekonomi, sosio-kultural, dan lingkungan. Dalam hal ini, isu kesehatan mental juga turut membingkai toxic masculinity yang ada di Indonesia, sekaligus sebagai penanda bahwa kasus bunuh diri pada laki-laki dan keterkaitannya dengan kesehatan mental perlu pendekatan spesifik gender.

Patriarki yang menuntut laki-laki untuk terlihat kuat, pada akhirnya justru menghalangi mereka untuk mengungkapkan perasaan yang dianggap “lemah”, sehingga kerap kali laki-laki meluapkan emosinya dengan amarah, sebagai bentuk pertahanan diri paling akhir. Luapan amarah laki-laki bisa bervariasi baik secara verbal maupun fisik. Terkadang emosi secara fisik inilah yang melibatkan orang lain, tak terkecuali perempuan, mengingat korban kasus kekerasan paling banyak dialami oleh perempuan. 

Menurut laporan dari UN Women, secara global 30% atau satu dari tiga perempuan di dunia pernah mengalami kekerasan fisik maupun seksual. Remaja putri, perempuan muda, perempuan dari kelompok minoritas, transpuan, dan perempuan disabilitas lebih rentan terkena berbagai bentuk kekerasan. Berdasarkan data tersebut, dapat dilihat bahwa bias gender bukan hanya persoalan individual, tetapi sebuah persoalan struktural yang membutuhkan perubahan sistematis.

Apakah feminisme hanya boleh dianut oleh perempuan? Apakah laki-laki juga bisa menjadi seorang feminis? bell hooks dalam karyanya yang berjudul Feminism is For Everybody: Passionate Politics (2000) menunjukkan bahwa feminisme bukan hanya milik perempuan tetapi merupakan proyek kolektif untuk mengubah hubungan sosial secara menyeluruh. Feminisme bukan sekadar gaya hidup ataupun label identitas. Feminisme juga bukan sesuatu yang diperuntukkan hanya bagi perempuan. Feminisme sejatinya bertujuan untuk mengakhiri penindasan seksis yang merugikan semua orang. Menjadi feminis bukan berarti membenci laki-laki, melainkan menantang dan mengubah dominasi sistem. Menjadi feminis berarti memperjuangkan keadilan sosial yang menguntungkan bagi semua gender.

Semua pergerakan pada akhirnya membutuhkan seluruh elemen masyarakat untuk melakukan gubahan secara mengakar. Menjadi seorang feminis tak ubahnya menjadi aktivis atau pendukung HAM. Masih banyak permasalahan dan penjelasan terkait ketimpangan gender secara sosial, kultural, dan politis yang tidak kami jelaskan. Kami menyadari, tulisan ini masih memiliki banyak cacat dan kekurangan, terutama beberapa data dari kepolisian yang menurut beberapa sumber, terjadi underreporting

Namun, dari sedikit yang dapat kami beri, harapannya sudah cukup mencerahkan, bahwa feminisme tidak secara eksklusif hanya merangkul perempuan, tetapi juga laki-laki, dan berbagai elemen gender yang ada di dalam masyarakat. Feminisme adalah gerakan kolektif yang menjadi tanggung jawab bersama.

 

Referensi

Hooks, B. Feminism is For Everybody: Passionate Politics. (Cambridge: South End Press, 2000).

Lerner, G. The Creation of Patriarchy. (Oxford: Oxford University Press, 1986).

Alfathir, M. “Apa itu Toxic Masculinity? Ini Ciri-ciri dan Contohnya.” Detik.com. Diakses pada 1 Desember 2025 dalam https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-7612216/apa-itu-toxic-masculinity-ini-ciri-ciri-dan-contohnya

Redaksi. “Kasus Bunuh Diri Pria Lebih Tinggi Dibandingkan Perempuan.” Bisnis.com. Diakses pada 1 Desember 2025 dalam https://lifestyle.bisnis.com/read/20231212/106/1723298/kasus-bunuh-diri-pria-lebih-tinggi-dibandingkan-perempuan

Pusiknas Polri. “Laki-laki Paling Banyak Lakukan Bunuh Diri.” Pusiknas Polri. Diakses pada 1 Desember 2025 dalam https://pusiknas.polri.go.id/detail_artikel/lakilaki_paling_banyak_lakukan_bunuh_diri

Luqman, K. “Peneliti BRIN Sebut Kasus Bunuh Diri di Dominasi oleh Remaja dan Mahasiswa Laki-laki.” Kompas. Diakses pada 1 Desember 2025 dalam https://www.kompas.tv/nasional/525361/peneliti-brin-sebut-kasus-bunuh-diri-di-indonesia-didominasi-oleh-remaja-dan-mahasiswa-laki-laki

WHO. Respect Women: Mencegah Kekerasan terhadap Perempuan. (Daring: WHO, 2019). Diakses pada 1 Desember 2025 dalam https://asiapacific.unwomen.org/sites/default/files/2024-05/ap-c837-02-mencegah-kekerasan-terhadap-perempuan

 

Penulis: Hanan Khairul Tamama & Galih Pawana Cahya Nugraha

Editor: Marricy

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top