Forum Diskusi Pekakota Ke-74 : Realita Kehidupan Masyarakat Pesisir dalam Menghadapi Banjir dan Angan-angan Giant Sea Wall.

Dok. Hayamwuruk/Irsyad

Fenomena penurunan muka tanah di kawasan pesisir utara menjadi penyebab rawannya intensitas banjir di kawasan utara Jakarta. Pemerintah memiliki wacana untuk pembangunan Giant Sea Wall, yaitu sebuah tembok laut raksasa yang dibangun sepanjang garis pantai dengan tujuan untuk mencegah erosi dan gelombang laut. Namun, apakah pembangunan Giant Sea Wall dapat menjadi solusi yang tepat?

Forum Diskusi Perkotaan (Urban Studies) yang diinisiasi oleh Forum Pekakota bekerjasama dengan Rujak Center for Urban Studies pada (17/12/2024) berlokasi di Grobak Art Kos II Hysteria, Gajahmungkur, Semarang, menghidupkan topik permasalahan ekologi di pesisir perkotaan sebagai pembahasan yang cukup intens dalam forum tersebut.

Pada forum yang bertajuk “Respons pada Kota yang Tenggelam” Elissa Sutanudjaja (Elissa) sebagai pemateri dalam forum diskusi tersebut menyampaikan pandangannya terhadap fenomena penurunan muka tanah di pesisir utara pulau Jawa serta analisisnya terhadap proyek Giant Sea Wall.

Elissa menyampaikan bahwa masalah penurunan muka tanah di kawasan pesisir utara menjadi salah satu penyebab terjadinya banjir di kawasan utara. Penurunan muka tanah ini juga berdampak pada rentannya daerah kawasan utara terkena banjir rob. Tidak hanya itu, Elissa juga mengungkapkan bahwa penurunan muka tanah di pesisir utara mengalami peningkatan yang cukup signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

Menurut Elissa, fenomena penurunan muka tanah ini disebabkan oleh pengambilan air tanah secara berlebihan baik oleh masyarakat maupun pelaku industri. Tidak hanya itu, pelaku industri yang nakal juga kerap melanggar aturan terkait ambang batas maksimal pengambilan air tanah.

“Fenomena penurunan muka tanah di pesisir utara ini disebabkan oleh pengambilan air tanah yang dilakukan oleh industri yang ada di sekitar sana. Sebenarnya pengambilan air tanah itu diperbolehkan dengan batas sampai 10 meter, namun terkadang pengambilan air tanah melebihi batas yang sewajarnya, bahkan ada yang mencapai 250 meter. Tentunya ini melanggar aturan,” ujar Elissa.

Di satu sisi, rencana pemerintah untuk membangun proyek Giant Sea Wall sebagai solusi atas permasalahan banjir yang ada di utara dianggap tidak menyelesaikan akar masalah yang ada, ditambah pembangunan Giant Sea Wall membutuhkan anggaran yang tidak sedikit. 

“Pemerintah seharusnya berfokus menjawab akar masalah, bukan dampak dari permasalahan tersebut. Ini lah yang menjadi permasalahan dalam proyek teknokratik meskipun itu bagus namun tidak mengkaji dampak jangka panjangnya,” tegas Elissa.

Elissa juga menawarkan solusi untuk menjawab permasalahan yang ada, yaitu dengan mengurangi pengambilan air tanah dan memanfaatkan aliran air pipa yang disalurkan dari daerah-daerah luar, namun yang menjadi masalah adalah political will pemerintah sebagai pemangku kebijakan (regulator) untuk memperbaiki permasalahan ekologi tersebut.

“Pemerintah Provinsi (Pemprov) Daerah Khusus Jakarta (DKJ) cenderung menganggap kerjasama antar kabupaten atau kota adalah hal yang berat. Padahal permasalahan satu kota tentunya tidak dapat dilepaskan dari daerah lainnya sehingga perlu kolaborasi antara daerah satu dengan daerah yang lainnya,” ujar Elissa.

Narasumber lainnya dari Rujak Center for Urban Studies, Haratua Zosran Abednego ikut menyinggung masalah pembangunan Giant Sea Wall yang dicanangkan oleh pemerintah. Mengambil contoh Kampung Akuarium di Jakarta Utara, Haratua menjelaskan dampak yang ditimbulkan dari pembangunan tanggul di sekitar kawasan Kampung Akuarium yang membuat akses masyarakat menuju lautan menjadi terbatas bahkan tertutup.

Haratua juga menambahkan jika pembangunan tanggul di sekitar Kampung Akuarium membuat akses masyarakat terhadap beberapa lokasi penting menjadi terputus. Hal ini membuat masyarakat kampung Akuarium diharuskan mencari jalur alternatif menuju lokasi yang ingin dituju seperti sekolah, dermaga, tempat kerja dan tempat lainnya yang sebelumnya dapat dicapai menggunakan perahu.

“Hal ini tentunya sangat mempengaruhi masyarakat disana karena mereka harus kembali beradaptasi dengan kondisi yang ada. Padahal delapan tahun yang lalu akses mereka menuju suatu lokasi dapat dicapai dengan menggunakan perahu. Namun, sayangnya sekarang akses mereka terputus dengan laut,” terang Haratua.

Kehidupan masyarakat di pesisir utara semakin terancam dengan penurunan muka tanah setiap tahunnya yang disebabkan oleh penggunaan air tanah oleh pelaku industri yang berada disana. Solusi berupa pembangunan Giant Sea Wall bukanlah solusi yang tepat atas permasalahan tersebut.

 

Reporter: Irsyad

Penulis: Irsyad

Editor: Indri

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top