
Sebanyak 38 Bhikkhu atau Bhante Internasional menjalani perjalanan ritual thudong sampai di Kota Semarang pada hari Selasa (6/5/2025) dan dilanjut Rabu (7/5/2025) ke Kabupaten Semarang. Perjalanan yang bertujuan akhir Candi Borobudur ini dilakukan dalam rangka untuk menyambut Hari Raya Waisak. Lebih dari sekadar perjalanan spiritual, thudong juga menjadi cerminan toleransi antar umat beragama, terutama di Indonesia.
Internasional Thudong pertama kali dilaksanakan pada tahun 2023 dan tahun ini menjadi yang kedua kalinya bagi Indonesia. Prabu Diaz, yang akrab dipanggil Mamo sebagai penanggung jawab Internasional Thudong 2025, menjelaskan perjalanan ritual thudong dimulai dari Thailand pada 6 Februari 2025 dan tiba di Indonesia dengan kapal feri tepatnya di Batam tanggal 16 April 2025.
Setelah tiba di Jakarta pada 18 April, perjalanan kaki dimulai pada 19 April hingga sampai di Semarang pada 6 Mei dengan tujuan akhir Candi Borobudur pada 10 Mei.
Menurut Mamo, thudong adalah kegiatan spiritual berjalan kaki sebagai bentuk pengujian iman sembari menghindari apapun yang membangkitkan godaan duniawi. “Dia uji keimanan dia dengan jalan kaki, dan juga misalnya ada binatang yang tidak boleh dibunuh di perjalanan” ungkap Mamo.
Sementara Anita, salah satu umat yang mengikuti acara di pemberhentian Yayasan Tjie Lam Tjay memaknainya sebagai ajaran spiritual untuk keluar dari kejenuhan siklus hidup. “Thudong seperti napak tilas. Jadi, seolah-olah dalam kita memaknai sang Buddha dulu membabarkan ajaran yang dilakukan dengan jalan kaki,” jelasnya.
Yayasan Tjie Lam Tjay menjadi pemberhentian terakhir para Bhikkhu sebelum melanjutkan perjalanan ke Kabupaten Semarang. Sambutan dilakukan sore hari, kemudian dilanjutkan dengan jadwal membersihkan diri, dan ramah tamah dari pemerintah dan warga setempat di malam harinya.
Selama acara tersebut para umat Buddha melakukan ritual penyalaan seribu lilin teratai. Momen ini dimaknai Anita sebagai simbol pencerahan diri sebelum menerangi orang lain.
“Jadi lilin itu bermakna jika dibakar, yaitu dengan membakar diri, membakar pandangan-pandangan keliru, supaya kita melihat orang lain dapat berkah itu kita tidak jealous atau iri, tapi kita ikut senang,” jelasnya.
Hadirnya thudong di Indonesia, menjadi perjalanan spiritual yang dihiasi dengan nilai-nilai toleransi yang nyata. Mamo berbagi pengalamannya, bagaimana masyarakat menyambut hangat para Bhikkhu dengan memberikan makanan, minum, sandal, dan handuk kecil,
“Mereka begitu sopannya membantu, itu kan sebuah toleransi yang indah, akhirnya para Bhikkhu melihat kondisi itu, dia bilang Indonesia adalah rumah kedua saya,” ungkap Mamo
Adanya thudong melintasi Indonesia, diharapkan dapat menjadi contoh toleransi yang bisa diteruskan ke generasi selanjutnya di masa depan. Anita juga berpesan bahwa thudong menjadi simbol welas asih, pengingat bahwa kebaikan tidak mengenal batas agama.
“Tapi kalau kita berbuat baik, lihat orang tidak bisa makan, kita punya lebih, kenapa tidak dikasih. Saya percaya bukan hanya di agama Buddha, semua agama ada,” ujarnya.
Reporter: Diaz, Dila, Aida, Ketrin
Penulis: Ketrin
Editor: Diaz