Memahami Isra Mikraj: Ketika Akal Bertemu Batasnya

Ilustrasi/Chelsya

Isra Mikraj merupakan peristiwa luar biasa yang diperingati setiap 27 Rajab oleh kaum muslimin. Secara umum, peristiwa ini dipahami sebagai perjalanan spiritual Nabi Muhammad ﷺ untuk menerima perintah langsung dari Tuhan. Berbagai kitab tafsir, sirah, dan literatur Islam menyajikan Isra Mikraj secara kronologis sehingga melahirkan beragam interpretasi mulai dari pendekatan spiritual-teologis hingga spekulasi ilmiah dan sains modern. Di Indonesia, peristiwa ini kerap dikaji melalui forum ceramah sebagai upaya memahami maknanya bagi kehidupan beragama.

Muhammad, sebagai tokoh utama dalam peristiwa ini, dikisahkan menempuh perjalanan panjang dari Makkah menuju Palestina (Isra). Kemudian, dari Palestina Muhammad dibawa naik oleh kendaraannya bernama Burak melintasi langit hingga lapis ketujuh dan bertemu dengan Tuhannya (Mikraj). Setelah urusan dengan Tuhannya selesai, Muhammad kembali ke Makkah dengan rute yang sama. Semua terjadi hanya dalam satu malam. 

Berdasarkan kronik tersebut, peristiwa ini tampak sangat tidak masuk akal bagi manusia. Mengapa demikian? Jangankan perjalanan dari bumi naik ke langit ketujuh, Muhammad menempuh semua itu hanya dalam waktu satu malam dan itu sangat di luar nalar. Bayangkan, jarak Makkah menuju Palestina saja mencapai ribuan kilometer yang normalnya memerlukan waktu berbulan-bulan menggunakan unta, kendaraan tercepat kala itu.

Walaupun begitu, ada beberapa intelektual muslim yang mencoba menghitung peristiwa ini menggunakan pendekatan matematika dan fisika. Mereka mengaitkannya dengan teori relativitas Einstein yang memuat keterkaitan antara ruang dan waktu. Butuh banyak sekali rumus dan angka dalam proses tersebut untuk memahaminya sehingga sulit dicerna oleh berbagai kalangan. Pada pembahasan kali ini, penulis tidak ingin membahas Isra Mikraj menggunakan pendekatan sains tersebut. Sebaliknya, penulis akan menekankan pada analogi tentang bagaimana peristiwa Isra Mikraj dapat dipahami oleh orang awam, meskipun di luar nalar. 

Bayangkan, kita saat ini adalah seekor semut di tengah kawanannya. Berdasarkan rata-rata ukuran semut, mereka menempuh perjalanan dengan kecepatan yang sangat lambat bila dibandingkan manusia. Selanjutnya, kita mengambil jarak Semarang–Surabaya sejauh ratusan kilometer sebagai contoh. Biasanya, seseorang yang melakukan perjalanan tersebut menggunakan mobil memerlukan setidaknya 7 jam lamanya, yang jika dihitung pulang-perginya menjadi 14 jam. 

Kita kembali lagi ke perspektif semut. Bila melihat kemampuan gerak semut, dalam waktu 14 jam tersebut, seekor semut yang berjalan sendiri mungkin hanya mampu menempuh jarak kurang dari satu kilometer. Itu bahkan belum menyentuh satu persen dari total jarak Semarang–Surabaya. Namun, apakah memungkinkan bagi semut itu menempuh jarak ratusan kilometer pulang-pergi dengan waktu yang sama? Tentunya memungkinkan. 

Katakanlah semut ini dari Semarang naik ke sebuah mobil yang menuju Surabaya dan langsung kembali lagi. Dengan perhitungan yang telah dipaparkan, mobil tersebut telah menempuh perjalanan ratusan kilometer dalam waktu 14 jam. Otomatis, semut yang berada di dalam mobil juga menempuh jarak dan waktu yang sama. 

Kemudian, semut ini bercerita kepada kawanannya bahwa dia telah melakukan perjalanan sejauh ratusan kilometer dalam waktu 14 jam. Respon kawanannya jelas menolak berita tersebut karena sangat tidak masuk akal bagi mereka. Sewajarnya semut dalam waktu 14 jam hanya mampu menempuh jarak yang sangat pendek. Mereka spontan akan memberi cap semut ini sebagai pembohong, padahal jelas semut tadi benar-benar melakukan perjalanan tersebut dengan mobil.

Begitulah yang terjadi pada Muhammad ketika memberitakan peristiwa ini kepada penduduk Makkah saat itu. Mereka juga menolak dengan alasan tidak bisa dinalar. Bila melihat dari analogi semut, mereka tidak percaya karena tidak ada pengalaman serupa sebelumnya. Sebagaimana semut menolak kemungkinan perjalanan tersebut karena berada di luar pengalaman dan jangkauan dunianya. Penduduk Makkah pun menolak peristiwa Isra Mikraj karena berada di luar batas rasionalitas yang mereka kenal.

Perbedaannya terletak pada semut yang tidak tahu mengenai mobil, sedangkan penduduk Makkah tidak tahu mengenai Burak. Hal ini menunjukkan ketidaktahuan bukan berarti ketidakmungkinan.

Sejatinya, Tuhan menciptakan akal bagi manusia agar mereka berpikir. Berapa kali Tuhan mempertanyakan dalam firman-Nya, “tidakkah kamu berpikir?”. Ketika manusia memilih untuk tidak menggunakan akalnya, di situlah sebenarnya mereka sedang menyia-nyiakan salah satu karunia paling mendasar yang diberikan Tuhan. Seolah-olah akal diciptakan tanpa tujuan, padahal setiap ciptaan Tuhan pasti memiliki manfaat dan tidak ada yang benar-benar sia-sia, kecuali jika manusia sendiri yang mengabaikannya.

Rasa ingin tahu pada dasarnya telah melekat dalam diri manusia sejak awal. Ia seperti bawaan dasar yang mendorong manusia untuk bertanya, mencari, dan memahami. Dorongan ini tidak mudah dihilangkan, bahkan sering kali justru semakin kuat ketika ditekan atau dibatasi. Dari sinilah proses belajar dan berpikir manusia bermula sebagai cara alami untuk memahami dirinya dan dunia di sekitarnya.

Namun demikian, akal manusia juga memiliki keterbatasan. Ia hanya mampu menalar apa yang masih berada dalam jangkauan pengalaman dan penangkapan panca indra. Inilah mengapa analogi menjadi penting. Analogi tidak membuat sesuatu yang supranatural menjadi rasional dalam pengertian ilmiah, melainkan membuat kita memahami bahwa ada kemungkinan-kemungkinan di luar jangkauan pengalaman kita yang tetap bisa terjadi.

Semut tidak bisa memahami bagaimana mobil bekerja. Namun, semut bisa merasakan bahwa dia telah berpindah tempat. Begitu pula manusia dengan Isra Mikraj. Kita mungkin tidak bisa memahami sepenuhnya bagaimana mekanisme perjalanan tersebut, tapi kita bisa memahami bahwa ada kendaraan yang berada di luar pengalaman manusia biasa, yaitu Buroq yang memungkinkan perjalanan itu terjadi.

Ketika berhadapan dengan hal-hal supranatural yang sepenuhnya berada di luar pengalaman manusia, bukan berarti kita harus menutup akal sama sekali. Justru akal digunakan untuk memahami bahwa ada batasan-batasan dalam pengetahuan kita. Di titik inilah keyakinan mengambil peran, bukan sebagai pengganti akal, melainkan sebagai pelengkap ketika akal telah mencapai batasnya.

Pada akhirnya, seseorang harus mampu menyeimbangkan antara akal dan keyakinan. Jika akal didewakan dalam urusan agama, seseorang akan meragukan keyakinannya terlebih dalam urusan supranatural. Jika hanya sebatas yakin saja tanpa mau memahami, ia akan membuat agama jatuh kepada dogma buta. 

Isra Mikraj mengajarkan kita tentang keseimbangan ini. Kita menggunakan akal untuk memahami bahwa ada keterbatasan dalam pengalaman manusia. Kita menggunakan analogi untuk membuka kemungkinan-kemungkinan yang sebelumnya terasa mustahil. Kemudian,  kita menggunakan keyakinan untuk menerima bahwa Tuhan memiliki cara-cara yang berada di luar pemahaman kita.

Analogi semut tadi bukan untuk membuktikan Isra Mikraj secara ilmiah. Ia hanya menunjukkan bahwa penolakan terhadap sesuatu yang tidak masuk akal bisa jadi hanya karena keterbatasan pengalaman kita, bukan karena hal itu benar-benar mustahil. Semut yang menolak cerita kawanannya tentang perjalanan ratusan kilometer bukan karena perjalanan itu mustahil, tapi karena semut itu tidak pernah menaiki mobil.

Begitu pula dengan kita. Ketika kita mendengar tentang Isra Mikraj, yang pertama kali bereaksi adalah pengalaman kita sebagai manusia biasa yang terikat pada hukum fisika yang kita kenal. Namun, apakah itu berarti peristiwa tersebut mustahil? Atau mungkin kita hanya belum mengenal kendaraan yang digunakan?

Maka, kita kembali pada pertanyaan Tuhan: tidakkah kamu berpikir? Berpikir di sini bukan berarti memaksakan akal untuk memahami yang supranatural, melainkan menggunakan akal untuk menyadari bahwa ada batasan dalam pengetahuan kita. Di situlah kita belajar untuk merendahkan diri, bahwa apa yang kita anggap tidak mungkin barangkali hanya karena keterbatasan pengetahuan yang kita miliki.

 

Penulis: Iyock

Editor: Arya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top