Hawe Pos Edisi Cultural Studies Segera Terbit

Tema: Sastra Cyber

Subtema
1. Sastra Cyber dan matinya Sastra Koran
2. Blog dan Sastra Cyber

Prolog

Bermunculannya situs-situs internet yang di dalamnya memuat karya sastra (kemudian disebut situs sastra online) membuktikan dunia sastra tak luput dari perkembangan teknologi informasi. Dengan hadirnya teknologi informasi ini, karya sastra tidak hanya lagi berbentuk cetakan (printed) seperti koran, tapi juga menjelma dalam bentuk teks-teks digital melalui jaringan teknologi internet.

Di Indonesia, gerakan ini telah dimulai beberapa tahun lalu, sekitar periode awal 2000-an, ketika demam internet mulai merambah masyarakat luas. Muncul pro-kontra antara kubu yang mendukung gerakan Sastra Cyber dan yang menolak kehadirannya. Bagi sebagian pemerhati sastra, kehadiran Sastra Cyber dipandang sebelah mata. Bahkan tak ubahnya sampah, yang menjadi bahan olok-olok, karena ketidakmampuannya menumbangkan sastra mapan, yakni Sastra Cetak.

Benarkah demikian, kehadiran Sastra Cyber adalah pelampiasan sebagian penulis yang tak mampu menciptakan karya sastra sesuai standar media massa, penerbit, yang dijaga ketat oleh para editor dan harus melalui proses birokrasi panjang untuk bisa diterbitkan?

Pertanyaan di atas hanya bisa dijawab oleh masing-masing pelaku atau pendukung Sastra Cyber. Atas dasar apa mereka menjadikan teknologi internet sebagai medium bersastra.

Mencermati perkembangan Sastra Cyber, selain melalui situs-situs sastra online, yang menarik adalah melalui media blog (weblog) yang dikelola oleh beberapa penulis secara individu. Di dalam blog itu dimuat karya-karya semacam puisi maupun cerpen.

Blog menjadi media yang sangat efektif menuangkan kreativitas penulis. Seorang penulis di sini tak perlu direpotkan oleh birokrasi media maupun penerbitan. Ditulis sendiri, diedit sendiri, dan dipublikasikan sendiri. Namun jangan salah, sama halnya ketika suatu karya diterbitkan di media ataupun dalam bentuk buku, karya yang dimuat diblog juga akan mendapatkan sambutan yang bahkan jauh lebih luas ketika diterbitkan dalam bentuk cetak. Apalagi dengan fasilitas yang ditawarkan blog, misalnya, setiap tulisan bisa dikomentari langsung oleh pembaca, satu hal yang tak mungkin bisa dilakukan oleh Sastra Cetak.

Terlepas dari pro-kontra, ataupun keraguan sebagian orang akan kualitas estetis dari Sastra Cyber, kehadiran teknologi informasi telah memberikan kontribusi penting bagi perkembangan dunia sastra Indonesia. Lambat laun, ketika internet telah menjadi kebutuhan masyarakat luas yang bukan lagi menjadi barang mewah, maka Sastra Cyber tak mustahil lagi akan menggeser sastra cetak, karena beberapa fasilitas kemudahan yang ditawarkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back To Top