Tangisan Pendidikan Indonesia

Oleh Akbar Ridwan[1]
 Dokumentasi :http://e-putra01.blogspot.co.id.
Zaman
bergerak, waktu terus berjalan, dan segalanya berubah. Dahulu kaum terpelajar
menjadi salah satu kelas yang mempelopori kemerdekaan; berjuang melawan
pembodohan, berjuang untuk kemerdekaan Indonesia. Mereka tertatih-tatih
melakukan itu semua. Di bawah tekanan para penjajah, mereka seolah merangkak
bahkan tiarap dalam melewati proses pendidikan dan proses untuk mencapai
kemerdekaan. Semua yang dilakukan tiada mudah. Bahkan, pasca pemberontakan
1926, banyak di antara mereka, termasuk Bung Hatta dan Sjahrir yang diasingkan
di Tanah Merah: Boven Digul. Pengasingan untuk Bung Karno? Mulai dari Ende di
Flores sampai Bukit Tinggi pernah dirasai oleh beliau. Penderitaan yang dialami
kelas terpelajar dan para pejuang kemerdekaan di Tanah Air juga dialami oleh
mereka yang menjadi pelarian politik internasional. Sebut saja Tan Malaka.
Sosok yang meneruskan pendidikannya ke Belanda ini akhirnya harus
berpindah-pindah untuk melindungi dirinya. Pemikirannya yang progresif membuat
beliau menjadi buruan politik internasional. Mulai dari Peking hingga Soviet
pernah di sambanginya. Senada dengan Tan Malaka, tiga serangkai, para pendiri
Indische Partij, pun mengalami hal yang serupa: menjadi tahanan politik dan
diasingkan ke Belanda.
Penderitaan
yang dialami tiada serta-merta memberanguskan semangat juang mereka. Segala
usaha dilakukan demi terwujudnya cita-cita yang mulia: Indonesia Merdeka. Salah
satu usaha dari sekian banyaknya usaha yang ditempuh ialah melalui pendidikan.
Lihat saja bagaimana kiprah Sekolah Sarekat Islam Semarang dan Sekolah Taman Siswa,
yang mana sejak pendiriannya ialah untuk mendidik dan menciptakan kader-kader
yang dengan ikhlas melanjutkan perjuangan.
Kemerdekaan
yang diraih dengan pengorbanan yang seberat-beratnya pengorbanan akhirnya
dicapai pada 17 Agustus 1945. Segala usaha yang dilakukan membuahkan hasil.
Sekali pun demikian, ada baiknya kita tiada melihat kemerdekaannya saja,
melainkan melihat dan belajar dari prosesnya. Sebaik-baiknya sikap adalah sikap
menghormati proses dan dari proses itulah kita dapat belajar memaknai
kemerdekaan.
Selayaknya
yang saya serukan di paragraf awal, kemerdekaan yang diraih tiada pula terlepas
dari kelas terpelajar. Mereka adalah orang-orang terdidik yang tahu bagaimana
mengunakan ilmunya. Lantas, bagaimana dengan kelas terpelajar saat ini? Kelas
terpelajar yang sudah hidup di zaman merdeka. Bagaimana kedudukan pendidikan
Indonesia saat ini?
Sungguh
berat bagi saya untuk memberikan opini berkenaan dengan pendidikan di Indonesia
saat ini. Bertahun-tahun saya dididik dengan sistem gaya bank. Guru menjelaskan
dan murid mendengar dan segala yang diucap oleh guru ialah suatu kebenaran
mutlak dan murid tidak boleh membantah. Kalau-kalau membantah, maka malapetaka
didapat. Sekecil-kecilnya malapetaka itu ialah, bentakan karena dianggap
melawan.
Saat
ini saya melanjutkan pendidikan di salah satu Perguruan Tinggi Negeri di
Semarang. Ada cukup perbedaan yang saya rasakan terkait sistem pendidikan.
Ketika gaya bank sudah tiada lagi saya rasakan, persoalan lain ialah
membungkamnya mulut-mulut kelas terpelajar saat ini. Ketika dosen sudah
memberikan ruang bagi mahasiswa untuk berdiskusi, mahasiswa malah memilih diam.
Saya pikir, mereka yang lebih memilih diam, baik di dalam kelas maupun di luar
kelas adalah orang-orang yang sedang menerapkan pepatah “diam adalah
emas.” Tetapi, saya punya pengharapan besar, kalau-kalau mereka yang diam
(termasuk saya) sadar bahwasannya segala persoalan yang sedang terjadi di
Indonesia tiadalah dapat diselesaikan dengan cara diam.


Saya
tiada tahu pasti apa yang menyebabkan mahasiswa zaman sekarang gemar sekali
diam, gemar sekali enggan menulis lebih-lebih membaca. Kalau saya boleh
berpendapat sebagai mahasiswa yang malas menulis dan malas membaca, saya beranggapan
menulis itu tidak berguna dan membaca itu membodohkan. Kalau kalian tiada
percaya, silahkan kalian menulis dan membaca. Paling-paling ketika kalian
selesai menulis, kalian akan berpikir, “Kenapa saya bisa menulis seperti
ini?” dan ketika kalian banyak membaca, paling-paling kalian akan merasa
bodoh. Itulah sebab-musabab kenapa saya katakan menulis itu tidak berguna dan
membaca itu membodohkan.


Sudah
kelas terpelajarnya terbelakang, instisusinya terbelakang pula. Baru-baru ini,
ada institusi pendidikan yang meresmikan PT miliknya. Manusia memang tiada
puasnya. Sudah jadi institusi pendidikan, sekarang malah merangkap menjadi PT.
Sebetulnya, ini lembaga pendidikan atau korporat? Atau lembaga pendidikan
sekaligus korporat? Memang, idealnya agar lebih mudah lembaga pendidikan itu
harus sekaligus menjadi korporat: menggunakan lembaga pendidikannya untuk
mencetak budak, lalu mengirimkan budaknya ke perusahaan yang di punya, dan
jangan lupa pula mengadakan pelatihan-pelatihan untuk calon budak. Kalau sudah
begitu, kelas terpelajar pasti akan lupa dengan AMPERA (Amanat Penderitaan
Rakyat). Memang sudah semestinya kelas terpelajar saat ini melupakan Amanat
Penderitaan Rakyat. Buat apa turun ke bawah ke massa rakyat? Hanya buang-buang
waktu. Lebih baik bermanja-manja di pusat perbelanjaan. Buat apa menulis dan
membaca banyak buku? Lebih baik menyibukkan diri dengan permainan di telepon
pintar atau habiskan waktu di media sosial. Kelas terpelajar memang harus
begitu bukan? Toh kelas terpelajar saat ini dicetak untuk menjadi budak.


Kemerdekaan
yang diraih dengan pengorbanan yang seberat-beratnya pengorbanan telah dikhianati
oleh generasi penerus. Mereka yang duduk di kursi dewan sibuk bertengkar, yang
lain sibuk berebut kursi, kelas terpelajar yang harusnya menenangkan hati
rakyat dengan posisi di bawah kakinya kini malah duduk di atas kepalanya.
Ketika semua hal tersebut sudah terjadi, besar keyakinan saya, bahwasanya masih
ada kelas terpelajar yang sadar dengan posisi mereka seharusnya. Pengharapan
yang mengiris hati ialah semoga mereka para kelas terpelajar yang masih sadar
tetap dilindungi keberadaannya agar jangan sampai punah dan yang sudah barang
tentu diharapkan ialah terjadinya revolusi pendidikan di Indonesia. Kita harus
menuju dua Mei.


[1] Penulis
adalah Mahasiswa Jurusan  Ilmu Sejarah
FIB Angkatan 2014 

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back To Top