[OPINI] Banggakah Kita dengan Bahasa Negara?

Oleh: Dandi Hermawan, Sastra Indonesia 2017 


Dok.
ubaya.ac.id
Satu nusa, satu bangsa,
satu bahasa kita. Tanah air pasti jaya untuk s’lama-lamanya. Indonesia pusaka,
Indonesia tercinta. Nusa, bangsa, dan bahasa kita bela bersama
. Lirik tersebut merupakan lagu nasional
ciptaan Liberty Manik. Lagu yang menggambarkan bahwa bangsa Indonesia terdiri dari
berbagai perbedaan yang kemudian menjadi satu kepulauan, satu bangsa dan satu bahasa.

Lagu
ini selalu menjadi identitas setiap menyambut peringatan hari Sumpah Pemuda. 28
Oktober 1928 menjadi awal sejarah bagi bangsa Indonesia mendeklarasikan diri.
Di dalam sumpah tersebut salah satunya berbunyi, “Kami putra dan putri
Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.” Sumpah ketiga pada
Sumpah Pemuda menjelaskan secara gamblang bahwa bahasa Indonesia menjadi fokus pemersatu
komunikasi antarsuku di Nusantara. Selain itu, bulan Oktober yang menjadi saksi
sejarah tersebut mendapatkan julukan sebagai Bulan Bahasa. Hal ini menunjukkan kecintaan
masyarakat Indonesia terhadap bahasa pemersatu. Bahkan di dalam Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 mempertegas keberadaan bahasa
Indonesia pada Bab XV tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara serta Lagu
Kebangsaan pasal 36 yang berbunyi, “Bahasa Negara ialah Bahasa Indonesia.” Pemerintah
pun menguatkan kembali dengan memperjelas pada Undang-Undang Nomor 24 tahun
2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan.

Namun
dewasa ini, karena Indonesia dihuni oleh warga negara multilingual mulai menciptakan
gejala baru berupa campur kode. Campur kode merupakan kebiasaan menggunakan lebih
dari satu bahasa dalam berkomunikasi. Hal ini sudah tidak asing bagi
orang-orang yang memiliki kemampuan berbahasa lebih dari satu bahasa. Namun,
apakah ini akan merusak bahasa Indonesia jika dicampur-adukkan dengan bahasa
lain? Tentu saja dalam kehidupan sehari-hari merupakan hal yang wajar. Akan
tetapi, setiap orang perlu mengetahui kapan dan di mana boleh bertutur atau menulis
dengan mengombinasikan kosakata berbagai bahasa.

Selain itu dalam penguatan bahasa Indonesia, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
Pusat bekerjasama dengan balai bahasa di setiap provinsi Indonesia menyelenggarakan
UKBI (Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia). UKBI merupakan tolok ukur atau standar
penggunaan bahasa Indonesia oleh para penuturnya, baik penutur asli maupun penutur
asing. Ketika sudah menjalani tahapan-tahapan tes UKBI, seseorang akan mendapatkan
hasil akhir berupa skor dan kategori, baik itu kategori terbatas, marginal,
semenjana, madya, unggul, sangat unggul dan istimewa. Akan tetapi, sosialisasi
UKBI kepada masyarakat secara umum sangatlah kurang. Bahkan, para pelajar atau mahasiswa
yang bergerak di bidang kebahasaan pun hanya sebagian kecil yang mengetahui apa
itu UKBI. Karena paradigma masyarakat, sertifikat TOEFL atau IELTS lebih menguntungkan
dan menjamin seseorang diterima di berbagai tempat kerja daripada sertifikat
UKBI.

Terus
terang, UKBI sebaiknya diwajibkan bagi para pelajar di tingkat SMA dan para
pekerja asing di Indonesia. Kadang, kalangan pelajar dalam menghadapi ujian nasional
Bahasa Indonesia tidak selalu mendapatkan nilai yang memuaskan. Salah satu penyebabnya
karena terlalu menyepelakan bahasa Indonesia yang dianggap mudah. Padahal,
soal-soal ujian nasional sudah memiliki standar tersendiri. Begitu pula dengan
UKBI yang menjadi standar bagi seseorang untuk mengetahui seberapa jauh dalam menggunakan
bahasa Indonesia yang baik dan benar. Bagi kalangan pekerja asing wajib mengikuti
dan mendapatkan sertifikat UKBI supaya mereka bekerja di Indonesia tetap menggunakan
bahasa Indonesia, bukan bahasa internasional maupun bahasa negara asal. Jika pemerintah
tidak menegaskan tentang pentingnya UKBI bagi warga negara Indonesia, maka semakin
lama fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu dan bahasa negara akan tergantikan
dengan bahasa asing. Sudah sepatutnya bagi setiap orang menghargai perjuangan
para pahlawan yang ikut menyukseskan Sumpah Pemuda. Tanggung jawab setiap warga
negara ialah mempertahankan, menggunakan, dan terus menyesuaikan perkembangan zaman.

Bahasa
Indonesia pun mampu menyesuaikan perkembangan zaman. Terlihat dari berbagai kosakata
baru yang muncul menggantikan kosakata bahasa asing, seperti kosakata “swafoto”
menggantikan kosakata selfie;
kosakata “lantatur” menggantikan kosakata drive-thru;
kosakata “bank daya” menggantikan kosakata power
bank
; kosakata “tetikus” menggantikan kosakata mouse (bidang komputer); dan berbagai macam kosakata baru mau pun
kosakata lama yang dipakai kembali untuk menggantikan kosakata tertentu. Tidak seluruh
kosakata bahasa asing dipakai atau diterima secara mentah dalam berbahasa
Indonesia.

Untuk
itu, banggalah dalam berbahasa Indonesia. Mari kita utamakan bahasa Indonesia,
lestarikan bahasa daerah dan kuasai bahasa asing.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top