Teater Emka Sampaikan Tuntutan Lewat Naskah Berjudul ‘Dengarkan’

Dok. LPM Hayamwuruk

Kamis (16/7/2020), Teater Emper Kampus (Emka) mengadakan pertunjukan seni di sekitar Bundaran Universitas Diponegoro (Undip), sebagai respon atas kebijakan kampus di masa pandemi yang membebankan seluruh mahasiswa dan juga bentuk kekecewaan atas tidak hadirnya Rektor Undip, Yos Johan Utama, dalam menghadiri undangan audiensi terbuka.

Emka yang tergabung bersama Aliansi Suara Undip (ASU) menyatakan sikap, bahwasanya mereka mendukung penuh tujuh tuntutan mahasiswa yang dilayangkan kepada pihak Universitas.

Ainaya Shafira, sutradara sekaligus pemeran, menyatakan bahwa naskah ini dituliskan sebagai bentuk keresahan atas proses penurunan Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang dipersulit. “Karena kita sama-sama sebagai mahasiswa, sama-sama membayar UKT, jadi kita juga ingin menyampaikan keresahan kita masalah UKT,” ungkapnya.

Tidak merasakan fasilitas kampus secara langsung juga menjadi alasan mengapa Emka setuju dengan tujuh tuntutan mahasiswa, salah satunya mengenai pembayaran penuh UKT di masa pandemi ini. Aya, sapaan akrab Ainaya Shafira menyampaikan bahwa dalam kondisi seperti ini, untuk latihan pentas, waktu, dan tempat menjadi terbatas.

“Proses latihan gak bisa kaya dulu, sih. Jadi sekarang kita punya waktunya terbatas dan tempatnya terbatas. Kalau dulu masih bisa latihan, misal di lingkungan Undip, di tempat terbuka masih bisa, contohnya di Widya Puraya, tapi untuk keadaan sekarang ini, sulit kalau mau latihan di tempat terbuka,” tuturnya.

Guna membersamai teman-teman mahasiswa dalam upaya memperjuangkan hak-haknya semasa pandemi, Indah, ketua Emka Periode 2019/2020 mengatakan, jika kedepannya akan ada aksi kembali, Emka siap membantu menyuarakan keresahan yang dialami teman-teman mahasiswa.

“Untuk kedepannya, kalau teman-teman aksi lagi, selama kita (Emka) masih di Tembalang, bisa bantuk lewat fisik (pementasan), kita akan bantu. Kemungkinan yang lain, kalau temen-temen Emka yang masih di Tembalang udah pulang, kita gak bisa bantu secara fisik, tapi temen-temen Emka bakal menyuarakannya lewat social media, ujarnya”.

Rian, salah seorang anggota Emka, berharap, jika belum ada respon baik dari pihak kampus kepada mahasiswa, aksi-aksi secara daring maupun luring terus disuarakan secara konsisten. Selain menjaga semangat teman-teman, aksi yang dilakukan secara konsisten adalah bentuk keseriusan mahasiswa, agar rektorat tidak meremehkan militansi massa.

 Reporter: Ban, Zanu, Airell

Penulis: Ban

Editor: Della

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back To Top