[OPINI] Tonton Aja Dulu, Kritiknya Nanti

Sumber Gambar: CNN Indonesia

Belakangan telah terjadi debat sengit di jagat maya Twitter. Saya yang semula sama sekali tidak ingin terlibat, terpaksa menyimak serta mencari tahu sumber keributan. Rupanya, perdebatan timbul karena trailer film “Nussa”. 

Seperti yang kita tahu, “Nussa The Movie” adalah sebuah film dari seri animasi di Indonesia yang tayang di YouTube sejak 2018 serta pernah menghiasi layar kaca di salah satu stasiun televisi. Bagi saya, tidak ada yang mengganjal dan aneh pada serial animasi atau trailer tersebut. Penonton disuguhkan dengan teknik eksekusi konsep yang matang. Bisa kita lihat dari kualitas animasi 3D-nya. Bentuk visualnya enak dipandang, tidak membuat mata sepet dan lebih bagus dibandingkan animasi karya anak bangsa yang pernah tayang di Indonesia, misalnya “Adit Sopo Jarwo”.

Begitu pula jika dilihat dari segi isi. Serial animasi “Nussa” mengajak penonton untuk mengikuti kegiatan sehari-hari kakak beradik yang sarat dengan pelajaran edukatif bagi anak-anak. Pada pisode “Tolong dan Terima Kasih” yang menampilkan adegan Nussa menyuruh Rara untuk mengambil kertas HVS dan air putih tanpa ucapan tolong dan terima kasih. Umma selaku ibu mereka memberi pengertian kepada Nussa untuk tidak lupa mengucapkan kata tolong saat meminta bantuan dan kata terima kasih setelah menerina bantuan tersebut. Jika dibandingkan dengan sinetron yang marak di televisi seperti “Putri untuk Pangeran” dengan kisah anak kuliah yang setiap hari ngurusin masalah percintaan melulu. Atau sinetron “Ikatan Cinta” yang “enggak banget” untuk anak-anak, sudah sepantasnya “Nussa” patut diapresiasi.

Eh, tapi kenyataan yang terjadi tidak demikian. Beberapa waktu lalu Visinema Pictures merilis trailer film “Nussa” di kanal YouTube. Kemunculan trailer tersebut langsung membuat heboh jagat maya. Bisa dikatakan ini merupakan fenomena yang luar biasa. Pasalnya, video berdurasi 2 menit 4 detik telah menyita perhatian banyak orang. 

Pemicu dari kehebohan tersebut adalah cuitan Denny Siregar. Ia menuduh bahwa Felix Siauw, seorang tokoh HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) sebuah organisasi terlarang di Indonesia merupakan dalang dibalik film “Nussa”. Sebagai bukti atas tuduhannya itu, Denny mengomentari pakaian Nussa yang dianggap bukan pakaian anak Islam Indonesia pada umumnya, melainkan pakaian gurun pasir alias kearab-araban. Tanpa menunggu komando, berbagai macam cuitan warganet berdatangan menganggap film “Nussa” tidak mengajarkan nilai-nilai nasionalisme. Sontak, anggapan itu menuai banyak pro kontra.

Alih-alih mengapreasi karya anak bangsa, warganet malah semakin semena-mena. Tak bisa berpangku tangan, Angga Dwimas Sasongko selaku produser eksekutif film “Nussa” membantah segala tuduhan yang diberikan. Ia mengatakan tidak ada pemuka agama yang terlibat dan menyertakan potongan video seri animasi pada episode peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia yang mengandung nilai cinta tanah air. Angga juga merasa bangga karena telah terlibat dalam pembuatan film “Nussa”  dan membawa animasi Indonesia ke level yang lebih baik. 

Ternyata, bantahan Angga Dwimas Sasongko tidak membuat keributan membaik. Justru semakin memanas dan berlangsung sengit tanpa bukti yang kuat. Pertanyannya, apakah masyarakat kita memiliki waktu luang yang tumpah ruah? Bagaimana tidak, baru trailer yang durasinya tidak lebih dari 3 menit, apalagi jadwal tayangnya saja belum jelas. Lah kok diperdebatkan. Sudah paling tahu dan benar saja deh!

Jangan-jangan nih, kalau Nussa bisa berkomunikasi dengan manusia, dia akan terpingkal melihat keributan atas sesuatu yang belum pasti. Sambil tertawa, Nussa berkata, “Sungguh menyedihkan, betapa kalian tidak sedikit pun hijrah dari polemik basi.”

Sah-sah saja mengkritik dan berdebat, tapi tetap ada aturannya. Begini, jangan mentang-mentang debat online, enggak berhadapan langsung dengan lawan bicara eh jadi tidak terkendali. Sepuluh jari tangan digunakan untuk menyerang sampai melenceng dari topik pembahasan. Parahnya nih, ditambah bumbu-bumbu hoaks. Duh, memprihatinkan sekali.

Memang, justru sebagai manusia harus pandai mengkritisi sesuatu. Sebagai manusia juga, harus belajar bersikap skeptis. Hal ini sebagai pendorong untuk kemauan mencari pendekatan atas kebenaran dan tidak mudah merasa puas.

Saya sering mendengar dan melihat banyak sekali orang yang mengampanyekan “membaca”. Orang muslim pasti tidak asing dengan wahyu pertama yang diturunakan kepada Nabi Muhammad: Iqra (bacalah). Barangkali kita luput bahwa ada “teks” yang mendahului membaca. Sementara itu, membaca tidak terbatas dengan melihat tetapi juga memahami yang terkandung dalam teks.

Sama halnya dengan teks, video atau film atau apapun itu juga perlu dipahami. Sebelum berpendapat atau berdebat, sudah seharusnya kita paham dengan objek yang akan dibahas. Sehingga, untuk mengkritik sebuah film, tentu harus menontonnya terlebih dahulu. Menyitir buah pikir Bung Hatta, menonton (versi asli membaca) tanpa merenungkan adalah bagaikan makan tanpa dicerna. Coba deh bayangkan, gimana rasanya makan tanpa proses pencernaan?

 

Penulis: Farijihan Putri

Editor: Restutama

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back To Top