Insecure: Titik Nol atau Motivasi?

Ilustrasi: Najwa

Insecure nampaknya telah mewabah tanpa kenal bibit, bebet, bobot manusia. Orang yang dipandang sempurna bahkan tak lepas dari rasa insecure yang didefinisikan sebagai perasaan tak aman, cemas, atau menganggap diri sendiri inferior daripada orang lain.

Saat ini, insecure tidak melulu soal kecantikan, proporsi tubuh, atau hal-hal terkait fisik semata. Seperti muslimah anggun bernama Larissa Chou misalnya. Baru-baru ini dalam instastory-nya wanita tersebut menyatakan bahwa ia tidak pernah peduli dengan fisik, baik wajah ataupun tubuh, meskipun istri dari mantan suaminya menghina Larissa melalui SMS yang ditujukan langsung padanya. Larissa mengakui bahwa ia lebih insecure terhadap perempuan-perempuan yang berprestasi dan bisa membangun perusahaan sendiri. Hal itulah yang membuat dia termotivasi.

Lalu pertanyaan kita: bisakah insecure berubah menjadi motivasi?

Tidak beda dengan kalimat: bisakah kamu membuat roti?

Lalu jawabannya: semua bisa dengan usaha. Slogan klise memang.

Baik, kembali pada persoalan insecure. Ketika berselancar di dunia maya, hal-hal yang sering kita lihat adalah orang-orang yang terus berkarya, kecantikan dan ketampanan tiada tara, travelling lintas negara, ataupun mereka yang merintis bisnis meski di tengah pandemi yang belum usai ini.

Kemudian lagi-lagi kita membandingkannya dengan diri sendiri. Lagi-lagi merasa kecil, dan lagi-lagi merasa tak bisa berbuat apa-apa. Circle-nya akan sedemikian, berputar terus-menerus seolah tiada batasnya seperti angka nol. Dan tanpa disadari kita juga tetap berada di titik nol tersebut. Tidak membuat kemajuan apapun selain semakin ciutnya kepercayaan atas potensi diri. Acapkali kita lupa bahwa yang terlihat di dunia maya hanyalah hasil sedangkan proses dan usaha mereka yang jauh dari kata mudah seringkali tidak terekam jejaknya. Hal itulah yang membuat kita iri hingga lalai bahwa yang paling penting adalah pribadi sendiri.

Bukan sesuatu untuk dibantah jika insecure adalah hak semua orang dan tidak pernah ada matinya. Padahal kita sadar bahwa manusia diberikan porsi baik dan buruknya sama rata. Kalau mereka bisa berkarya dan berprestasi, maka kita juga bisa. Tinggal bidang apa yang kita kuasai dan kelebihan apa yang kita miliki.

Waktu yang habis untuk membandingkan hal-hal tak masuk akal, alangkah baiknya untuk self-talk mengeksplorasi talenta. Data internet yang habis untuk menyuburkan iri melihat mereka yang berprestasi, alangkah baiknya untuk branding diri. Tidak ada kata susah, karena kita bisa memulainya dengan hal yang paling sederhana.

Dan insecure memanglah persoalan diri sendiri. Hanya ada dua pilihan: kita yang pasrah terbelenggu oleh insecure hingga tetap di titik nol, atau kita yang memutarbalikkan insecure hingga dapat dijadikan motivasi untuk menolak kalah dari siapapun.

Penulis: Suci Harum W (Magang)

Editor: Aa

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back To Top