Kolektif Hysteria Respons Isu Banjir Rob Semarang Melalui Penta K Labs IV 2022

Sumber Gambar: Dok. Pribadi/Rilanda

Senin (5/12/22), Kolektif Hysteria berkolaborasi dengan Teater Emper Kampus (Emka) menggelar Dinas Cipta Tempat dan Ruang (Ditampart) #6 yang merupakan praacara Penta K Labs IV di Crop Circle Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Diponegoro.

Penta K Labs merupakan festival dua tahunan Kolektif Hysteria sejak 2016 yang terdiri dari 3 acara utama yakni pameran/art project, parallel event, dan simposium.

Pemutaran film Memories of the Sea karya sutradara Haris Yulianto, penampilan musik Balau feat Mentari, Evenless, dan monolog oleh Tingkar Ayu turut meramaikan acara.

Sebagai pembuka, Tingkar Ayu membacakan naskah berjudul Koda Nomor Empat: Hilang Keseimbangan dan Satunya Karam, mengisahkan nasib istri seorang nelayan yang berusaha menyelamatkan hidupnya.

“Aku sukanya membahas (isu) yang dekat-dekat sama aku, sih. Aku perempuan, ya, aku membahas yang dekat dengan aku (isu perempuan),” tutur Tingkar.

Monolog tersebut sejalan dengan tema utama dari Penta K Labs IV, yaitu “Malih dadi Segara” (Berubah jadi Laut) yang merespons isu perubahan tata ruang akibat manusia dan interaksinya dengan alam sehingga membuat beberapa wilayah khususnya di Pantai Utara Jawa terendam air.

“Fenomena ini membuat tanah hunian maupun daratan menjadi bagian lautan lagi yang menyebabkan penghuni perlahan menyingkir dan kehilangan tempat tinggal atau lenyap ruang nyaman mereka akibat air yang konsisten hadir menyeruak di halaman-halaman rumah,” demikian tertulis di Instagram @pentaklabs (7/11/22).

Pujo Nugroho selaku Program Director Penta K Labs IV menyampaikan, sejak 2016 festival ini banyak membicarakan isu tentang rob. Begitu pun tahun 2022 yang menggandeng Kampung Tambakrejo, salah satu kampung nelayan di Semarang Utara.

“Kami akan melangsungkan Penta K Labs yang ke-4 di salah satu kampung di Semarang Utara, Kampung Nelayan Tambakrejo. Festival ini berlangsung 17-21 Desember dan kami mengundang 50 seniman dari berbagai daerah,” ungkap Pujo.

Ke-50 seniman tersebut berasal dari berbagai daerah seperti Jawa, Sumatra, Sulawesi, Taiwan, Hongkong, Australia, hingga Meksiko.

Reporter: Farijihan, Juno, Rilanda
Penulis: Farijihan
Editor: Rilanda

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back To Top