Kebaya Merah dan Seks yang Dikomodifikasi

Sumber Gambar: Unsplash/Charlesdeluvio

Kebaya merah merupakan sebuah manifestasi budaya yang ditampilkan dalam bentuk busana. Namun akhir-akhir ini, kebaya merah mengalami perubahan makna.

Sebelumnya, penulis sengaja memberi tanda kutip pada tulisan “Kebaya Merah” agar pembaca dapat melakukan dikotomi makna antara kebaya merah dan “Kebaya Merah”

Akhir-akhir ini, publik ramai memperbincangkan kasus “Kebaya Merah”, suatu konten yang berbau pornografi di mana si pemeran (AH) menggunakan busana kebaya merah dalam melakukan hubungan seksual dengan (ACS).

Berdasarkan hasil pemeriksaan sementara Direktur Ditreskrimsus Polda Jatim Kombes Pol. Farman, kedua pemeran video porno tersebut ternyata merupakan sepasang kekasih.

Di hadapan penyidik, keduanya mengaku sudah lama menjalin asmara. Terungkap pula bahwa konten tersebut dijual dengan harga Rp750.000 dan terbagi ke dalam 92 part video.

Pada uraian di atas sangat tergambar secara eksplisit bahwa telah terjadi degradasi moral di tengah masyarakat kita, di mana kebaya merah yang ditetapkan sebagai busana nasional Indonesia, secara tidak langsung maknanya tercoreng

Hal ini tergambar ketika kita melakukan pencarian kebaya merah pada laman Google, yang terlampir adalah “Kebaya Merah” dalam makna lain.

Permasalah pornografi di Indonesia sendiri sering muncul belakangan ini, dengan didorongnya akselerasi teknologi yang kian lama kian maju, maka hampir segala bentuk ekonomi berpindah ke ruang cyber.

Maka dari itu, terbentuklah industri atau pola ekonomi yang didasarkan pada digitalisasi. Uraian ini sangat relevan dengan masyarakat saat ini, bagaimana seks dikomodifikasi menjadi bahan segar yang menjadi komoditas utama bagi asupan ekonomi beberapa kalangan.

Akumulasi harga dan transaksi jual beli menjadikan masyarakat teralienasi dari segala rongga-rongga moral, dorongan keterbukaan seks, distorsi makna seks, dsb.

Dimulai dari kasus “Vina Garut”, “Dea OnlyFans”, sampai “Kebaya Merah”. Makin indah tubuhnya, makin mahal harganya. Konstruksi sosial “kolot” semacam ini yang semakin terlihat corak tradisional, pada masyarakat yang dianggap “modern” zaman ini, ketika siapa saja dapat menikmati siapa saja secara virtual maka romantisme dalam kehidupan hilang secara perlahan.

Manusia tidak perlu lagi mengeluarkan hormon oksitosin (hormone of love) dalam bercinta, karena sudah sangat terasa nikmat bercinta dengan dirinya sendiri (masturbasi).

Bagi banyak ahli psikologi, seks adalah sebuah fakta bagi kesadaran manusia, berkaitan erat dengan reaksi-reaksi fisiologis, yang hanya dapat dipahami dengan kajian ekstensif terhadap organ-organ seksual tersebut.

Dari uraian tersebut ada sebuah pertanyaan besar, mengapa akhirnya seks menghentikan produksi akal sehat manusia, sebelum hasrat tersebut dikeluarkan? Mengapa seks seolah-olah memperbudak manusia? Fenomena ini berkaitan erat dengan seksualitas yang dikomodifikasi menjadi konten atau tontonan publik, dan mungkin saja secara sadar kita paham bahwa seks muncul oleh karena proses indrawi manusia.

Maka pada saat ini sebenarnya manusia menjadi budak nafsunya sendiri, adanya celah yang dikonstruksi itu memunculkan ide dari apa yang disebut Passionate Capitalism (Kapitalisme yang berlandaskan pada nafsu), keterlibatan hubungan interpersonal antar satu individu dan individu lainnya, tidak terlalu menjadi tumpuan dalam menciptakan hubungan seks.

Terbentuknya industri pornografi menyebabkan konten pornografi menyebar luas. Hal ini sangat disayangkan, karena masyarakat tidak mengenali dampaknya.

Kerusakan otak berat, menurunkan daya ingat, penurunan kinerja, dan yang paling marak yaitu terjerat pada seks bebas. Dengan munculnya berbagai iklan, akun media sosial, dan aplikasi berbau seks yang dapat diunduh kapan saja dan pada akhirnya secara tidak sadar menumbuhkan keinginan khalayak untuk mengikuti arus kapitalisme digital saat ini, mengakibatkan masyarakat mampu untuk melakukan seksualitas kapan saja dan di mana saja, tanpa menumbuhkan awareness yang tinggi.

Kasus yang masih hangat yaitu temuan 400-an mahasiswa di Bandung terinfeksi HIV, jelas ini merupakan sesuatu hal yang perlu dijadikan refleksi bagi masyarakat, namun bukan berarti berupaya untuk mendiskriminasi mahasiswa yang terinfeksi, melainkan menumbuhkan awareness terhadap jeratan seks bebas yang berisiko tinggi.

Masalah kelas sosial juga menjadi faktor utama bagi adanya kejahatan prostitusi ini. Kejahatan yang dimaksud adalah bagaimana pada akhirnya manusia dijadikan sebagai alat (things) untuk memenuhi demand para konsumen.

Konsumen-konsumen yang tidak memiliki awareness yang tinggi dan melakukan seks itu berdasarkan nafsu yang didorong oleh iklan, akun media sosial, dan aplikasi yang berbau seks adalah salah satu bentuk dari Passionate Capitalism tadi.

Peranan pemerintah sangat berarti dalam fenomena ini. Seperti, menghapus secara struktural aplikasi-aplikasi dan media yang berbau pornografi di dunia cyber atau adanya penyuluhan terkait dampak dari pornografi dengan memasang iklan di setiap media yang dipegang oleh pemerintah. Hal ini dilakukan karena menerapkan produk-produk hukum yang dapat menghalangi seks bebas bukanlah satu-satunya jawaban untuk dapat menuntaskan permasalahan ini.

Terlebih juga masalah kelas sosial yang semakin hari semakin terlihat gap-nya, bukan hanya dari segi ekonomi saja, melainkan faktor pendidikan dan mendorong kebahagiaan juga kunci utama, demi terbentuknya masyarakat adil makmur.

Sehingga pemerintah bukan hanya mengurus hal yang sifatnya politis saja, namun pemberdayaan langsung akan terciptanya masyarakat yang sejahtera dan tidak mencirikan negara yang kapitalistik sesuai dengan apa yang tertuang di Pancasila, sehingga merepresentasikan keadaan negara yang katanya ber-agama ini.

Seiring majunya peradaban dan kedaulatan ditopang pada kebebasan manusia. Agama, hukum, dan segala yang berlaku sudah tidak lagi menjadi batasan pada manusia modern. Doktrin dan dorongan Kapitalisme yang terus menerus menyerang ketidaksadaran manusia mengantarkan manusia ke tempat ternyaman di dunia yang fana ini, dorongan nafsu yang sudah tidak lagi dikhawatirkan, obrolan soal moral yang sudah jarang lagi terdengar, tubuh sebagai ranah privasi sudah tidak ada lagi, telah hilang entah ke mana.

Sekiranya itu kembali lagi, semoga manusia kembali menjadi manusia modern yang terkena pencerahan (enlightenment) bukan sebaliknya, terjebak pada sisi gelap peradaban tradisional yang dianggap kuno.

Penulis: Majid (magang)

Editor: Rilanda

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back To Top