PoliTAIment: Slepetan Sarung, Gemoy, dan Salam Tiga Jari

Dok. Hayamwuruk/Abe

Kita kembali lagi pada kontestasi politik 5 tahunan yang akan menentukan siapa pemimpin Indonesia 5 tahun ke depan. Tapi ada yang berbeda dari kontestasi politik tahun ini. Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 diwarnai dengan banyaknya penyuguhan “politik menghibur’ di media sosial dengan narasi bahwa hal tersebut adalah komunikasi politik ala anak muda.

Mengingat bahwa Pilpres 2024 didominasi pemilih muda dengan akumulasi 55% yang terdiri dari kelompok Millenial dan Gen Z. Sebanyak 66 juta lebih adalah pemilih generasi Millenial dan 46 juta lebih merupakan pemilih Gen Z.

Penggunaan sosial media sebagai media kampanye begitu masif dilakukan para kandidat dengan menggunakan praktik politainment karena dirasa lebih mudah dan efektif untuk menjamah kalangan pemilih muda. Apakah ini upaya kandidat untuk menutup mata para pemilih muda agar tidak memperhatikan sisi buruk dari masing-masing calon presiden atau murni menghadirkan cara berpolitik yang terkesan menghibur, santuy dan menyenangkan?

Ahli politik dan media di Amerika Serikat, David Schultz mendefinisikan politainment sebagai strategi komunikasi politik kontemporer dengan penggabungan politik dengan entertainment. Praktik ini tidak sepenuhnya salah, karena dapat memberikan nuansa politik yang lebih ringan dan tentunya bersifat menghibur. Kombinasi yang sangat cocok bagi daya konsumtif anak muda.

Tapi perlu diperhatikan juga bahwa praktik ini juga dapat mengerdilkan daya kritis karena penyampaian ide hanya berfokus pada bagaimana pembawaannya dapat menghibur atau singkatnya miskin gagasan yang substansial.

Hal ini yang membuat kandidat calon presiden hanya berfokus pada penggambaran citra diri. Sehingga mereka mereduksi hal-hal yang sangat penting yaitu gagasan yang ditawarkan. Branding yang dibangun kemudian hanya menitikberatkan pada political look saja alih-alih political performance yang mencakup kredibilitas dan kapabilitas calon presiden.

Menjelang Pilpres 2024, politainment bermunculan dalam berbagai media seperti televisi dan sosial media. Calon Presiden Anies Baswedan dan Ganjar Pranowo misalnya, tampil di acara komedi Lapor Pak! yang ditayangkan oleh salah satu TV swasta ber-rating tinggi.

Jika mengacu pendapat Justus Nieland yang mendefinisikan politainment menjadi dua yaitu “hiburan politik” dan “politik yang menghibur”, praktik yang dilakukan calon presiden tersebut merupakan “politik yang menghibur”. Mereka masuk ke program-program hiburan di media massa, terutama televisi guna mengkapitalisasi ketenarannya.

Definisi pertama politainment yaitu “Hiburan Politik” yang mengemas topik politik dalam format hiburan dapat kita temui pada sosial media khususnya TikTok. Di sana terdapat ruang algoritma khusus politik menjelang Pilpres 2024 dalam politik populer yang minim dialog karena hanya memberikan gimmick politik saja. Misalnya selepetan sarung Anis dan Cak Imin, joget gemoy Capres Prabowo Subianto, hingga salam tiga jari ala Hunger Games Ganjar Pranowo.

Julukan gemoy pada Prabowo Subianto telah menjadi branding dalam kampanye politiknya. Dapat kita lihat pada beberapa baliho yang menampilkan capres Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka dengan ilustrasi pipi gembul dengan slogan “Presidenku Gemoy”.

Jika melihat pemilu 2014 dan 2019, penyematan gemoy sangat bertolak belakang dengan citranya yang terkesan ketus, galak, dan begitu temperamen yang dibalut dengan narasi ‘tegas’. Ironisnya, banyak pemilih muda terkelabui dengan konten-konten yang menghadirkan narasi gemoy ini.

Tidak sedikit para pemilih muda menjadikan gemoy menjadi landasan memilih dan menafikan hal-hal yang substansial seperti kapabilitas calon presiden misalnya. Gemoy juga menyembunyikan hal-hal substansial dari Prabowo yang harusnya menjadi pertimbangan seperti visi-dan misi yang dibawakan maupun kontroversi seperti kasus penculikan aktivis Peristiwa Mei 1998, gagalnya Food Estate, sikapnya terhadap konflik Rusia-Ukraina dan lain sebagainya.

Lain halnya dengan Calon presiden Ganjar Pranowo, yang memunculkan simbol salam tiga jari sebagai simbol kampanye politiknya. Yang satu ini dikaitkan dengan rilisnya film The Hunger Games: Ballad of Songbirds & Snakes (2023). Ada kemiripan dari tanda tiga jari yang digunakan Ganjar dengan tokoh utama Hunger Games dengan mengangkat jari telunjuk, jari tengah, dan jari manis.

Ganjar menggunakan tren kekinian untuk memperkenalkan dirinya sekaligus untuk menggaet pemilih muda. Ganjar sangat lihai membangun citra dirinya seolah sangat mengerti anak muda dengan menggunakan referensi pop kultur.

Dapat kita lihat juga pada tren lain ketika Ganjar dalam salah satu video TikTok-nya mengaku sebagai seorang Army (penggemar boy band Korea BTS). Hal tersebut memancing respons dari pengguna TikTok lainnya dengan ramainya editan wajahnya menjadi Jungkook, anggota BTS.

Dibanding sibuk memperhatikan gimmick politik dari Ganjar yang kekinian ini, kenapa kita tidak fokus saja pada hal-hal kontroversinya yang bisa dijadikan alasan memilih. Ganjar memiliki kontroversi selama menjadi Gubernur Jawa Tengah seperti konflik agraria di Wadas dan Rembang, penolakan Tim Sepak Bola Israel pada Piala Dunia U-20 2023, tingginya angka kemiskinan di Jawa Tengah dan lain sebagainya.

Beberapa waktu sebelumnya juga muncul unggahan TikTok yang memperlihatkan Calon Presiden Anies Baswedan bersama calon wakilnya, Cak Imin bermain slepet sarung. Slepet bahkan begitu banyak disebutkan dalam Debat Kedua Pilpres 2024 pada Jumat (22/12/2023), oleh Cak Imin dengan idiom Slepet Nomics, sebuah gagasan ekonomi yang terinspirasi dari slepet sarung.

Di balik citra Anies yang terbangun sebagai seorang intelektuil dengan terminologi berpikir yang teratur sebagai Political Look, ada beberapa kontroversi yang terlihat dikaburkan seolah-olah membebaskan dari politik identitasnya di Pilgub DKI Jakarta 2017, janji kampanye atasi banjir Jakarta, pembangunan hunian layak (Program Rumah DP 0), peresmian Halte Transjakarta Bundaran HI pada 15 Oktober 2022 dan lain sebagainya.

Pada akhirnya politainment mengucilkan hal-hal yang substansial. Politik bukan lagi sekadar penyampaian isu, gagasan dan fakta, melainkan pengaburan substansi, kredibilitas dan kapabilitas sebagai landasan menentukan calon presiden. Media lebih condong memusatkan perhatian pada aspek-aspek hiburan dalam ranah politik yang dapat menghibur pemirsa.

Momen-momen dari figur politik dimanfaatkan untuk dijadikan materi yang menghibur. Dan pada akhirnya kita pemilih muda hanya menjadi penonton dalam adu citra dan branding yang memilih dengan landasan empati bukan pada alasan-alasan yang rasional lagi.

Penulis: Zulkifli Muhammad
Editor: Andriv

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top