Reformasi Polisi dengan Sastra: Pelajaran dari Meksiko

  1. Tidak perlu ditutupi lagi, bahwasannya institusi polisi negara ini merupakan lembaga yang dikenal sebagai lembaga yang tidak transparan, dan sering melakukan kekerasan terhadap sipil yang tak bersalah. Lembaga yang dinilai tidak bekerja jika tak dibayar, apapun urusannya tampak perlu disogok serta sering terlibat dalam tindak kejahatan, sudah berapa banyak berita yang mengabarkan bahwa oknum polisi terlibat perdagangan narkoba?

Kondisi polisi yang semacam ini telah mendorong lahirnya seruan Reformasi Polri dari berbagai kalangan, termasuk internal kepolisian itu sendiri. Kesadaran akan perlunya Reformasi Polri ini sudah muncul sejak tahun 80-an.

Meski gema Reformasi Polri sudah ada sejak lama, tetapi apakah kinerja polisi sudah semakin baik? Apakah profesionalisme polisi sudah semakin baik dibanding 78 tahun yang lalu?

Perlunya Reformasi Polri hari ini guna mengatasi kekurangan dan kelemahan Polri dalam melaksanakan tugasnya. Memberikan kita sebuah pertanyaan sederhana, Reformasi Polri dimulai dari mana? Pertanyaan ini cukup sulit untuk dijawab secara sederhana, tetapi kita bisa belajar dari sebuah pengalaman yang ada.

Ada sebuah kisah menarik yang pernah terjadi di kota pekerja kecil bernama Kota Nezahualcoyotl yang terletak di Meksiko. Pada tahun 2003, Partai Revolusi Demokratik, sebuah partai berhaluan kiri berhasil memenangkan pemilihan kepala daerah di kota tersebut. Mereka memiliki sebuah pekerjaan rumah yang cukup berat, yaitu kepolisian Nezahualcoyotl.

Kepolisian Kota Nezahualcoyotl dikenal sebagai lembaga yang korup, pemeras masyarakat, serta identik dengan pungli dan kekerasan. Para polisi di kota ini juga kurang terpelajar, hanya 1 banding 5 polisi dari 1200 personil kepolisian yang mengenyam pendidikan hingga tingkat SMA. Hal ini menimbulkan keresahan bagi masyarakat. Pemerintah kota juga merasa perlu untuk mengubah wajah dan kinerja kepolisian kota itu.

Lalu langkah apa yang diambil pemerintah dalam rangka membenahi kepolisian Nezahualcoyotl?

Ya, betul. Menggunakan sastra untuk mendidik para polisi. Eksperimen sosial ini dimulai pada tahun 2005, anggota polisi kota Nezahualcoyotl dipaksa untuk membaca novel-novel, seperti Don Quixote de La Mancha atau Seratus Tahun Kesunyian karya Gabriel Marquez, juga novel-novel karya sastrawan besar lainnya mulai dari Honoré de Balzac, Arthur C. Clarke, Rafael Alberti, Rudyard Kipling, Octavio Paz, hingga Ruth Rendell.

Polisi-polisi di kota ini harus membaca novel-novel tertentu dengan model kelompok membaca, jika tidak maka mereka tidak akan mendapatkan kenaikan pangkat atau kenaikan pangkatnyaa ditunda. Kelompok membaca dirancang untuk memperluas wawasan, membuat petugas lebih sadar akan apa yang terjadi di komunitas lokal mereka, dan lebih peka terhadap kebutuhan masyarakat. Setelah membaca, mereka juga diajak untuk menulis. Mereka diarahkan untuk menuliskan pengalaman kerja sehari-hari, apa saja yang mereka kerjakan dan lihat.

Dok.Hayamwuruk/Amadeus

Kelompok membaca polisi ini bahkan telah melahirkan sebuah novel karya seorang perwira polisi dan beberapa antologi cerita pendek. Sastra telah memberikan dampak besar bagi kehidupan para polisi, mereka sering terlihat membawa buku saat patroli, dan banyak di antara mereka merasa seperti Don Quixote.

Program membaca untuk polisi ini memang tak serta-merta menghilangkan budaya buruk lembaga kepolisian kota itu, tetapi secara pasti membuat polisi lebih beradab dan humanis serta memperbaiki interaksi antara polisi dengan masyarakat.

Lalu bagaimana dengan kepolisian Indonesia? kembali ke pertanyaan awal tadi, yaitu Reformasi Polri dimulai dari mana? Melihat kondisi Polri saat ini, mungkin sastra bisa menjadi langkah awal nan mudah guna menekan perilaku brutalitas aparat terhadap peserta aksi di depan Gubernuran.

Banyak karya-karya sastrawan kita yang dapat dijadikan bahan bacaan guna meningkatkan rasa humanisme dan kepekaan di kalangan polisi kita. Namun, jangan harap dengan adanya program membaca yang diterapkan Polri lantas Kapolda Sumbar dapat mengusut secara jujur kematian Afif yang malang itu, semua tentu perlu proses, mengingat bahwa kebobrokan kepolisian Indonesia sudah struktural dan mendarah daging.

Penulis: Faqirru Ilallah Muhamad Farhan Prabulaksono

Editor: Ameilia Hera Lusiana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top