Sempat Alami Perubahan Naskah, Pentas Kampung 2025 Sukses Digelar

Dok. Hayamwuruk/Alim

Teater Emper Kampus (Emka) Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Diponegoro (Undip) menggelar Pentas Kampung bertajuk Jagad Janin di Lapangan Desa Asinan, Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang, pada Sabtu (16/8/2025) malam.

Pentas Kampung merupakan salah satu program kerja unggulan Teater Emka dengan tujuan memberikan edukasi kepada masyarakat terkait suatu isu yang eksis di lingkungan sekitar.

“Pentas Kampung ini program unggulannya Teater Emka juga yang bertujuan untuk bagaimana kita bisa mengedukasi warga-warga tentang isu-isu yang ada di lingkungan mereka,” ujar Badai, Pimpinan Produksi Pentas Kampung 2025.

Berkolaborasi dengan karang taruna setempat, Pentas Kampung 2025 hadir sebagai hiburan puncak dalam acara malam tirakatan warga. Acara dibuka dengan pemotongan tumpeng, dilanjutkan makan bersama, pembagian hadiah lomba, pengundian doorprize, penampilan yel-yel warga, hingga penampilan tari tradisional dan modern dari anak-anak.

Dok. Hayamwuruk/Lia

Joko Susanto selaku Ketua RT 01/RW 03 Dusun Ba’an, Desa Asinan, mengaku senang atas kedatangan Teater Emka untuk melakukan pementasan di sana.

Alhamdulillah, saya bersyukur, karena dari dulu kita pengen istilahnya mahasiswa bisa turun ke masyarakat. Bisa lebih peka, lah, melihat kondisi yang ada di masyarakat dan mencari peluang, dalam arti mencari peluang karena kita disini ini pecinta budaya dan tradisi. Maka ini Teater Emka kita terima dengan pintu terbuka,” tuturnya.

Ia juga menyampaikan harapannya agar talenta-talenta yang ada di Desa Asinan kelak bisa berkolaborasi dengan mahasiswa. Joko berharap agar anak-anak di desa bisa mencintai budaya dan terhindar dari pergaulan bebas.

Namun, di balik kesuksesan Emka menggelar Pentas Kampung 2025, naskah Jagad Janin rupanya sempat mengalami perombakan dua hari sebelum dipentaskan.

Badai menjelaskan bahwa naskah awal Jagad Janin sempat ditolak oleh Kepala Desa (Kades) setempat.

“Pertamanya kan kita itu izin ke Kades. Kita bawakan dulu naskah pertama kita, kita jelaskan semua kita membawakan (pentas -red) bagaimana, tapi responnya beliau itu kurang baik, kita kurang diterima karena ada hal yang menyinggung,” jelasnya.

Yaser Rafi Pramudya, sutradara sekaligus salah satu penulis naskah Jagad Janin menuturkan pada awalnya naskah ingin tetap dibawakan dengan penghalusan pada beberapa bagian, tetapi akhirnya sepakat untuk merombak isi naskah setelah mendapat laporan dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Semarang terkait intervensi pihak lain.

“Kita mau tetap ingin membawakan naskah itu dengan beberapa penghalusan, tetapi akhirnya kita dapat laporan dari LBH, aku disampaikan katanya ada ancaman ke salah satu RT, ancamannya aku enggak crosscheck langsung, ya udah dari situ singkat cerita bikin forum dan kita sepakat kalau naskah ini kita rombak demi keamanan warga,” ungkapnya.

Naskah asli yang ditolak itu diduga karena isu Proyek Strategis Nasional (PSN) yang disebutkan di dalamnya. Yaser menjelaskan, tema utama yang ingin dibawa oleh Teater Emka dalam Pentas Kampung itu sendiri adalah tentang bagaimana perempuan melawan dalam memperjuangkan alam. Kemudian, tema tersebut berusaha dibawakan melalui jembatan isu PSN yang terjadi di daerah sekitar.

 

Reporter: Diaz, Lia, Alim

Penulis: Lia

Editor: Mahes

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top