Sastra Cyber dan Matinya Sastra Koran

Pengantar Redaksi
Newsletter Hawe Pos Edisi Cultural Studies 21/Maret/VI/2007

Percayakah anda, jika apa yang kita baca hari ini dari buku, koran atau apapun bentuk media cetak lainnya, berangsur-angsur akan digantikan oleh media elektronik? Begitu juga dengan sastra, yang semula disajikan melalui teks tercetak, akan berubah wujud ke dalam kemasan digital. Jika anda mencermati perkembangan dunia internet, maka anda akan tahu jawabannya.

Era digital ini setidaknya sudah dimulai ketika teknologi internet merambah belahan negara berkembang, termasuk Indonesia, menjelang millineum II lalu. Situs-situs online lokal yang di dalamnya memuat karya sastra, –kemudian disebut Sastra Cyber- bisa dengan mudah ditemukan dengan hanya memasukkan kata kunci di mesin pencari. Menyebut salah satu diantaranya adalah www.cybersastra.net, situs sastra online yang dikelola oleh Yayasan Multimedia Sastra.

Selain situs online yang dikelola oleh komunitas, masih ada lagi situs yang dikelola oleh personal atau webblog. Berapa jumlah blog yang di dalamnya memuat karya sastra, semacam puisi atau cerpen? Yang jelas, banyak sekali jumlahnya. Hampir semua pengarang atau penyair beken, tentu saja mereka yang melek dengan internet, memiliki blog.

Apa yang dilakukan oleh para pengelola situs sastra online atau blogger yang dengan sengaja atau tidak menuangkan ide-ide sastranya di blog, memang tidak dalam rangka melawan dominasi sastra cetak, seperti koran. Tapi secara sadar atau tidak, dengan sendirinya telah memberikan pengakuan bahwa media internet memiliki pengaruh yang lebih luas jika dibanding dengan media cetak. Kemudahan yang ditawarkan, bisa jadi para blogger itu akan lebih memilih medium internet ini sebagai tempat untuk menuangkan karya sastranya.

Alasannya, tidak harus mencetak, tidak butuh perangko, tidak harus menunggu konfirmasi dari redaktur, belum lagi jika harus dikembalikan. Dengan blog, seorang penyair, pengarang dari yang senior maupun yang masih coba-coba, bisa memuatnya sendiri. Setelah karya dimuat, saat itu juga dapat diakses oleh siapapun.

Pernahkah anda membayangkan berinteraksi langsung dengan para pengarang atau memberikan komentar atas karya-karya mereka? Ya, kalaupun anda berniat mengundangnya, anda harus menyediakan sejumlah dana, baik itu untuk membayar honor maupun transportasi plus akomodasi, dan belum lagi menyesuaikan kepadatan jadwal yang bersangkutan.

Melalui blog, anda bisa meninggalkan komentar, anda bisa memberikan kritik atau suatu karya, dan tidak harus menunggu lama, komentar anda akan ditanggapi oleh si empunya blog. Di sini interaksi dapat terjalin dengan intim, seolah tak membedakan mana yang senior dan mana yang masih pemula, dengan cukup membayar akses internet. Menarik bukan?

Maraknya blogger yang memuat karya sastra dan juga kemudahan memuat suatu karya di situs internet, di lain pihak ditanggapi secara sinis oleh sebagian orang. Bagi mereka, karya sastra semacam ini adalah sampah karena tak memenuhi standar baku karya sastra. Namun penilaian ini kurang bisa dipertanggungjawabkan karena masih hanya berdasar survei secara kuantitatif, yang kemudian dipakai untuk memberkan penilaian secara umum. Padahal, jika kita mencermati secara seksama, dari sekian banyak blogger itu, beberapa karyanya tak kalah menarik jika dibandingkan dengan yang dimuat di media cetak.

Terlepas dari perdebatan soal kualitas karya sastra cyber itu, kehadiran situs-situs online atau blog dapat menjadi alternatif bagi para penulis untuk mengekspresikan karyanya secara lebih leluasa tanpa harus terikat kepada bentuk baku yang ada di media mainstrem. Pada gilirannya nanti, kehadiran sastra cyber ini dapat mewarnai perkembangan dunia sastra Indonesia yang masih stagnan. Setidaknya langkah ini sudah dimulai, dan tak mustahil dominasi sastra yang selama ini dikendalikan oleh media cetak akan segera berakhir digantikan oleh sastra cyber.****

Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top