Sastra Cyber di Simpang Kegamangan

Oleh Eka Harisma

Ibarat barang baru, sastra cyber di Indonesia belum dikenal dan memiliki pangsa pasar. Tetapi, dengan diluncurkannya buku antologi puisi cyber Grafitti Gratitude oleh Yayasan Multimedia Sastra (YMS) pada tahun 2001 di Jakarta, sastra cyber mulai terdengar gaungnya. Sebelum buku itu terbit, sastra cyber hanya menjadi koleksi pribadi para penulis yang memiliki situs-situs pribadi di internet. Peluncuran Gra Gra telah mengenalkan sastra cyber kepada khalayak penikmat sastra Indonesia dan ambil bagian dalam kancah kesusastraan Indonesia modern.

Namun, bukan berarti peluncuran Gra Gra berjalan mulus tanpa hambatan. Peluncuran yang diadakan 9 Mei 2001, di Puri Agung, Sahid Jaya Hotel Jakarta itu mengundang banyak kritik. Kritik itu diluncurkan oleh para sastrawan Indonesia. Misalnya, Ahmadun Yosi Herfanda yang mengatakan media digital hanya dimanfaatkan sebagai media alternatif sosialisasi karya sastra karena dapat memperluas jangkauan wilayah melampaui batas-batas negara. Tidak hanya itu, dalam eseinya yang berjudul ‘Puisi Cyber, Genre atau “Tong Sampah”’ media cyber dianggapnya tong sampah atas karya-karya sastra yang tidak ditampung oleh media sastra cetak.

Kritikan demi kritikan dilontarkan untuk menggoyahkan tonggak sastra cyber. Berbeda dengan Herfanda, Juniarso Ridwan lebih kepada kekuatan teks. Bahwa teks adalah wujud daripada sastra. Sedangkan sastra cyber dianggapnya mengesampingkan keberadaan teks, sehingga tak pantas menyandang istilah sastra.

Para kritikus itu tidak salah memang. Anggapan mereka tentang sastra cyber benar. Terbukti puisi yang telah dimuat di koran muncul juga di cyber. Tidak sedikit juga, penulis sastra menulis di dunia digital karena relatif mudah.

Terlepas dari semua anggapan itu, tak dapat dipungkiri jika penulis cyber terus bermunculan. Dibuktikan dari semakin banyaknya situs-situs sastra online baik yang dikelola oleh komunitas maupun personal, dan makin banyaknya orang yang bergabung dalam milis sastra. Ada kalanya situs online itu dikembangkan dari forum diskusi di milis-milis sastra. Atau dikelola oleh beberapa orang. Situs puisi.net malah hanya digawangi oleh dua anggota redaksi, TS Pinang (www.titiknol.com) dan Hasan Aspahani (http://sejuta-puisi.blogspot.com) .

Yang menarik dari situs sastra online itu juga memberikan kesempatan setiap orang menjadi kontributor. Dengan menjadi kontributor maka setiap anggota bisa memuat sendiri karyanya. Jumlah situs ini sudah cukup banyak. Ada yang mengkhususkan memuat puisi, ada yang khusus memuat cerpen atau prosa. Menyebut diantaranya http://puisi.net, http://puitika.net, http://fordisastra.com, http://www.bungamatahari.org. Dari data yang diambil dari internet, sebanyak 2.230 penulis eksis setiap harinya dan bertambah setiap bulanya. Bahkan dengan adanya situs pribadi gratis mempermudah para pemula mengekspresikan pikiranya untuk menulis puisi, cerpen, ataupun novel, misalnya.

Terlepas dari kualitas sastra yang ditulis mereka, dengan adanya media cyber merintis generasi sastrawan baru di Indonesia. Berbicara kualitas, muncul pertanyaan. Benarkah sastra cetak tinggi kulitasnya, dan sastra cyber kebalikanya? Simak saja puisi cyber karya James Falahudin yang dimuat di situs www.cybersastra.net:

KAPAL & SAMUDERA
bukanya aku tak lagi suka berada dalam pelukanmu
bisik sang kapal kepada samudera
tapi dirimu tiada terbatas
sementara aku adalah abadi

Apa pendapat anda tentang puisi di atas. Masihkah anda bersepakat bahwa karya sastra cyber itu sampah?

Hadi Susanto, pecinta sastra, mengatakan, puisi diatas adalah puisi dengan bentuk “puitika komunikatif” yang baik sekali. Diksi yang sederhana tapi padat. Kata yang digunakan sama sekali tidak menimbulkan imaji ambiguitas, tapi multi-interpretabilitasnya sangat kuat pada simbol yang dipakai.

Meskipun tidak sedikit dari karya sastra cyber bisa dikatatan “sampah”, alangkah lebih baiknya jika sastrawan Indonesia tidak menutup mata akan munculnya sastrawan-sastrawan cyber muda. Kehadiran mereka dalam kesusasteraan Indonesia harusnya disambut positif dengan memberikan kritik yang konstruktif, bukan mencela tanpa memberikan solusi. Munculnya situs-situs online, milis sastra dan blog, ke depan dapat menambah semarak perkembangan sastra Indonesia kontemporer.

Langkah-langkah untuk mengenalkan sastra cyber sudah ditempuh. Menerbitkan antologi puisi cyber Gra Gra adalah salah satunya. Sutan Iwan Saoekri Munaf, Nanang Suryadi, dan Medy Loekito adalah pemotornya. Langkah tersebut terbukti efektif untuk merintis para sastrawan pemula untuk menulis. Meskipun ada juga yang tidak mau mengakui sastra cyber sebagai karya sastra.

Penerbitan sastra cyber ke dalam buku (cetak) di lain pihak dianggap sebagai pengkhianatan para sastrawan cyber sendiri. Menurut Besihar lubis dan Wiratmadinata, seperti dikutip dari pernyataannya di majalah berita Gatra, aeharusnya puisi-puisi cyber itu tetap bersemayam dalam dunia maya. Dengan kata lain, upaya pencetakan sastra cyber ke dalam bentuk buku (cetak) adalah bukti pengakuan sastra cyber terhadap karya sastra cetak.

Para sastrawan cyber seolah sepakat bahwa yang disebut karya sastra adalah teks yang tercetak. Kenapa mereka tak menyusunnya ke dalam ebook (elektronic book), toh juga sama seperti buku cetak, ebook ini bisa dibaca layaknya buku dan dapat distribusikan melalui jaringan internet?

Diantara sastrawan cyber itu, sebagian konsisten menerbitkan karyanya secara khusus di situs pribadinya. Meski memang beberapa kali namanya muncul di media cetak, tapi karya yang dimuat di situsnya sengaja dibuat hanya untuk diterbitkan di sana. Di lain pihak, beberapa pengarang yang sudah banyak menerbitkan buku maupun menulis di media cetak, juga membuat situs pribadi yang isinya merupakan karya-karya yang pernah dimuat di media cetak.

Untuk apa mereka menyusun sastra cyber itu ke dalam bentuk buku cetak, atau sebaliknya, mereka yang menulis di media cetak menerbitkan ulang di situs online. Untuk sosialisasi kepada pembaca non sastrawan cyber, atau memang mereka sendiri sebenarnya kurang percaya diri? Lantas kenapa mereka yang biasa menulis karya sastra di media cetak juga menerbitkannya di situs online. Lalu, siapa yang sedang berkhianat?

Agaknya jika mengaca dari negara lain sebenarnya sastra cyber Indonesia ketinggalan jauh. Ibaratnya, sastra cyber Indonesia baru merangkak dari tangga yang terbawah. Mengutip dari esainya Usman K.J. Suharjo yang berjudul “Menggagas Masa Depan Sastra Cyber”, ketika sastrawan Indonesia masih meributkan kualitas puisi cyber, sastrawan dari negara lain sudah menerbitkan novel lewat cyber. Misalnya, pada Maret 2002, Stephen King, novelis horor dari Maine, meluncurkan novel Riding the Bullet lewat cyber. Karya novelis Inggris Charles dickens berjudul A Tale of Two Cities sudah terbit lewat cyber sepuluh tahun lebih awal.

Nah, untuk Indonesia sudah kelewat jauh dari negara lain. Sastrawan Indonesia masih dalam tataran perdebatan. Pertentangan yang dinamakan sastra adalah dalam bentuk teks. Tekslah yang memiliki kekuatan bukan cyber. Karena teks, yang dinamakan sastra yaitu yang dicetak. Sehingga muncullah sastra koran. Dan celakanya, masih banyak sastrawan senior Indonesia yang mengagap bahwa yang dinamakan sastra adalah yang muncul di koran, majalah, ataupun buku. Teks cetak dijadikan patokan untuk menilai sebuah karya sastra.

Tanpa bermaksud memberikan penghakiman, apapun bentuk karya sastra, semua kembali kepada yang membuatnya. Untuk tujuan apa mereka menulis karya sastra. Dan pada akhirnya, ketika karya itu sudah diserahkan kepada publik, sidang pembacalah yang akan memberikan penilaian. Sudah layakah sastra cyber disejajarkan dengan sastra cetak?

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back To Top