Aksi Seribu Lilin, Sikap Belasungkawa Kamisan Semarang

Doc: LPM Hayamwuruk
 
 
Pada Kamis (3/10/2019), malam hari, sekitar pukul 19.00, ratusan massa berpakaian hitam berkumpul di Tugu Muda, Kota Semarang. Massa yang tergabung dalam Kamisan Semarang ini melakukan aksi yang berbeda dengan rutinitas Kamisan Semarang biasanya. Pada umumnya Kamisan Semarang digelar pada sore hari dan berada di depan kantor Gubernur Jawa Tengah.
 
Setidaknya ada tujuh komunitas yang bergabung dalam aksi Kamisan Semarang kali ini, diantaranya Pelita, Gusdurian Semarang, PMII Semarang, Peradah, Perantara, Hikmabudi, GMKI, Gema FKUB Jawa Tengah. Mereka menyalakan 1000 lilin sebagai bentuk belasungkawa dan merespon berbagai kejadian yang sedang menimpa bangsa Indonesia yang kemudian dilanjutkan menyanyikan lagu “Indonesia Raya”, “Indonesia Pusaka”, “Di Udara”, dan “Kebenaran akan Terus Hidup“.
 
Pada aksi ini, sejumlah massa aksi juga melakukan orasi dan penampilan seni sebagai bentuk solidaritas kepada mahasiswa dan warga negara yang menjadi korban pada aksi demonstrasi  23-30 September di berbagai daerah di Indonesia.
 
Ahmad Sajidin, selaku koordinator lapangan, mengatakan bahwa aksi ini sebagai bentuk belasungkawa terhadap permasalahan yang ada di negeri ini,
 
Di mana para masyarakat Semarang peduli dengan keadaan bangsa yang sedang terjadi, utamanya kemarin soal karhutla yang ada di Sumatera, Kepulauan Riau, yang menimbulkan empat bayi sebagai korban jiwanya. Kemudian aksi-aksi rasisme yang itu (Papua) memperkeruh suasana kebangsaan. Kita mau, bahwa, dengan ini bangsa kita tetap satu. Jadi Indonesia tidak ada sekat-sekat dari agama, ras, maupun budaya,” terangnya kepada tim HayamWuruk.
 
Ajid menambahkan, alasan penggunaan lilin sebagai media aksi adalah sebagai simbol pelita yang harus tetap hidup dan menyinari yang ada di sekelilingnya.
 
“Kami mau bahwa sebagai warga negara yang baik, kami tidak mengutuk apa yang terjadi (dan) kami tidak menyalahkan siapa. Tapi, kami ingin bahu membahu, (menyalakan) lilin sebagai simbol pelita. Jika kami tidak mengutuk kegelapan, tapi kami coba memberikan sinar kepada bangsa ini agar kedepannya bangsa Indonesia lebih baik,” tambahnya.
 
Aksi ini ditutup dengan doa bersama lintas iman yang diwakilkan dari berbagai komunitas yang hadir.  Sebagai wujud bahwa perbedaan agama, ras, dan suku membuat masyarakat Indonesia semakin bersatu.
 

Reporter: Airell
Penulis: Airell
Editor: Lukluk

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back To Top