
Beberapa waktu belakangan ini, media sosial sedang ramai membahas mengenai masalah KIP-K. Sebenarnya apa yang sedang terjadi?
Viralnya permasalahan menyangkut KIP-K bermula dari akun yang mengirim pesan lewat base menfess mahasiswa Universitas Diponegoro atau yang dikenal dengan @undipmenfess tentang penerima KIP-K yang dianggapnya tidak tepat sasaran.
Faktor penyebab penerima KIP-K ini dianggap salah sasaran adalah gaya hidup penerimanya yang hedon. Mahasiswa KIP-K yang menggunakan ponsel mahal, kosmetik mahal, sering berlibur, menonton konser, dan lain sebagainya menjadi bulan-bulanan netizen di media sosial.
Bagi publik, mereka tidak layak menerima KIP-K karena terbilang sudah sangat mampu. Salah satu akun X @Tfhanks mencuit “another orang yg gak deserve dapet kipk wkwkwk gaya elit bayar kuliah sulit alias ngerampas hak orang pake kipk” pada salah satu postingan yang menyebarkan identitas mahasiswi dugaan penyelewengan KIP-K.
Postingan itu yang membuat awal mula tagar KIP-K naik. Setelahnya, banyak akun lain yang membuka identitas penerima KIP-K yang dianggap tidak tepat sasaran. Hal ini pun memicu perdebatan terutama di kalangan mahasiswa.
Melihat kerancuan berita ini, tim Hayamwuruk pun mencoba menelusuri mengenai masalah penyelewengan KIP-K ini dengan mewawancarai beberapa mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (FIB).
Mega Kristi, mahasiswi Ilmu Perpustakaan mengaku sedih akan isu KIP-K yang tidak tepat sasaran. Namun, dia mengakui bahwa penyelewengan KIP-K bukan hal baru.
“Tentunya balik lagi ke pemerintah karena mereka yang mengurus segalanya, syarat dan apapun yang berkaitan dengan KIP-K,” ujar Mega.
Mega melanjutkan bahwa yang bertanggung jawab atas penyelewengan KIP-K adalah pemerintah. Namun, diperparah dengan kondisi penerima KIP-K yang “tidak tau diri” juga.
“Terus kesadaran diri juga dari orang-orang itu kalau mereka udah mampu, daftar gitu kalian juga harus memikirkan orang-orang lain yang lebih butuh. Pemerintah perlu riset lagi perlu mengkaji ulang tentang siapa aja yang harusnya dapet dan siapa yang aja yang harusnya ga dapet,” lanjut Mega
Pendapat tersebut sedikit berbeda dengan Farhan Salim, mahasiswa Sejarah. Baginya, penyelewengan KIP-K ini karena adanya kenaikan ekonomi penerimanya dan tidak inisiatif untuk mengundurkan diri dari penerima KIP-K.
“Saya rasa, case-nya itu awalnya memang tidak mampu dan di tengah jalan itu mampu. Cuma memang belum mengundurkan diri, entah alasannya apa, motifnya apa, saya juga tidak tahu secara pasti. Padahal itu (KIP-K-red) bisa buat teman-teman yang lain. Bisa lebih buat yang membutuhkan,” tutur Farhan.
Salah satu faktor besar maraknya penyelewengan KIPK juga karena survei ke rumah calon penerima tidak benar-benar dilaksanakan. Calon penerima hanya perlu mengirimkan foto rumah, hal ini tentu rentan dipalsukan. Hal itu disampaikan oleh Ulyn, mahasiswi Antropologi Sosial.
“Faktor penyebab penyaluran KIP-K tidak tepat sasaran adalah tidak adanya survei ke rumah calon penerima KIP-K, hanya mengirimkan foto rumah dan foto sertifikat tanah di syarat pendaftaran. Hal ini memungkinkan calon penerima KIP-K menggunakan foto rumah orang lain yang terlihat kurang mampu, sehingga pihak penyeleksi KIP-K tidak mengetahui rumah sebenarnya calon penerima KIP-K tersebut,” ujar Ulyn, mahasiswi Antropologi Sosial saat menceritakan proses mendaftar KIP-K.
Viralnya kasus penyelewengan KIP-K ini menjadi bumerang bagi mahasiswa yang dianggap menyelewengkannya. Mahasiswa yang terbukti menyelewengkan KIPK telah mengundurkan diri dari bantuan KIP-K setelah identitasnya “ditelanjangi” di media sosial.
Namun, hal ini disayangkan karena banyak juga mahasiswa yang telah dituduh menyelewengkan bantuan padahal itu tidak benar dan banyak juga mahasiswa KIP-K di luar sana yang buru-buru menyembunyikan identitasnya dari media sosial agar tidak di-doxing.
Penerimaan KIP-K diperlukan kesadaran dari kedua belah pihak. Pemerintah dan staf kampus seharusnya dapat meninjau ulang sistem, serta mahasiswa yang dianggap telah mampu seharusnya berani mengundurkan diri dari bantuan KIP-K.
Penulis: Nevissa Sabrina Karim
Reporter: Indri, Khansa, Nazil, Irsyad, Zaila
Editor: Amel