Ber(a)politiklah yang Santun, Kawan!

Aroma politik menjelang pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Tengah 2008 sudah mulai terasa. Sejumlah spanduk dan baliho dipajang di sejumlah tempat strategis. Hari Raya atau peringatan hari-hari penting lainnya menjadi momen yang tak terlewatkan bagi sejumlah calon-calon yang berkepentingan. Di sejumlah media massa mereka memajang ucapan selamat hampir separoh halaman.

Kondisi yang sama rupanya tengah terjadi di kampus Sastra ini. Sejumlah pamflet yang berisi ucapan “selamat” bertempelan di beberapa sudut papan pengumuman. Yang tengah menjadi perbincangan sejumlah mahasiswa adalah pamflet yang dipasang dua hari lalu (8/4). Isinya mempersoalkan kinerja BEM, dan menyebutkan beberapa poin kebobrokan BEM FS Undip.

Di bawah selebaran itu dicantumkan nama sebuah organ ekstra yang menamakan dirinya sebagai organisasi mahasiswa responsif. Selebaran itu tak sempat bertahan lama. Di beberapa papan pengumuman selebaran itu tak tampak lagi. Entah siapa yang melepasnya. Bisa jadi organ lawan politiknya, atau mahasiswa yang memang tidak suka dengan pamflet itu. Yang jelas tulisan ini bukan bermaksud untuk menambah keruh suasana, atau latah ikut-ikutan dalam arus “politik pamflet”. Tulisan di selebaran ini mencoba untuk memikirkan kembali esensi gerakan mahasiswa di kampus Sastra ini.

Sudah beberapa tahun belakangan ini mahasiswa sastra apatis dengan hal yang berbau politis. Hal ini bukan semata karena acuh-tak-mau-tahu, tapi karena mereka memang disinyalir a(nti)politis. Teman-teman di kampus ini kurang simpati dengan hal-hal yang berbau “organ ekstra”, organ yang kerap kali mengusung berbagai macam ideologi dan kepentingan.

Sudah menjadi pengetahuan bersama jika jabatan semacam BEM menjadi ajang perebutan para kader organ ekstra kampus. Menjelang diadakannya momen pemilihan tampuk kepemimpinan lembaga eksekutif itu, mereka biasanya rame memasang pamphlet; entah sekadar ucapan selamat tahun baru, atau ucapan lain, yang secara substansial tak memiliki manfaat yang signifikan kecuali untuk menunjukkan jika organ yang bersangkutan setidaknya masih ada. Apa yang bisa diberikan BEM yang dijaring dengan kepentingan yang sarat dengan muatan politis itu? BEM menjadi sosok makhluk yang aneh, yang terkucil dari komunitas, dan ekslusif, seolah hanya menjadi milik sekelompok organ tertentu.

Makanya kawan, sudah beberapa tahun ini, isu yang sering dilontarkan ke permukaan bukan lagi bagaimana menunjukkan kekuatan organ ekstra. Tapi bagaimana organ ekstra itu bisa melebur dengan mahasiswa, dengan kawan-kawan di lembaga kemahasiswaan yang lain. Ini penting agar siapapun yang menduduki posisi penting di lembaga eksekutif, baik organ ekstra ataupun mahasiswa yang tak terlibat dalam organ apapun, tidak terkesan ekslusif, elitis. Dan perlu diketahui, pasca reformasi 1998 di Undip, dan khususnya di kampus ini, organ ekstra dilarang mengadakan kegiatan di dalam kampus.

Lembaga kemahasiswaan, kendati itu diusung oleh organ ekstra, idealnya tak berperilaku sama dengan partai politik, yang penuh intrik dan laku-laku kotor. Organ ekstra, atau apapun kendaraan yang hendak dijadikan sebagai kendaraan untuk mengusung calon, hendaknya menjadi penampung aspirasi mahasiswa, yang memang dengan sukarela memberikan dukungannya, bukan melalui rayuan atau tipu daya lainnya.

Kawan-kawan, jangan anggap mahasiswa itu bodoh. Salah, salah besar jika kawan-kawan beranggapan demikian. Justru kawan-kawan yang berada di luar sistem itu diam-diam menjadi pengamat, mencermati gerak-gerik kawan-kawan. Maka, marilah berpolitik yang cerdas ala mahasiswa. Berpolitik tak hanya dengan slogan, tapi juga merealisasikan dalam wujud tindakan. Dengan cara ini maka teman-teman akan bisa mendapatkan simpati dari rekan mahasiswa yang lain secara sukarela. Jadi pahlawan tak harus dengan tampil dimuka seraya menyebut dirinya sebagai pembela rakyat, kecuali bila mau disebut sebagai “pahlawan kesiangan”.

Satu lagi, jangan asal main tikam, seolah-olah ingin menjadi pahlawan dengan menunjukkan kebobrokan organ yang lain, dengan mengatasnamakan suara mahasiswa, sementara dirinya sendiri belum memberikan kontribusi yang berarti bagi kehidupan dinamika kampus ini.

Kawan, politik itu tidak haram. Mari kita berpolitik dengan cara-cara yang mencerminkan insan akademis, dengan beradu argumen, bukan adu kekuatan fisik. Jangan sampai, kalau hal ini sampai terjadi di kampus ini, maka kawan-kawan kembali ke jaman di mana bumi ini belum tercerahkan oleh pendidikan. Tulisan dibalas dengan tulisan, buku dibalas dengan buku, argumen dijawab dengan argumen, begitulah menyitir sedikit perkataan novelis legendaries Salman Rushdie ketika mendapatkan kritik yang cenderung anarkis.

Kawan, kalian yang terlibat dalam kegiatan politik kampus, tahukah jika beberapa hari belakang ini sejumlah mahasiswa dan juga dosen dibuat gatal-gatal setelah duduk-duduk di pelataran kampus. Ada apa gerangan? Diduga kuat, disela-sela dedaunan pohon pelindung kampus itu terdapat ulat-ulat bulu yang mudah menyebarkan virus gatal-gatal melalui angin. Apakah diantara anda sudah ada yang menjadi korbannya?

Mohon dengan sangat pihak kampus yang berwenang,untuk segera bertindak. Alangkah baiknya jika pihak fakultas melakukan penebangan beberapa ranting pohon yang mulai lebat itu. Barangkali langkah ini bisa mengurangi mata rantai virus ulat bulu penyebar gatal-gatal itu. Bravo mahasiswa!!!

*Muhamad Sulhanudin

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back To Top