Diskusi “Membaca Geliat Penyair Muda Tiga Kota”

Dunia kepenyairan di negeri ini tampaknya jauh lebih dinamis bila dibanding dengan perkembangan dalam dunia prosa. Kenyataan ini bisa kita temukan dalam media-media lokal maupun nasional yang memuat puisi dalam edisi . Di sana kita akan menemukan beberapa nama baru, nama-nama yang tidak itu-itu saja. Tak tanggung-tanggung, penyair yang secara usia masih bisa dibilang belia, karyanya bisa nampang di media.

Pemunculan nama-nama penyair baru di media massa tersebut, diantaranya mereka yang masih berusa muda, memang belum seberapa bila dibanding dengan karya yang dimuat dalam media-media buletin atau selebaran yang diterbitkan oleh komunitas-komunitas pecinta sastra. Media semacam ini sekarang sudah cukup banyak jumlahnya seiring dengan merebaknya komunitas-komunitas pecinta sastra yang digawangi oleh para penyar muda. Bisa diduga, bermunculannya karya para penyair muda itu karena tersedianya ruang yang lebih luas, yang disediakan oleh media komunitas. Fasilitas kemudahan memuatkan karya ini di satu pihak menguntungkan para para penyair muda, karena mereka tak harus bersaing dengan puluhan bahkan ratusan pengirim naskah untuk dapat memuatkan karyanya di media massa.

Dari uraian singkat di atas, secara kuantitas, geliat penyair muda dalam berkarya sudah cukup menggembirakan. Bagaimana dengan kualitas karya mereka, apakah sebanding dengan bermunculannya penyair-penyair baru yang diantaranya diorbitkan lewat media-media komunitas?

Sudah menjadi olok-olok sejak periode sebelumnya jika para penyair muda kerap kali hanya mampu meniru karya-karya para senior mereka. Pemunculan karya mereka belum mampu menciptakan karya dengan bentuk yang baru, tapi baru sebatas tiruan-tiruan secara bahasa, namun ketika karya itu didekati akan menunjukkan kedangkalannya. Sosiawan Leak menyebut karya mereka masih menampakkan kseragaman, alias berkarakter lemah. Bahkan karya-karya mereka masih dihantui sejarah sastra dengan nuansa-nuansa Sapardi Djoko Darmono dan Afrizal Malna. Benarkah demikian?

Jawaban atas segala dugaan-kecurigaan itu akan dikupas dalam diskusi puisi bertajuk “Membaca Geliat Penyair Muda Tiga Kota” yang akan digelar di Fakultas Sastra Undip pada 28 April 2007. Acara yang diselenggarakan oleh Keluarga Mahasiswa Sastra Indonesia (KMSI) ini dalam rangka memperingati Hari Chairil Anwar yang hingga saat ini masih menjadi simbol bagi kelahiran para penyair muda.

Diskusi akan menghadirkan penyair muda asal Yogyakarta An Ismanto yang akan menyampaikan proses kreatifnya. Dua pembicara lain, Ahmad Ridho dari Kabut Institute Surakarta dan Adin dari Hysteria Semarang akan memaparkan gerakan-gerakan sastra yang digalang oleh para anak muda. Sementara itu, Aulia Muhammad akan mengupas karya-karya para penyair muda itu secara kualitas dari kacamata pemerhati puisi.

Kontak Panitia
Keluarga Mahasiswa Sastra Indonesia (KMSI) UNDIP
PKM Fakultas Sastra Undip
Jalan Hayam Wuruk 4 Semarang
CP: 081675443300 (Habib)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back To Top