EDSA-ku Sayang, HMJ-ku Malang

Oleh: Lailatul Fitri
Reporter: Nor Ismawati, Nely Restiana,
Dian Hijrianti, Kurniawan P, Yuanita M

Roy terkejut mendapati base camp EDSA yang berantakan dipenuhi peralatan berserakan seperti gudang. Ia tak habis pikir base camp yang dulu didapatkan dengan perjuangan yang tidak mudah, kini beralih fungsi. Di raut mukanya tampak kekecewaan yang bercampur aduk dengan kemarahan. Tampak tangannya meninju, matanya melotot tajam.

Roy, mahasiswa Ekstensi 2001 adalah mantan pengurus inti EDSA periode 2002/2003. Ia menjabat sebagai wakil ketua memperkuat kabinet yang dipimpin oleh Linanda. Saat awal kepengurusannya ia mengajukan ke jurusan agar EDSA memiliki sebuah sekretariat atau base camp.

Sebelumnya EDSA memang tidak memiliki base camp. Rapat-rapat diadakan di ruang kelas atau di emper-emper kampus. Peralatan-peralatan organisasi disimpan oleh masing-masing pengurus. Pada masa kepengurusannya pula EDSA melibatkan mahasiswa dari jurusan ekstensi Sastra Inggris.

“EDSA saat itu ramai. Banyak orang, juga banyak kegiatan. Siang dan malam base camp ini hampir ada yang jaga. Itu semua tidak mudah. Perlu perjuangan yang panjang untuk mendapatkan sebuah base camp, meskipun cuma sepetak sempit itu dan menyatukan mahasiswa reguler dan ekstensi,” ungkapnya saat mampir ke kantor Redaksi LPM Hayamwuruk belum lama ini.
Selain Roy, Ari Nugroho, mantan wakil ketua EDSA periode 2004/2005 juga menyampaikan kekecewaan serupa. Sebagai mantan pengurus yang pernah menghidupkan EDSA, Ari mengaku prihatin dengan kondisi EDSA sekarang.

“Pertemuan ga ada, kegiatan ga ada, bahkan sekedar ngumpul – ngumpul pun ga ada. Lebih parah lagi base camp yang dulu selalu ramai malah jadi gudang yang dekil begitu,” ungkap mahasiswa Sastra Inggris angkatan 2003 itu.

EDSA (English Departement Student Asociation) adalah HMJ Sastra Inggris yang anggotanya terdiri dari mahasiswa Sastra Inggris reguler dan ekstensi. Sejak kepengurusan periode 2006-2007 di bawah kepemimpinan Idris, mahasiswa Sastra Inggris 2004, kegiatan EDSA mulai jarang terlihat, bahkan bisa dibilang tidak terlihat sama sekali. Bahkan Idris, yang menjabat sebagai ketua EDSA sulit ditemui.

Dwi Anna yang menjadi pengurus EDSA periode ini pun mengaku lupa saat ditanya bekerja di bagian apa. Setelah berpikir agak lama akhirnya dia ingat bahwa dia ditugaskan di bagian Bakmi (Bakat dan Minat). Menurut mahasiswi ekstensi angkatan 2004 ini, EDSA memang tidak aktif lagi. Hal ini dibuktikan dengan tidak adanya pertemuan rutin organisasi.

”Pengurus yang masih aktif dalam keorganisasian cuman satu orang, itu pun bukan ketuanya. Yang lain gak tau ke mana” ungkapnya.

Mantan wakil ketua EDSA periode 2005-2006 , Ajen Kurniawan, juga sependapat dengan Dwi Anna. Menurutnya, ketidakaktifan EDSA disebabkan oleh kurangnya koordinasi antar-pengurus dan kurangnya komunikasi antarkepala departemen.

Soal ketidakaktifan kepengurusan EDSA ini, Ari Nugroho tidak sepenuhnya menyalahkan ketua. Menurutnya semua pengurus juga memegang tanggung jawab akan hidup-matinya EDSA. Namun sudah menjadi tugas ketua untuk memimpin rekan-rekannya menjalankan komitmen yang mereka buat saat menjadi pengurus EDSA.

Minimnya pertemuan dan jumlah pengurus yang aktif cuma sedikit membuat base camp EDSA beralih fungsi menjadi gudang Teater EMKA.

“Sebenernya sih dulunya cuma buat nitipin barang dari EMKA, tapi lama-kelamaan jadi keterusan. Tapi kalau kita (EDSA) sudah aktif kembali, kita akan pakai base camp itu lagi”, terang Ajen. Ia juga menambahkan bahwa sebenarnya base camp EDSA memang sudah rusak dan tidak layak lagi.

Bagi Roy base camp itu seperti rumah bagi sebuah keluarga. Ia adalah tempat untuk melepas lelah, tempat untuk berkumpul, dan lebih jauh tempat untuk menyusun masa depan. Maka jika rumah itu tidak dirawat, maka ia mencerminkan pribadi para penghuninya.

Dari pihak EMKA, seperti yang disampaikan Agustinus Reinaldi atau yang akrab dipanggil Ucup, membenarkan bahwa organisasinya menitipkan sebagian peralatannya di EDSA. Ucup mengaku mendengar beberapa komplain dari sejumlah mahasiswa Sastra Inggris yang mengeluhkan basecamp EDSA yang dijadikan untuk gudang EMKA. Namun hingga kini belum ada komplain yang disampaikan secara kelembagaan.

Ucup juga mengatakan bahwa EMKA pernah menaruh peralatannya di WMS karena beberapa waktu base camp WMS kosong tak dipakai untuk kegiatan. Tapi setelah ada yang bilang base camp itu akan dipakai, peralatan-peralatan itu pun segera dibereskan.

“Jika memang ada yang menemui kami dan minta peralatan EMKA di keluarakan karena basecamp mau dipakai, maka kami akan mengeluarkannya. Tapi ya mana, belum ada pengurus EDSA yang menemui kami. Biar saja ini menjadi tamparan. Cari basecamp itu susah,” terang aktivis EMKA dan juga aktif di PRMK ini.

Ari mengaku sesak jika melihat ruangan yang dimana dulu dirinya belajar berbagai hal sekarang menjadi semrawut. Ia sangat menyayangkan kejadian ini. Seandainya base camp sering dipakai, maka tidak akan ada acara titip-menitip barang. Ia berharap kepengurusan sekarang segera merapikan dan memfungsikan EDSA, termasuk pula base camp seperti semestinya.

“Saya mohon teman-teman EMKA dengan kebesaran hati mau segera memindahkan barang-barangnya tanpa menunggu adanya laporan dari pengurus. Base camp itu bukan hanya milik pengurus, tapi juga milik seluruh mahasiswa Sastra Inggris, baik ekstensi juga reguler. Tak hanya itu, mantan pengurus bahkan yang sudah jadi alumni akan sakit melihat base camp menjadi seperti itu,” ungkap Ari.

Komentar yang sama juga disampaikan oleh Roy. Dia ingin base camp EDSA segera digunakan lagi oleh pengurusnya.

Apakah ini bisa diartikan bahwa secara kelembagaan ataupun kepengurusan EDSA sudah tak ada lagi. Jika tidak, bagaimana mungkin basecamp dipakai oleh organisasi lain diam saja tak ada keberatan?

Ketidakaktifan EDSA pada periode 2006-2007 ini membuat sejumlah mahasiswa mengira bahwa EDSA benar-benar sudah mati. Mereka tidak tahu kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh EDSA. Mereka juga tidak tahu siapa yang menjabat sebagai ketua EDSA sekarang.
“Sekarang EDSA tidak pernah bersosialisasi. Sosialisasinya hanya pada waktu awal penerimaan mahasiswa baru”, kata mahasiswi Sastra Inggris yang enggan disebutkan namanya.

Selain EDSA, HMJ Kearsipan sempat vakum sekitar dua tahun. Terhitung sejak tahun 2004-2005 tak ada kepengurusan. Namun kini HMPSD III Kearsipan yang kini menempati kampus Tembalang, sudah aktif kembali di bawah kepemimpinan Rianti.

Berbeda dengan EDSA, ada HMJ baru yang telah lahir dan bersemangat untuk maju. Yaitu HMJ Ilmu Perpustakaan. HMJ yang baru beberapa bulan lalu berdiri ini tidak mau kalah dengan HMJ lain yang sudah ada.

Patut diacungi jempol bagi mereka yang telah memperjuangkan lahirnya HMJ yang di ketuai oleh Adi Surya S ini. Di saat kondisi mahasiswa mulai apatis dengan kegiatan kemahasiswaan, mereka tetap berjuang agar diakui eksistensinya. Ditambah adanya dukungan dan antusiasme yang tinggi dari para anggotanya.Terbukti dari 31 jumlah keseluruhan mahasiswa regular, 22 diantaranya bersedia menjadi pengurus HMJ.

“Dengan adanya HMJ ini diharapkan dapat menaungi kesatuan dan persatuan. Terutama mereka anak jurusan S1 Perpustakaan,“ harap ketua yang baru dilantik tanggal 31 Mei 2007 itu.

Sejumlah mahasiswa S1 Ilmu Perpustakaan juga menaruh harapan yang besar terhadap HMJ baru mereka. “Semoga dengan adanya HMJ baru ini, jurusan kami lebih dikenal oleh seluruh mahasiswa UNDIP dan dapat melakukan kegiatan yang positif,” kata Dina Nur Cahyani.

Senada dengan Dina, Dwi Cahyo Yanuargo, teman seangkatannya ini berharap HMJ baru tersebut dapat menjadi HMJ yang berarti bagi HMJ lain maupun Universitas.
Di saat yang masih baru berjuang untuk diakui, mengapa yang sudah ada tidak memanfaatkan eksistensinya?****

Keterangan gambar: Karena tak digunakan oleh pengurusnya, Base Camp EDSA beralihfungsi menjadi gudang Teater Emka. Foto oleh Erwin Wicaksono

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back To Top