Sandal Jepit, Kaos Oblong dan Birokrasi

Oleh Kresno W

Konon, ketika kita memasuki jenjang perguruan tinggi, kita akan memiliki banyak kebebasan yang tidak kita miliki ketika masih duduk di bangku sekolah. Di antaranya kebebasan berbicara dan kebebasan dari belenggu-seragam.

Berbicara tentang kebebasan, filusuf Jean Paul Sartre pernah mengatakan bahwa manusia dikutuk untuk bebas. Menurut pemahaman saya, bebas di sini adalah bebas untuk mengaktualisasikan diri dan berani bertanggung jawab atas apa yang dilakukan.

Jika benar di pendidikan tinggi (universitas) setiap individu memiliki kebebasan, mengapa ketika mahasiswa hendak memasuki kantor para birokrat kampus, mereka dihadapkan dengan tulisan yang berbunyi “Dilarang memakai kaos oblong dan bersandal jepit“.

Apa salahnya jika seorang mahasiswa pergi ke kampus memakai sandal jepit dan berkaos oblong?

Jika alasannya karena tidak sopan, di mana letak ketidaksopanannya itu? Apakah karena bersandal jepit ke kampus diasosiasikan dengan pergi ke kamar mandi atau WC? Ingat, sandal jepitlah yang melindungi kaki puluhan juta umat muslim di negeri ini dari panasnya aspal ketika mereka hendak menunaikan sholat Jum’at di masjid?

Selayaknya pihak birokrasi kampus sadar dan bijak bahwa tidak ada hubungannya sama sekali antara sandal jepit dengan tingkat kecerdasan seseorang. Di sinilah terjadi sebuah pembelokan. Dari sebuah penghormatan terhadap perkuliahan, menjadi penghormatan terhadap individu birokrasi.

Jika pihak birokrasi merasa terhina oleh mahasiswa yang bersandal jepit dan kaos oblong, maka sebenarnya rasa keterhinaannya itu adalah perasaan pribadi dari para individu birokrasi. Karena sesungguhnya mahasiswa yang memakai sandal jepit dan kaos oblong itu belum tentu ingin menghina orang lain dan berniat untuk mengganggu jalannya kegiatan perkuliahan.

Apalah guna seorang mahasiswa yang berpakaian necis, rapi, dan perlente, tetapi dalam kehidupan bermasyarakat kelakuannya membuat orang lain menjadi jengkel?

Lebih relevan mana “Dilarang Membuang Sampah di Sungai” atau “Dilarang Memakai Sandal Jepit dan Berkaos Oblong di Kampus“?

Larangan yang pertama dapat di terima oleh akal sehat. Bila kita membuang sampah secara sembarangan di sungai akan menyebabkan banjir dan kerusakan ekosistem air sungai yang akan merugikan orang banyak.

Bagaimana dengan larangan yang kedua? Jika memang ada hasil penelitian yang menyatakan memakai kaos oblong dan bersandal jepit di kampus dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin, pasti tidak akan ada yang memakai sandal jepit dan kaos oblong di kampus.

Sangat disayangkan, universitas sebagai barisan terdepan demokrasi justru di dalamnya memberlakukan pembatasan-pembatasan yang tidak logis. Dalam konteks berpakaian, semestinya tidak ada larang-melarang karena hal tersebut merupakan aktualisasi diri yang akan membimbing sesorang menuju kedewasaan, baik itu bagi pemakai ataupun orang yang melihatnya.

Jika batasan akan kesopanan itu sendiri masih problematis, lalu bagaimana mungkin kesopanan yang sifatnya sangat subyektif itu dipakai untuk aturan yang bersifat kolektif?

Saya tak sedang menganjurkan anda untuk memakai sandal jepit maupun kaos oblong. Saya tidak akan memaksa anda untuk menuruti keinginan saya. Jika dengan memakai sandal jepit anda justru merasa tidak nyaman, atau anda merasa lebih percaya diri dengan berkemeja, maka jangan memakai kaos atau sandal jepit. Lakukan saja sesuatu yang membuat anda nyaman.

Sebaliknya jika anda sebenarnya lebih merasa nyaman dengan mengenakan kaos, atau tidak nyaman dengan sepatu, maka anda harus melawan karena merasa nyaman itu adalah hak setiap orang. Jika ada yang merasa tidak nyaman dengan penampilan anda, tanyakan apa alasannya.

Pelarangan sandal jepit dan kaos oblong hanyalah sebuah contoh betapa birokrasi itu sangat membelenggu kreativitas. Karena birokrasi kita harus berperilaku begini dan begitu. Sadarkah kita, hidup dalam lingkaran macam ini otak kita telah dibelenggu. Birokrasi adalah tangan-tangan manusia yang masing-masing punya kepentingan, tidak bersih dari nafsu, ia bukan wahyu yang turun dari tuhan, lalu kenapa harus dikeramatkan. Mari kita melawan!

*Penulis adalah mahasiswa jurusan Ilmu Sejarah 2006. Reporter Newsletter Hawe Pos. Ketua Historian Community (HC), HMJ Sejarah FS Undip.

One thought on “Sandal Jepit, Kaos Oblong dan Birokrasi

  1. Masa kalah sama perusahaan kaya FB atau google yg boleh pake kaos oblong sama celana kolor kalo ngantor

Leave a Reply to Dony_Sulistyardi Cancel reply

Your email address will not be published.

Back To Top