Membaca Ulang Makna Haji dan Pikiran Islam-Komunis Haji Misbach

Menjadi putih tidak melulu tentang kesucian, keikhlasan, kedamaian, kerendahan hati, atau jiwa yang bersih. Kadang kala, warna putih juga melambangkan penjajahan, perbudakan, kekerasan, ketamakan, dan perbedaan kelas. Meski penganalogian Islam terhadap warna putih adalah simbol kebaikan. Namun, di mata Haji Misbach, putih tidak ubahnya setan berjubah manusia—penghasut, penjahat, pengacau, pengisap, dan segala hal yang berhubungan dengan londo.

Pada awalnya, penyematan gelar haji digunakan Belanda untuk mempermudah pengawasan orang-orang Indonesia yang kembali dari tanah suci. Belanda melakukan hal tersebut karena ketakutannya pada jemaah haji yang seringkali bertindak revolusioner sepulang melaksanakan ibadah haji di Tanah Haram.

Pada masa-masa tersebut, haji tidak bisa dilihat sebagai ritual ibadah semata, tetapi juga ajang bertukar informasi, strategi, serta gagasan keagamaan maupun kebangsaan. Pertemuan massal muslim seluruh dunia ketika berhaji merupakan momentum yang tepat untuk menggalang solidaritas atau ukhuwah islamiyah dalam melawan kolonial yang menindas. 

Tradisi perlawanan agamawan inilah yang coba terus dirawat oleh Misbach sepulangnya berhaji. Ia bahkan secara sadar menggabungkan dua mimpi buruk kolonialisme sekaligus, yakni islamisme dan komunisme.

Memaknai Haji Melalui Perspektif Islam-Komunis

Bagi Misbach, berhaji tanpa dilandasi dengan semangat dan kesadaran komunisme tidak lebih dari penyempurnaan rukun Islam bagi seorang muslim.

Betapa egaliternya ibadah haji tatkala seluruh jemaah harus mengenakan pakaian ihram yang sama. Lewat pakaian ihram, sifat angkuh dan egois yang ada dalam diri manusia terkubur dalam-dalam. Tak peduli seberapa tinggi jabatan, status, dan gelar yang dimiliki, pakaian ihram tetaplah sama untuk masing-masing jemaah. Meminjam istilah Mas Marco, “Sama rasa, sama rata”.

Dok.Hayamwuruk/Albertus

Islam dan komunis sama-sama mengajarkan pengikutnya untuk tidak membeda-bedakan manusia. Semuanya sama di hadapan Allah, kecuali tingkat ketakwaannya, Inna Akramakum Indallahi Atqaakum (Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa).

Setelah kesadaran akan persamaan itu muncul, maka langkah selanjutnya adalah bergerak, sebagaimana yang tergambarkan dalam pelaksanaan Sa’i. Sai merupakan simbol keteguhan sekaligus kepasrahan seorang hamba kepada Allah yang direpresentasikan dengan berlari-lari kecil sebanyak tujuh kali dari bukit Safa ke Marwa. Sa’i mengharuskan setiap jamaah untuk bertindak gesit, cekatan, dan terus bergerak sampai titik yang dituju. Sebagaimana Siti Hajar yang tak kenal lelah bergerak mencari seteguk air di gersangnya padang pasir.

Bergerak merupakan esensi dari keberadaan seorang manusia. Melawan semua jenis thaghut yang membuat manusia jumud dan menjauh dari esensinya. Dengan bergerak dan bekerja, manusia memanfaatkan seluruh anugrah yang Allah berikan kepadanya, baik itu akal budi, keterampilan, maupun pengetahuan.

Lalu sesampainya di Mina, jamaah haji akan berangkat menuju Jamarat untuk lempar jumrah di tiga tempat, jumratul ula, wustha, dan aqabah. Melempar jumrah menjadi simbol permusuhan abadi terhadap setan laknatullah. Setan yang senantiasa berusaha menjauhi manusia dengan Tuhannya, membuat manusia lupa diri sehingga menjadi sombong, tamak, cinta dunia, serta saling mengeksploitasi dan menumpahkan darah.

Islam telah memperingatkan manusia untuk tidak hidup bermegah-megahan dan berpikir bahwa kekayaan akan mengekalkannya di dunia. Islam tidak melarang umatnya menjadi kaya. Namun, Islam melarang umatnya untuk berlebih-lebihan atau melampaui batas.

Sederhananya, dengan bersikap berlebih-lebihan akan memunculkan ketidakberdayaan dan ketertindasan pada pihak yang lain. Dalam konteks kapitalisme-komunisme, kaum proletar selalu menjadi pihak yang dilemahkan akibat eksploitasi berlebih yang dilakukan kaum kapitalis. Kaum proletar tidak pernah menerima upah yang sebanding dengan nilai yang mereka hasilkan, sedangkan para kapitalis terus-menerus memperkaya dirinya sendiri.  

Perlawanan Nyata Haji Misbach terhadap Setan Berjubah Manusia

Muhidin M. Dahlan mendefinisikan tiga setan yang bersekutu dalam prosesi lempar jumrah yang dilakukan Misbach ketika berhaji dengan, (1) pemerintah kolonial yang zalim, (2) kapitalisme yang jahat, (3) agamawan lamisan.

Ketiga setan tersebut yang konsisten Misbach lawan bahkan setelah selesai berhaji. Setan yang selalu menindas dan membebani masyarakat kecil dengan kerja paksa, upah yang kecil, dan pajak yang tinggi.

Haji Misbach menjadi mubaligh merah sekaligus propogandis muslim paling kaffah dalam menyuarakan hak-hak kaum proletar. Misbach bahkan tak segan menyebut pemimpin-pemimpin Islam sebagai Islam lamisan atau Islam munafik karena enggan bergerak bersama masyarakat yang tertindas.

Keberpihakan Misbach kepada buruh dan tani ini dibuktikan ketika ia berhasil menggerakan aksi pemogokan di beberapa perkebunan milik Belanda. Ia mengagitasi petani agar “jangan khawatir” dan “jangan takut” melakukan aksi pemogokan. Agitasi ini berhasil membangkitkan gairah perlawanan dan pemogokan petani ke berbagai daerah Karesidenan Surakarta.

Selain mengagitasi petani secara langsung, Misbach juga aktif menuangkan keprihatinannya pada kaum tani melalui surat-surat kabar. Ia pernah menyerukan supaya kaum tani mau berperang melawan kapitalisme dan kolonialisme. Dasar dari seruannya tersebut berasal dari perintah Allah yang mewajibkan umat muslim untuk menolong siapa saja yang tertindas.

Konsep perlawanan radikal ini didapatkan Misbach dari bacaan-bacaan bertema komunisme. Menurutnya, cara-cara perlawanan yang ditawarkan oleh komunisme untuk membebaskan rakyat dari belenggu kolonialisme dan kapitalisme cukup efektif dilakukan.

 Konvergensi Islamisme dan Komunisme ala Misbach

Sebagai mubaligh merah, Misbach sangat mencintai Nabi Muhammad sekaligus mengidolakan Karl Marx. Keduanya mempunyai kesamaan misi yang jelas, yaitu memperjuangkan penghapusan kelas dan berpihak ke kaum mustadh’afin atau proletar. Ia menggunakan dua pemikiran ini sebagai alat pemberontakan melawan sistem kapitalis yang menindas dan memeras.

Meskipun Haji Misbach seorang muslim yang taat, ia tidak segan mengkritik perilaku umat Islam di sekitarnya. Ia keras menuding para haji atau orang yang belajar islam, tetapi ilmu agamanya tidak cukup mendalam, membiarkan wibawanya hilang di hadapan birokrat, bahkan sampai ada agamawan yang menjadi alat pemerintah kolonial dalam melanggengkan pengisapan.

Muslim berlabel munafik inilah yang dikatakan Misbach jauh lebih berbahaya ketimbang penguasa zalim dan kapitalis yang jelas-jelas musuh bersama.

Dengan kata lain, Misbach ingin agar seluruh muslim bergerak di jalan Allah. Predikat Baldatun Thoyyibatun Wa Rabbun Ghofur (Negeri yang baik, makmur , sejahtera, dan dirahmati Allah) haruslah diusahakan secara kolektif dengan penuh kesadaran serta semangat komunisme, persamaan dan perjuangan kelas.

Dalam tulisannya di Medan Muslimin, ia menyebut bahwa Tuhan menyuruh melakukan kebaikan dan melarang melakukan kebusukan agar semua manusia mendapat keselamatan. Larangan melakukan kebusukan yang dimaksud Misbach disini, tidak lain dan tidak bukan adalah bersekutu dengan tiga setan laknatullah yang ia lawan mati-matian ketika dan pasca prosesi lempar jumrah.

Terakhir, hiduplah umat Islam sedunia bersatu!

Penulis: Raihan Imaddudin (Kontributor)
Editor  : Farhan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top