Masa Depan Sebuah Masa Lalu

Oleh Heri C Santoso*

Tabloid Hawe Pos, Edisi 14/Mei/2006
Rubrik Refleksi


…tapi kerja belum selesai

kita belum apa-apa.

(Chairil Anwar)

Seiring melenggangnya sang waktu, tak terasa kita telah sampai di penghujung hari ini. Siapapun akan bertanya pada diri sendiri, apa yang telah dilakukan sampai dengan detik ini. Apa yang telah diperbuat selama 24 jam, 30 hari, 4 minggu, bahkan 12 bulan yang lalu?
Prestasi membanggakan apa yang telah kita persembahkan bagi eksistensi kita, atau paling tidak pernahkah kita melakukan sesuatu yang membuat orang lain bersimpatik pada kita?
Apakah kita mampu berbuat sesuatu yang nyata. Apakah kita sudah berbuat sesuatu yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan diri dan lingkungan di mana kita berada. Jika jawaban kita tidak, alangkah teramat pecundangnya diri kita ini. Alangkah pecundangnya kita selama ini.
Selama ini kita terlalu banyak omong, mungkin. Kita terlalu banyak membual kepada diri kita sendiri. Tanpa tahu apa yang sebenarnya kita bualkan. Dan ujung-ujungnya menjadi manusia berkepribadian yang tak konsisten. Tak tepat waktu, tak menjalankan tugas dengan baik, tak menyadari kesalahan yang diperbuat, dan tentunya diri kita malah sering menyalahkan orang lain. Dan semua itu menjadi sebuah masa lalu yang terpendam. Masa lalu yang kelam.

Bisaha rumangsa aja rumangsa bisa
Satu yang menjadi catatan kami, perjalanan di sini masih tertatih-tatih. Untuk berjalan laiknya manusia saja sukarnya bukan main. Apalagi jika kita mesti berlari untuk mengejar matahari kehidupan yang teramat jauh meninggalkan kita. Kita seolah tak bisa berbuat banyak pada ruang dan waktu.
Pernahkah, Anda mendengar kisah lama pada zaman dulu, seekor lembu yang gagal melewati Jendela. Pada zaman dahulu manusia itu seperti halnya seekor lembu yang melewati jendela; tanduk, kaki dan tubuhnya berhasil melewati dengan mudahnya. Akan tetapi justru bagian tubuhnya yang paling kecil malah luput keluar. Ekornya tersangkut, membuat si Lembu tak bisa leluasa keluar.
Demikian juga manusia, ia kerapkali menganggap sesuatu yang sepele itu menjadi pekerjaan yang mudah. Padahal sesuatu yang mudah itu justru pangkal dari sesuatu yang serba menyusahkan. Kita hanya menjadi manusia yang ngresula, semaunya sendiri tanpa melihat sisi lain dalam dirinya.
Kita terlalu mengurusi sesuatu yang sepele tapi malah melupakan sesuatu yang besar. Seperti falsafah Jawa kita mesti bisaha rumangsa aja rumangsa bisa. Menyadari jika dalam diri ini bersemayam keterbatasan.

Keberanian meng’ada’
Sebagai kata kerja, “mengada” bermakna secara aktif hadir pada saat sekarang dan bersentuhan secara utuh dengan apa yang ada di sini, saat ini (living in the present moment). Setiap saat kita mengalami sesuatu, maka salah satu dari dua hal akan muncul, yaitu: kita mengada bersamanya atau menolaknya.
Mengada bersamanya berarti kita menceburkan diri ke dalam pengalaman itu, mengalaminya. Bila kita memilih untuk hadir mengada bersama sesuatu saat sekarang, maka di dalam diri kita akan muncul kekuatan batin murni yang menumbuhkan kreativitas dalam memenjarakan masa lalu menuju masa depan
Namun cukup menggelikan bahwasanya kita sebagai manusia sosial, jarang sekali membiarkan diri kita meng’ada’ dan mengalami, memaknai kekinian masa depan hidup.
Hampir selalu kita menolaknya, mencoba memanipulasi atau berharap bukan itu yang terjadi. Sedari kanak-kanak, kita telah belajar untuk menolak pengalaman yang dirasa tidak menyenangkan. Karena masih sangat peka dan polos, kita begitu saja berpaling dari hal-hal yang menimbulkan perasaan tidak senang. Ini berarti secara alami kita telah belajar menutup diri pada lingkungan.
Seperti halnya masa lalu yang telah kita tinggal. Ia kerapkali selalu membayang dalam ayunan langkah kaki kita. Dan celakanya kenapa ruang dan waktu itu mesti kita rekonstruksi dalam setiap perhelatan pergantian waktu. Apakah memang dimensi ruang dan waktu itu hanya dimaknai dengan pergantian tahun semata. Bereuforia dengan masa lalu, lewat terompet panjang, keindahan kembang api, dan kenangan tahun baru yang akan tiba. Begitu sempitkah waktu dan teramat luasnya pelapisan daur kehidupan manusia.
Dan ujung-ujungnya masa lalu yang sebenarnya adalah masa depan kita yang selalu tampak muram. Ketimbang apa yang sebenarnya selumrahnya. Untuk itu masa lalu itu memang mesti kita kubur dalam-dalam bersama masa depan. Setidaknya sebagai lompatan kehidupan. Ya, sekadar pelompatan, itu saja tidak lebih
Masa lalu yang selalu menyitir kita pada akhirnya mengantarkan pada, menyitir sajak si Binatang Jalang ….kerja belum selesai/ kita belum apa-apa.

*
Penulis adalah pegiat LPM Manunggal Undip, mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia 2002.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top