Masalah Tak Kunjung Padam

Meski KKL telah lama menjadi program wajib, masalah yang sama selalu muncul.

Oleh Ana Royani
Reporter: Ida Fatima, Wahyu Riyatri, Zumala

Hawe Pos Edisi 16/V/Juni 2006
Rubrik Akademika
ADA banyak metode belajar di perguruan tinggi. Di antaranya, kuliah dalam kelas, seminar, simposium dan kegiatan ilmiah lain yang disertai praktik lapangan. Salah satu kagiatan ilmiah tersebut adalah Kuliah Kerja Lapangan (KKL). KKL yang berbobot 2 SKS ini merupakan matakuliah wajib tempuh bagi semua jurusan dan program studi, tak terkecuali Jurusan Sastra Indonesia (Sasindo) FS Undip. Karena itu, 4 sampai 8 Mei 2006 kemarin, jurusan ini berangkat ke Jakarta untuk memenuhi kewajiban tersebut.


KKL yang mengacu SK rektor tanggal 3 Maret 1984 No 41B/SK/PT09/1984, bukan merupakan matakuliah tersendiri. Bagi Sasindo, KKL bagian dari matakuliah Metodologi Penelitian (MP). Jadi, KKL Sasindo selalu dilaksanakan pada semester 6 saat pengambilan matakuliah MP. Sedangkan bagi DIII, KKL wajib diikuti karena merupakan syarat kelulusan. Biasanya dilaksanakan pada semester 4. KKL DIII mengacu SK rektor 30 Juni 1987 No 99/SK/PT09/1987.

Objek kunjungan mahasiswa Sasindo tentu disesuaikan dengan beberapa matakuliah yang dipelajari. Di Pusat Dokumentasi (PD) HB Jassin, mereka melihat-lihat dokumentasi Sastra Indonesia serta bincang-bincang singkat tentang sejarah PD HB. Lalu, Pengamatan manuskrip di Perpustakaan Nasional (PNRI) untuk seksi Filologi.

Mereka juga berkunjung ke Balai Bahasa, tanya jawab tentang kebahasaan; Universitas Negeri Jakarta (UNJ), seminar UU PP berkait dengan sastra; dan Kampung Betawi untuk tanya jawab budaya Betawi. Selanjutnya kunjungan ke RCTI, nonton konser Ratu dan Naif; dan Indosiar, menjadi bagian peserta acara Benar-benar Mabok (BBM). Terakhir, mampir ke Dunia Fantasi (Dufan), 

Cihampelas dan Cibaduyut.
Dalam melaksanakan KKL, mereka tak dilepas sendiri. Ada dosen pembimbing yang setia mendampingi. Mereka adalah Drs Mohammad Muzakka M Hum, seksi Filologi; Drs Suharyo M Hum, Linguistik; dan Drs Yudiono KS, Sastra. Kata Yudiono, tugas Pembimbing adalah, ”…secara formal sebagai kulonuwun ke setiap instansi yang kita kunjungi dan informalnya, ya memantau anak-anak dalam pelaksanaan KKL tersebut.”

Namun, Wiwin Ismayanti berkata lain, “Dosen pembimbing cuma mengantar saja. Kemarin itu nggak ada pencerahan saat sesudah mengunjungi instansi yang kita kunjungi. Kemarin itu dosen cuma diam saja dan nggak ngomong apa-apa,” keluhnya.
Hal senada juga dikatakan Mellati. “Kemarin itu dosen nggak nglakuin apa-apa. Cuma dampingi tok.”

Suharyo membenarkan komentar mereka. “Seharusnya itu, proses dialog, yang idealnya sih begitu, dan ada diskusi kecil tapi kemarin itu tidak terjadi hal seperti itu.”
Seperti KKL sebelumnya, kali ini pun tak luput dari komentar miring rekreasi. Dufan dan perjalanan ke Bandung, Cihampelas dan Cibaduyut contohnya. Menanggapi hal itu, Muzzaka berkomentar. “Lha itu kan sampingan. Kita juga tahu sendirilah yang namanya mahasiswa kan juga butuh hiburan. 70 banding 30. KKL-nya 70, hiburannya 30.”

Nur Rohman, ketua panitia, beranggapan bahwa rekreasi juga penting. “Agar mahasiswa lebih fun dan tidak boring,” katanya.

Selanjutnya, Muzakka mengatakan bahwa KKL kemarin berjalan cukup baik meski belum maksimal. Hal yang sama diungkapkan oleh Suharyo. KKL kemarin masih banyak menonjolkan kesenangan.
Berbeda dengan mereka, Yudiono mengatakan KKL kemarin sukses. “Sukses dalam arti bermacam aspek, seperti transportasi lancar, mahasiswa tidak ada yang sakit, semua objek berhasil dikunjungi dan sambutan pengelola instansi sangat menyenangkan,” tegas Yudiono.

Permasalahan lain juga mewarnai KKL ini. Rohman mengeluh tentang dana. “Hanya masalah pencairan dana yang sulit. Birokrasi yang sulit ditembus,membuat sulit pencairan dana. Padahal itu uang mahasiswa sendiri. Lebih baik tidak ada PRKP kalau dipersulit begitu. Bahkan, kami harus mengganti materai karena ada kesalahan sedikit,”,ujarnya.

Berkait dengan itu, Muzakka menjawab, “Jangankan mahasiswa, dosen saja susah. PRKP itu masuknya ke kas negara.”

Selain dana, masalah lain adalah kurangnya koordinasi. Rapat sering diadakan saat mahasiswa seksi Sastra dan Filologi kuliah. Karena sebagian besar panitia berasal dari seksi linguistik. ”Pada saat pembekalan saja saya tidak ikut karena sedang ada kuliah,” kata Wiwin.
“Kemarin itu kebetulan semua panitia dari seksi linguistik, Jadi terjadi salah pengertian terutama dari filologi,” Kata Mellati menanggapi komentar Wiwin.

Namun demikian, segi positif tetap ada. “…kita dapat sesuatu dari itu. Nambah pengetahuan juga. Misalnya kita ke HB Jassin, jadi tahu HB Jassin di mana letaknya dan koleksi-koleksinya apa saja. Setidaknya kita tahu tempatnya lah…”.kata Mellati.

KKL selanjutnya, Muzakka mengutarakan usulannya. “Sebaiknya lebih difokuskan pada satu tema tertentu. Masing-masing seksi itu harus merumuskan sendiri tentang apa yang harus dibidik, apa yang harus diamati, diteliti oleh peserta.”

Satu pesan terakhir dari Suharyo. “Program KKL harus disetting jauh-jauh hari agar tidak mengalami kendala..”

Memang kendala akan selalu muncul. Namun setidaknya masalah yang sama tak perlu berulang, karena permasalahan KKL kali ini telah dialami KKL sebelumnya. Selanjutnya,, masalah seperti itu tak perlu terjadi dalam pelaksanaan KKL mendatang.****

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top