Meninjau Kembali Etika Melakukan Wawancara

oleh Achmad Dwi Afriyadi

Sebelum berbicara tentang wawancara, pastilah muncul beberapa pertanyaan tentang beberapa hal tentang wawancara. Di antara pertanyaannya, paling tidak muncul pertanyaan tentang apa itu wawancara, apa tujuannya, berapa jenis wawancara, dan bagaimana etika wawancara yang benar. Mengutip dari Wikipedia, wawancara merupakan suatu metode pengumpulan berita, data, atau fakta di lapangan. Prosesnya bisa dilakukan secara langsung dengan bertatap muka (face to face) dengan narasumber. bisa juga dilakukan dengan tidak langsung melalui telepon, internet atau surat (wawancara tertulis). Caranya pun banyak, untuk mendapatkan berita, data, atau fakta di lapangan, pencari berita/wartawan bisa menggunakan beberapa metode. Ada yang menggunakan wawancara bebas, konferensi pers, dan ada juga wawancara khusus/ekslusif.

Wawancara bebas adalah wawancara yang dilakukan untuk memperoleh keterangan, konfirmasi atau pandangan narasumber tentang suatu masalah. Sifatnya bebas, tidak terikat waktu dan kondisi tempat. Berbeda dengan konferensi pers yang mengandung pengertian acara khusus yang dibuat sebagai sarana untuk mengumumkan, menjelaskan, mempertahankan atau mempromosikan kebijaksanaan dengan maksud untuk mengukuhkan pengertian dan penerimaan publik pada pihak pemrakarsa acara. Tujuan utama konferensi pers adalah untuk mewujudkan keinginan pemrakarsa menyampaikan pernyataan atau informasi oleh organisasi atau individu dengan mengundang media massa agar datang dan meliput dengan harapan berita akan disiarkan seluas-luasnya. Berbeda lagi dengan wawancara khusus/ekslusif, yaitu wawancara yang dilakukan seseorang wartawan atau lebih (tetapi berasal dari satu media) secara khusus berkaitan masalah tertentu di tempat yang telah disepakati bersama. Dari ketiga cara wawancara itu, semuanya memiliki aturan dan kriteria yang berbeda.

Berkaitan Etika Wawancara

Pengalaman wawancara yang saya lakukan sebagai wartawan LPM Hayamwuruk untuk mendapatkan berita tentang seminar “Indonesia Mengajar” yang diadakan oleh BEM Fakultas Ilmu Budaya Undip, Jumat 15 April 2011. Dapat dikatakan ini adalah acara besar yang pertama kali diadakan oleh Fakultas Ilmu Budaya Undip pasca perpindahan dari kampus bawah ke kampus atas, Tembalang. Pembicara yang datang adalah Anies Baswedan, Rektor Universitas Paramadina dan penggagas Indonesia Mengajar, namanya tentu tidak asing lagi. Tak heran, pengunjung pun membludak hingga memenuhi gedung Prof. Soedarto, SH.

Acara ini terbilang sukses, selain pengunjungnya membludak, yang hadirpun merasa terpuaskan oleh jalannya acara. Tetapi, kepuasan tidak berpihak kepada kami, para pencari berita yang ingin mendapatkan berita lebih melalui konferensi pers. Setelah acara selesai, seperti biasa saya dan seorang rekan menunggu waktu konferensi pers dilaksanakan. Beberapa menit menunggu ternyata tidak ada kabar dari panitia kapan konferensi pers berlangsung. Akhirnya saya tanyakan hal ini kepada panitia acara. Saya pun menunggu lagi untuk beberapa menit, panitia pun menginformasikan bahwa konferensi pers dilaksanakan di ruangan belakang panggung. Lantas apa yang terjadi? Disana tidak ada konferensi pers, yang ada hanya season pengambil foto, tanda tangan, dan beberapa orang pencari berita yang sudah lama mendekati, bersiap-siap meninggalkan tempat. Anies Baswedan juga terlihat lelah dan tergesa-gesa meninggalkan tempat untuk istirahat, mungkin merasa sudah melakukan konferensi pers. Pertanyaannya? Bukankah pemberitahuan tentang media untuk meliput baru saja diinformasikan? Saya heran, rekan saya heran, wartawan yang masuk bersama saya yang diketahui adalah wartawan salah satu media juga heran. Pencari berita yang sudah bersama dengan Anies Baswedan sejak tadi sudah melakukan wawancara khusus sebelum konferensi pers. Ternyata setelah diselidiki, yang baru saja melakukan wawancara adalah beberapa orang dari LPM universitas, yang tanpa saya sebutkan pasti pembaca sudah tahu. Saya, rekan saya, dan wartawan dari beberapa media tersebut akhirnya memutuskan untuk membicarakannya di belakang. ”Mana konferensi persnya? wah tadi itu sepertinya pemboikotan berita”, batin saya.

Akhirnya saya berdiskusi dengan rekan saya, apakah tindakan tersebut boleh dalam dunia jurnalis? Apakah ini etika yang benar dalam melakukan wawancara? Ternyata dari hasil diskusi yang kami lakukan, untuk wawancara khusus seperti ini harusnya dilakukan setelah konferensi pers dan itupun setelah terjadinya kesepakatan, tidak seenaknya sendiri, apalagi yang diwawancarai adalah orang yang mempunyai nama besar. Saya kembali berfikir ulang, bagaimana melakukan wawancara khusus ketika berada dalam suatu acara. Dan dari berbagai sumber yang saya dapat, ternyata benar, bahwa setidaknya dalam wawancara khusus apalagi ketika berada di suatu acara, haruslah dilakukan seusai konferensi pers, dan itupun dengan persetujuan dengan pihak yang akan diwawancarai. Apakah LPM universitas ini paham dengan apa yang dirasakan pencari berita yang lain?

Saya pun melakukan konfirmasi dengan panitia yang juga selaku ketua BEM apakah ada konferensi pers atau tidak. Dia menjawab, memang panitia menyediakan waktu dan tempat untuk konferensi pers, tapi manajemen dari Anies Baswedan tidak menyanggupi untuk melakukan konferensi pers. Dan pernyataan itu saya ketahui sore, beberapa jam setelah acara usai. Sungguh saya bertambah kecewa karena tidak mendapat berita yang lebih lengkap. Belum lagi perasaan kecewa ketika menunggu lama untuk konferensi pers dan ternyata berita sudah habis karena pembicara terburu-buru meninggalkan tempat. Saya dan media lain harus menunggu aba-aba konferensi pers, namun LPM universitas ini sudah kenyang mendapatkan berita. Apakah wartawan harus menyerobot seperti itu ketika berada dalam suatu acara yang idealnya merupakan konferensi pers? Semoga lain kali lebih bijak dalam mengambil keputusan, sehingga tidak ada pihak dirugikan apalagi pembicaraan di belakang.

sumber gambar: klik di sini

*penulis adalah salah satu anggota LPM Hayamwuruk periode 2009/2010

One thought on “Meninjau Kembali Etika Melakukan Wawancara

  1. mamad sayang, maaf aku sekaligus balas sms-mu. ke pertanyaanmu, apakah boleh wawancara sebelum pers konferensi diadakan? jawabnya boleh. tidakkah dilarang, siapa yang melarang? kalau pertanyaannya etis atau tidak, nah ini perkara lain. menurutku, untuk masukan buat temen2 hawe saja, lain kali siapkan plan a, plan b. jangan maju dengan hanya satu rencana.

    mengetahui acara seminar yg diadakan bem itu memang besar, maka kalian cari tau dulu info sebelum hari h. siapa narsumnya, nanti format diskusinya apa, yang akan dibicarakan apa, sampai ke profil pembicaranya, jadi kalian sudah tahu isu apa yang menarik untuk ditanyakan ke narsum nanti. persoalan panitia tak mau kasih bocoran, ini soal kalian menembus narasumber, panitia dalam hal ini bagian dari lingakaran sumber. kalau panitia sama-2 teman saja nggak bisa, bagaimana kalau even ini dihandle oleh orang luar. nggak bisa dengan satu panitia, cari panitia lain, kalau mungkin panitia yang kalian temui memang lagi repot, atau memang personal yang kurang gaul. bisa juga, mungkin loh, komunikasi kalian yang kurang bagus.

    jika sebelum acara sudah ada briefing antara panitia dan para wartawan, dan sudah ada kesepakatan, baiknya memang mematuhi kesepakatan bersama. jadi etis dan tidak etisnya di sini. jadi kalau sudah ada kespakatan, karena kalau semua minta jatah, sementara waktunya mepet, jadi wawancara hanya bisa rame2. nah kalau ada yang nyelonong, entah karena tidak tahu, atau mereka memang tau, dan ini tak etis. ya hukumnya moral tadi, sesama teman. bisa jadi, gara2 narsum sudah diwawancarai, dia merasa tak perlu lagi untuk gelar jumpa pers.

    lain kali, kalau model acara begini, kalian korek dulu dari panitia, mengenai apa acaranya, siapa pembicaranya, dan untuk tahu profil pembicaranya, bisa cari tahu sendiri. sebelum acara, malamnya pembiucara nginep di mana, kalian bisa samperi, kalau kalian bisa secanggih ini, wawancaranya bisa lebih rileks, tentu bukan semata2 mengejar info aktual, ini kebanyakan yang dikejar wartawan harian, berita aktual, bukan isu dibalik isu, nah krucil hawe lebih keren, bukan sekedar wartawan konperensi pers, kalaupun hanya punya waktu di konferensi pers, siapakan pertanyaan yang tajam, bagaimana agar bis adapat waktu bertanya, ya itu soal kemampuan personal kalian, dan apa yang dilakukan mamad ini, sudah merupakan satu latihan. jadi tetep semangat!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top